MUTIARA EDUKASI
Membelajarkan Diri Menjernihkan Hati Mencerahkan Pikiran
Minggu, 01 Februari 2026
Yaumul Milad Teruntuk Diriku
Kamis, 01 Januari 2026
Buang Rencana Tahunan Anda
Buang Rencana Tahunan Anda
📙 Saya pikir perlu dan ada baiknya kita simak ulang postingan video #AniesBacaBuku dalam pembahasan buku: "The 12 Week Year", karya: Brian P. Moran dan Michael Lennington berikut ini. Mumpung masih di awal tahun.
🔻Buang Rencana Tahunan Anda
#PesanAwalTahun:
Kamis, 25 Desember 2025
Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa
Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa
Mokh.
Ngisom Musurur
Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (ta’lim), melainkan
upaya sistematis dan proses penanaman nilai dan pembangunan akhlak dan adab (tahdzib/ta’dib).
Dalam konteks Indonesia yang berketuhanan dan berbudaya luhur, esensi
pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya —insan kamil— yang di
dalamnya memiliki husnul khuluq (akhlak baik), matinul khuluq
(akhlak kokoh), akhlaqul karimah (akhlak mulia), serta ketinggian dan
keluhuran adab semakin mendesak untuk dibangun. Namun, realitas hari ini
menunjukkan fenomena mengkhawatirkan dan tantangan besar: krisis nilai dan
darurat adab di kalangan murid. Tulisan ini berangkat dari kerisauan bahwa
pudarnya adab murid bukan sekadar dekadensi moral dan rapuhnya adab di sekolah,
melainkan ancaman bagi fondasi peradaban bangsa. Menyelamatkan adab sebagai ruh
utama pendidikan murid merupakan prasyarat strategis menyelamatkan generasi
yang akan memegang tongkat estafet pembangunan peradaban bangsa yang luhur dan
berkemajuan kini dan di masa depan.
Fenomena
Degradasi Adab Murid dalam Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Degradasi
adab murid tampak nyata dalam tiga lingkaran dan ruang utama pendidikan. Di
lingkungan keluarga, relasi anak dan orang tua kerap kehilangan nilai takzim,
hormat, dan bakti. Di sekolah, kita menyaksikan fenomena ketidakhormatan dan
tiadanya penghargaan murid kepada guru. Mereka mengabaikan adab sebagai pintu
masuknya ilmu yang bermanfaat dan berkah. Guru sering diposisikan semata-mata
sebagai penyampai materi, bukan figur teladan yang dimuliakan. Di masyarakat, budaya
tata krama, sopan dan santun berinteraksi kian memudar, digantikan oleh kenekatan
tanpa moral dan etika. Sebagian murid menunjukkan sikap arogan, menyepelekan,
malas, dan tidak peduli. Ini bukan semata kesalahan individu murid, melainkan
kegagalan kolektif dalam menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Hal ini
bertentangan dengan tradisi keilmuan klasik, di mana para ulama Salafus Shalih
menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu. Abdullah bin al-Mubarak
berkata, “Kami belajar adab sebelum belajar ilmu.” Fenomena ini adalah
alarm tanda bahaya. Ketika seorang murid tidak lagi memiliki "rasa
malu", "rasa hormat", beban mora, maka ilmu yang mereka serap
hanya akan menjadi sarana untuk memuaskan syahwat intelektual tanpa panduan nurani
dan tindakan destruktif. Ini adalah awal dari hilangnya keberkahan dalam
kehidupan berbangsa.
Evaluasi
Sistem Pendidikan: Pengabaikan Adab dan Keteladanan Akhlak Mulia
Sistem pendidikan kita kerap terjebak
pada paradigma materialistik-instrumental, yang mengukur keberhasilan hanya
dari angka-angka ujian dan capaian kognitif semata. Mengedepankan formalitas
daripada integritas, mementingkan eksistensi dibanding esensi, menonjolkan
semunya prestasi daripada substansi. Muatan adab dan akhlak sering kali hanya
menjadi "pelengkap" dalam buku teks, bukan sebagai ruh yang
menghidupi seluruh proses pembelajaran. Nilai-nilai akhlak dan keteladanan
sering kali sekedar menjadi slogan normatif dan lemah dalam proses
internalisasi yang mendalam. Padahal, para pendiri bangsa kita seperti Ki Hadjar
Dewantara menekankan among system: pendidikan sebagai proses
memimpin dengan keteladanan, kasih sayang, dan pengabdian serta menuntun
kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. K.H. Hasyim Asy’ari dalam
Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim secara khusus merumuskan etika guru
dan murid. Beliau menegaskan bahwa rusaknya adab murid berawal dari hilangnya
adab guru dan sistem yang abai terhadap nilai. K.H. Ahmad Dahlan mempraktikkan pendidikan
yang menyatu dengan amal dan akhlak.
Saat keteladanan guru dan integritas
moral lembaga pendidikan memudar, maka yang tersisa hanyalah bangunan ilmu yang
rapuh tanpa fondasi adab. Hal ini mengharuskan kita melakukan evaluasi jujur
terhadap sistem pendidikan kita. Guru tidak boleh hanya sekadar operator
kurikulum, melainkan uswatun hasanah (teladan yang baik) dan melakukan ta’dib
atau proses usaha membangun adab. Jika sistem hanya menuntut penyelesaian
materi tanpa memberikan ruang bagi internalisasi nilai, maka sekolah tak
ubahnya pabrik yang memproduksi mesin-mesin cerdas namun tak berjiwa. Minimnya
keteladanan dari orang dewasa di sekitar murid memperparah situasi ini,
menciptakan kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dengan
kenyataan di lapangan.
Urgensi
Adab Sebelum Ilmu dalam Perspektif Pendidikan
Prinsip ini adalah warisan agung
peradaban dalam pendidikan, pembelajaran, dan menuntut ilmu. Melalui tradisi
dan sejarah para Salafus Shalih telah memberikan panduan baku bahwa adab
sebelum ilmu. Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, “Belajarlah
kalian adab sebelum mempelajari ilmu,” menjadi pedoman utama. Imam Malik rahimahullah
pernah berpesan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu
ilmu." Mengapa? Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan
kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu adalah kelemahan. Imam al-Ghazali
menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang
kotor. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan karya-karyanya menunjukkan betapa
ketulusan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada guru menjadi kunci
keberkahan ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan,
“Siapa yang tidak beradab, niscaya tidak berilmu.” Beliau secara khusus
menulis bahwa kegagalan murid dalam meraih manfaat ilmu bukan karena kurangnya
kecerdasan, melainkan karena hilangnya adab terhadap ilmu dan ahlinya. KH.
Hasyim Asy’ari melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim mengingatkan
bahwa integritas seorang pelajar terletak pada keseimbangan antara olah rasa,
olah karsa, dan olah pikir. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata
penghancur di tangan orang yang salah. Syed Muhammad Naquib al-Attas
mendefinisikan Pendidikan sebagai ta’dib—proses penanaman adab
dalam diri manusia. Adablah yang mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan, mencegah
penyalahgunaan, dan menjadikan pemiliknya rendah hati (tawadhu’). Dalam konteks
kebangsaan, Ki Hajar Dewantara dengan konsep "Budi Pekerti". Mohammad
Natsir juga kerap menekankan bahwa ilmu tanpa iman dan adab adalah petaka. Adab
melahirkan keberkahan, dan keberkahan adalah ruh peradaban. Tanpa adab, ilmu
justru dapat menjadi alat penindasan dan kerusakan.
Integrasi
Konsep Ta'dib, Tahdzib, Tarbiyah, Ta'lim, dan Tadris dalam Membentuk Insan
Kamil
Pendidikan yang utuh harus
mengintegrasikan lima konsep utama: ta’dib (penanaman adab), tahdzib
(penyucian dan pembinaan akhlak), tarbiyah (pengembangan potensi secara
bertahap), ta’lim (transfer ilmu), dan tadris (proses pengajaran sistematis). Syed
Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis pendidikan modern berakar pada
hilangnya konsep ta’dib. Pendidikan seharusnya menghasilkan insan
adabi, manusia yang mengetahui tempat segala sesuatu secara proporsional.
Konsep insan kamil bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang
spiritual dan luhur akhlak. K.H. Ahmad Dahlan melalui praksis pendidikan
Muhammadiyah dan Mohammad Natsir melalui pemikiran dakwah dan pendidikannya
sama-sama menekankan integrasi iman, ilmu, dan amal. Pendidikan tidak boleh
tercerabut dari nilai tauhid dan tanggung jawab peradaban.
Strategi
Membangun Adab untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa yang Luhur dan Berkemajuan
Membangun kembali adab murid
membutuhkan ikhtiar kolektif dan sistemik. Pertama, keluarga harus menjadi
madrasah pertama dan utama adab dan keteladanan. Kedua, sekolah harus berani
menjadikan penilaian adab sebagai komponen utama, mengembalikan otoritas dan
martabat guru, serta mengintegrasikan nilai-nilai adab dalam semua mata
pelajaran. Ketiga, masyarakat perlu menghidupkan budaya menghormati dan
menghargai guru serta menciptakan ekosistem sosial yang menghargai adab, tata
krama, etika, dan keilmuan. Keempat, pemerintah harus merancang kebijakan
pendidikan yang memprioritaskan pembangunan karakter, melindungi guru, dan
mendukung praktik-praktik pendidikan berbasis adab.
Rabu, 10 Desember 2025
Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia
Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia
Saya ini tidak paham HAM atau Hak Asasi Manusia. Hak asasi kita sebagai manusia apa? Hak asasi kita yang mana? Benarkah kita ini punya hak asasi?
Yang saya mengerti, kita ini seharusnya benar-benar menyadari dan fokus berpikir pada menjalankan kewajiban asasi ketimbang (merasa memiliki dan menuntut) hak asasi.
Lupakan saja itu Hari HAM (Hak Asasi Manusia). Tidak ada itu yang namanya hak asasi manusia. Yang ada itu sebenarnya kewajiban asasi manusia. Hari-hari kita semestinya kita isi dengan kewajiban asasi manusia. Urusan kita ini, wajibnya ya menjalankan atau mengamalkan kewajiban asasi manusia. Mengenai urusan hak asasi manusia serahpasrahkan saja kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.
Rabu, 02 Juli 2025
Ode dan Do’a untuk Bapak Kami Tercinta
Mokh.
Ngisom Musurur
ODE DAN DO’A UNTUK BAPAK KAMI TERCINTA
Bapak kami yang tercinta, apa kabar engkau di alam barzakh sana?
Semoga engkau baik-baik saja tanpa menanggung beban beratnya dera
Di atas tanah ini, ingin kurangkaikan puisi untukmu serupa ode dan do'a
dengan tinta cinta dan kasih sayang yang begitu menenteramkan
Dan, kuungkapkan pula syukurku atas taqdir menjadi anak
dari darah dagingmu
Bapak, selalu kusimpan kagum dan banggaku akan hebatnya perjuanganmu
akan sosokmu yang berbingkai keimanan dan ketaqwaan dikenanganku
akan siapakah jiwa kuat yang tangguh dalam ragamu
akan semangatmu yang tak kenal lelah dan keteguhanmu yang tak
mau menyerah
aku kagum dan bangga dengan segala luka yang kau panggul tanpa
mengeluh
Bapak, engkau seperti matahari yang selalu menjadikan gelap itu
terang dan memberikan terang pada gelap
Pesanmu tak terucap melalui suara melainkan teladan nyata, kerja
dan menderita
Meskipun cintamu tersamarkan oleh cinta Ibu, tapi cintamu utuh
kurasakan
Kasih sayangmu tak mau dilihat, tapi ia tampak jelas dari apa
yang kau perbuat
Bapak kami tercinta, sungguh engkau pahlawan sejati bagi
keluarga kita yang bersahaja
Meskipun kau dan aku terpisah jarak dan waktu, namun dirimu tak
pernah jauh dariku
Telah kau tempa aku dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang kau
pasrahkan
Terima kasih atas iman taqwa dan akhlaq mulia yang kau hunjamkan
Terima kasih atas adab dan ilmu pengetahuan yang engkau tanamkan
Terima kasih atas pendidikan dan api perjuangan yang engkau
wariskan
Ma’afkan anakmu Bapak, yang karena jauh di
tanah rantau melanjutkan perjuangan yang dulu engkau tanam di pundakku
aku tak bisa mendampingimu di senja
usiamu dan di kala terhuyung ragamu
tak sempat aku merawatmu di saat jiwamu
lara dan sakit di tubuhmu merajam
tak dapat dengan kehangatan merengkuh lemah tubuhmu di ujung hayatmu
Namun, aku yakin engkau paham dan dengan
senyum ikhlasmu engkau mema'afkan luput, salah dan dosa yang kusandang
Saat kudengar kabar duka atas
kepergianmu di tanah rantau waktu itu, sungguh tubuhku terguncang
Sedihku begitu mendalam dan aku merasa
sangat kehilangan
dan dalam gelisah yang menderu kutancapkan puring peneduh
di dekat nisanmu
Lalu, kulantunkan dzikir dan kualirkan do’a-do’a untukmu di atas pusaramu
Bapak, wasiat dan petuah bijakmu aku tanam dalam sukmaku dan
kuamalkan
Aku janji menjadi pribadi pencerah dan melanjutkan cita-cita dan
sejarah yang kau pahat
Bapak, aku yakin
kepulanghanmu ke rahmatullah membawa cukup bekal untuk kehidupan kekal
Benih
kebaikan yang kau semai dan tanam menjadi akar yang kuat bagi kehidupan
selanjutnya
Akan senantiasa aku persembahkan butir-butir dzikir bila aku terkoyak rindu
Aku akan selalu menemuimu melalui lantunan munajat dan do’a-do’a
di nadiku
In syaa Allah, kehidupanmu bertaburan barakah dan kepulanganmu
husnul khotimah
Semoga di alam barzakh sana engkau tenang, damai
dan senantiasa dalam dekapan kasih sayang-Nya
Aku yakin Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menerima amal-amal sholih, amal ibadahmu, diberikan
kelapangan jalan menuju keharibaan-Nya, berlimpah ampunan, berbuncah kasih sayang,
dianugerahi pahala kebaikan dari-Nya dan dimuliakan di sisi-Nya
In
syaa Allah, dengan Rahman Rahim
dan ridho-Nya, kelak kita dipertemukan dan dipersatukan kembali bersama
keluarga, sejahtera dan bahagia di surga-Nya.
Kediri, 1 Juli 2025
Jumat, 27 Juni 2025
Kenapa Tahun Baru Islam Dimulai dari 1 Muharram?
Kenapa Tahun Baru Islam Dimulai dari 1 Muharram?
Minggu, 14 Juli 2024
Keutamaan Puasa Tasu'a dan ‘Asyura
Keutamaan Puasa Tasu'a dan ‘Asyura
Apa saja keutamaan puasa ‘Asyura? Puasa ‘Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan maupun hari kesebelasnya.
Berikut beberapa keutamaan puasa ‘Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut.
1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim, No. 1163).
Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa ‘Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50.
Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa ‘Asyura.
2- Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.
Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, No. 1162).
Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau menerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46.
Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa ‘Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501.
3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’a).
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim, No. 1134).
Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14.
Tahun ini (1446 H/2024 M), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari Senin dan Selasa (15 dan 16 Juli 2024). Puasa Tasu’a bisa dilaksanakan pada tanggal 15 Juli (9 Muharram) sedangkan puasa ‘Asyura pada tanggal 16 Juli (10 Muharram).
Fokuslah pada puasa ‘Asyura (10 Muharram) meskipun mungkin tidak berpuasa pada 9 Muharram. Karena keutamaan puasa Asyura yang luar biasa, yakni antara lain bisa menghapus dosa-dosa kita setahun yang telah berlalu.
Lebih afdhal, jika berpuasa dengan menambah hari, 9 dan 10 Muharram. Dengan keutamaan untuk menyelisihi ahli kitab atau kaum al-maghduub dan adh-dhoolliin.
Jikalau ada udzur syar’i atau berhalangan puasa 9 Muharram, bisa diganti 10 dan 11 Muharram. Hal ini juga untuk menyelisihi ahli kitab atau kaum al-maghduub dan adh-dhoolliin.
Ulama Hanafiyah dan Syafi'iyah berpendapat sunnahnya berpuasa tanggal 11 bagi yang tidak sempat berpuasa tanggal sembilannya karena tujuannya sama, agar puasa 'Asyura tersebut tidak menyerupai puasa orang Yahudi.
Tapi lebih baik lagi apabila bisa berpuasa 3 hari sekaligus 9, 10, dan 11 Muharram. Tujuannya agar puasa kita tidak menyerupai puasa ahli kitab atau kaum al-maghduub dan adh-dhoolliin dan in syaa Allah juga bisa meraih pahala puasa tiga hari setiap bulan.
Semoga kita dimampukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'aalaa dan sanggup menjalaninya.
Wallaahu a’lam bish-showaab.
Referensi:
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm.
Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim (Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Wafa dan Dar Ibni Hazm.
Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Hafizh Abu ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam.
).png)




%20=%20Kamis,%2027%20Juli%202023%2010%20Muharam%201445%20H.%20(Asyura)%20=%20Jumat,%2028%20Juli%202023.png)