Mengapa Harus R.A. Kartini yang Diperingati?
Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Selaku warga bangsa Indonesia, saya terkadang mempertanyakan hal ini secara serius dan riset kecil-kecilan melalui beberapa tulisan mengenai asal usul kesejarahannya. Mengapa bangsa ini harus memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Saya bukanlah orang pertama yang mempertanyakan hal ini. Tahun 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan Hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku “Surat-Surat Kartini” oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).
Tulisan ini bukan untuk meragukan dan menggugat pribadi sosok Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, begitu kata Bung Karno. Al-Qur'an banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.
Banyak pertanyaan juga yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan K.H. Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” sebagai jargon Pendidikan Nasional Indonesia?
Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Tidak semua orang mengerti atau ada sebagian (kecil) warga bangsa yang tidak paham makna slogan Pendidikan Nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan “Iman, Ilmu, Amal, Adab dan Akhlak Mulia Sebelum Ilmu”, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.
Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.
Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sebelum era Kartini maupun sezamannyayang juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Keumalahayati, perempuan pertama di dunia yang menyandang pangkat Laksamana yang setia menjaga kehormatan bangsanya dari penjajahan dan ketidakadilan. Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.
Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (Padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah dari Aceh, Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah tokoh pembaru pendidikan dan pejuang kemerdekaan asal Minangkabau, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang memperjuangkan kemerdekaan, merintis, dan memajukan pendidikan bangsa. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama perempuan.
Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut perempuan pertama, yakni Keualahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan perempuan) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.
Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Laksamana Keumalahayati? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa bukan Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah? Mengapa Abendanon memilih Kartini? — Apa karena Cut Nyak dibenci penjajah?— Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Laksamana Keumalahayati dan Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda dan penjajah-penjajah bangsa lain. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda dan bangsa lain atas negeri ini.
Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.
Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan.
Referensi:
Tiar Anwar Bachtiar, https://www.nahimunkar.com/mengapa-belanda-lebih-memilih-kartini-bukan-cut-nyak-dien-dewi-sartika/
Mitos Kartini dan Manipulasi Sejarah. Kenapa Harus Kartini, http://www.kompasiana.com/aa_gun/mitos-kartini-dan-manipulasi-sejarah-kenapa-harus-kartini_5500b688813311681ffa7c76
Irene Handono: Mengapa Harus Kartini? https://semangkakuning.com/2015/04/21/irene-handono-mengapa-harus-kartini/
21 April, Mengapa Harus Kartini?, http://www.fiqhmenjawab.net/2016/04/21-april-mengapa-harus-kartini/
MUTIARA EDUKASI
Membelajarkan Diri Menjernihkan Hati Mencerahkan Pikiran
Selasa, 21 April 2026
Mengapa Harus R.A. Kartini yang Diperingati?
Minggu, 15 Maret 2026
Pre-Order Slow Step buku “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia”
❛❛ Pendidikan adalah perjalanan panjang peradaban manusia. Ia tidak pernah berdiri dalam satu masa saja, melainkan bergerak dari generasi ke generasi, dari tangan ke tangan, dari hati ke hati. Setiap generasi menerima cahaya pengetahuan, nilai, dan kebijaksanaan dari generasi sebelumnya, lalu meneruskannya kepada generasi setelahnya. Inilah estafet yang tidak pernah berhenti—estafet cahaya.
Buku “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia” ini hadir sebagai ikhtiar untuk merekam sekaligus merefleksikan perjalanan tersebut. Di dalamnya tersimpan berbagai catatan, pengalaman, pemikiran, dan kisah yang lahir dari dunia pendidikan. Dunia yang menjadi ruang bertumbuhnya harapan bangsa. ... ❜❜
📝 “Nulis Bareng Pak Cah” melahirkan buku Antologi tema pendidikan berjudul “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia”. Ide-ide tulisan yang terkumpul seputar tantangan-tantangan dunia pendidikan kita dan bagaimana para penulis menyampaikan ide-ide mereka agar para pendidik dapat mendidik dan melahirkan generasi terbaik harapan ummat dan bangsa ini. 💫
📕 Pre Order Slow Step buku “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia” dibuka mulai tanggal 11 s.d. 18 Maret 2026. ✨
🔖 Dapatkan Harga Spesial jika order pada masa Pre-Order. Stay Tuned. 🫶🏼
Jumat, 20 Februari 2026
Bersua Kembali dengan Ramadhan
Oleh: Mokh. Ngisom Musurur
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Alhamdulillâh, tamu agung nan mulia itu benar-benar sudah mengunjungi kita lagi. Kita bersua kembali dengannya, yakni Sayyidus Syuhur Ramadhan karim. Allâh ﷻ mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan. Bulan yang selalu dirindukan kedatangannya oleh mukminin. Bulan yang secara literal menjadi bulan pembeda dengan bulan lain. Mari kita terima anugerah datangnya bulan Ramadhan ini dengan penuh kesyukuran dan kebahagiaan.
Ya, di bulan Ramadhan ini segala sesuatunya memiliki keutamaan dan penuh keberkahan. Dan, sangat beralasan jika Ramadhan dikatakan bulan yang utama dan penuh berkah. Di bulan inilah Al Qur’ân diturunkan (QS. Al-Baqarah [2]: 185), pada bulan inilah terdapat malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar (QS. Al-Qadr [97]: 1–5). Bulan yang digunakan untuk menjalankan salah satu Rukun Islam, yakni shiyam (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Bulan yang jika mengerjakan amal-amal baik, seperti puasa dan shalat tarawih, maka akan menghapuskan dosa-dosa (kecil) yang telah lalu (HR. Bukhari). Bulan yang dibuka pintu surga, dibuka pintu rahmat, ditutup pintu neraka, dan setan dibelenggu (HR. Muslim). Bulan yang amalan sunnah akan diganjar pahala layaknya amalan wajib (HR. Muslim). Bulan yang berlipat pahala menjadi 70 kali bagi amalan wajib (HR. Muslim), bahkan hingga 700 kali lipat (HR. Muttafaqun 'Alaih). Allâh ﷻ berfirman dalam Hadist Qudsi: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allâh Ta'âlâ berfirman: 'Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya...'” (HR. Bukhari, No. 1904 dan Muslim, No. 1151).
Mâsyâ Allâh, tabâraka Allâh. Di antara yang sangat khas dengan Ramadhan adalah semangat berbagi. Semangat menjadikan tangan berbagi, tangan-tangan filantropi, tangan-tangan yang ikhlas berzakat, berinfaq, bershadaqah, dan berwakaf. Seperti dalam rekam sejarah seorang sahabat Abdullah Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhu. Beliau memiliki kebiasaan berbuka puasa bersama anak yatim dan orang miskin. Bahkan, terkadang putra tercinta sahabat mulia, 'Umar bin Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu ini tidak berbuka meski sudah memasuki waktu Maghrib ketika keluarganya belum menghadirkan mereka para fakir miskin di rumahnya.
Adalah Ayub bin Wail ar-Rasibi, seorang tokoh tabi'in pernah menyaksikan kejadian menakjubkan tentang beliau. Suatu hari Abdullah Ibnu Umar mendapatkan kiriman harta senilai 4.000 dirham (sekitar Rp 180 juta) dan satu baju yang ada bulunya.
Keesokan harinya, Ayub bin Wail ar-Rasibi ini melihat Abdullah Ibnu Umar di pasar membeli pakan kudanya dengan utang. Ayub bin Wail ar-Rasibi pun keheranan. Karena, baru kemarin Abdullah Ibnu Umar baru mendapatkan 4.000 dirham, tapi untuk membeli pakan kuda saja pakai utang.
Adakah sekarang di bulan mulia yang baru dua hari ini, tergerak dengan menjadikan tangan kita tangan berbagi, seperti tangan Abdullah bin Umar. Bersuanya kita dengan Ramadhan, karena bersuanya kita dalam menyemangati diri untuk selalu berbagi. In syâ Allâh.
Mari manfa'atkan momentum Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya untuk meraih pahala maksimal sekaligus kesehatan lahir dan batin, memperoleh keberkahan, dan menggapai derajat muttaqin. Semoga Allâh ﷻ menerima seluruh amal ibadah kita di bulan yang suci ini. Aamiin.
Minggu, 01 Februari 2026
Yaumul Milad Teruntuk Diriku
Kamis, 01 Januari 2026
Buang Rencana Tahunan Anda
Buang Rencana Tahunan Anda
📙 Saya pikir perlu dan ada baiknya kita simak ulang postingan video #AniesBacaBuku dalam pembahasan buku: "The 12 Week Year", karya: Brian P. Moran dan Michael Lennington berikut ini. Mumpung masih di awal tahun.
🔻Buang Rencana Tahunan Anda
#PesanAwalTahun:
Kamis, 25 Desember 2025
Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa
Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa
Mokh.
Ngisom Musurur
Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (ta’lim), melainkan
upaya sistematis dan proses penanaman nilai dan pembangunan akhlak dan adab (tahdzib/ta’dib).
Dalam konteks Indonesia yang berketuhanan dan berbudaya luhur, esensi
pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya —insan kamil— yang di
dalamnya memiliki husnul khuluq (akhlak baik), matinul khuluq
(akhlak kokoh), akhlaqul karimah (akhlak mulia), serta ketinggian dan
keluhuran adab semakin mendesak untuk dibangun. Namun, realitas hari ini
menunjukkan fenomena mengkhawatirkan dan tantangan besar: krisis nilai dan
darurat adab di kalangan murid. Tulisan ini berangkat dari kerisauan bahwa
pudarnya adab murid bukan sekadar dekadensi moral dan rapuhnya adab di sekolah,
melainkan ancaman bagi fondasi peradaban bangsa. Menyelamatkan adab sebagai ruh
utama pendidikan murid merupakan prasyarat strategis menyelamatkan generasi
yang akan memegang tongkat estafet pembangunan peradaban bangsa yang luhur dan
berkemajuan kini dan di masa depan.
Fenomena
Degradasi Adab Murid dalam Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Degradasi
adab murid tampak nyata dalam tiga lingkaran dan ruang utama pendidikan. Di
lingkungan keluarga, relasi anak dan orang tua kerap kehilangan nilai takzim,
hormat, dan bakti. Di sekolah, kita menyaksikan fenomena ketidakhormatan dan
tiadanya penghargaan murid kepada guru. Mereka mengabaikan adab sebagai pintu
masuknya ilmu yang bermanfaat dan berkah. Guru sering diposisikan semata-mata
sebagai penyampai materi, bukan figur teladan yang dimuliakan. Di masyarakat, budaya
tata krama, sopan dan santun berinteraksi kian memudar, digantikan oleh kenekatan
tanpa moral dan etika. Sebagian murid menunjukkan sikap arogan, menyepelekan,
malas, dan tidak peduli. Ini bukan semata kesalahan individu murid, melainkan
kegagalan kolektif dalam menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Hal ini
bertentangan dengan tradisi keilmuan klasik, di mana para ulama Salafus Shalih
menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu. Abdullah bin al-Mubarak
berkata, “Kami belajar adab sebelum belajar ilmu.” Fenomena ini adalah
alarm tanda bahaya. Ketika seorang murid tidak lagi memiliki "rasa
malu", "rasa hormat", beban mora, maka ilmu yang mereka serap
hanya akan menjadi sarana untuk memuaskan syahwat intelektual tanpa panduan nurani
dan tindakan destruktif. Ini adalah awal dari hilangnya keberkahan dalam
kehidupan berbangsa.
Evaluasi
Sistem Pendidikan: Pengabaikan Adab dan Keteladanan Akhlak Mulia
Sistem pendidikan kita kerap terjebak
pada paradigma materialistik-instrumental, yang mengukur keberhasilan hanya
dari angka-angka ujian dan capaian kognitif semata. Mengedepankan formalitas
daripada integritas, mementingkan eksistensi dibanding esensi, menonjolkan
semunya prestasi daripada substansi. Muatan adab dan akhlak sering kali hanya
menjadi "pelengkap" dalam buku teks, bukan sebagai ruh yang
menghidupi seluruh proses pembelajaran. Nilai-nilai akhlak dan keteladanan
sering kali sekedar menjadi slogan normatif dan lemah dalam proses
internalisasi yang mendalam. Padahal, para pendiri bangsa kita seperti Ki Hadjar
Dewantara menekankan among system: pendidikan sebagai proses
memimpin dengan keteladanan, kasih sayang, dan pengabdian serta menuntun
kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. K.H. Hasyim Asy’ari dalam
Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim secara khusus merumuskan etika guru
dan murid. Beliau menegaskan bahwa rusaknya adab murid berawal dari hilangnya
adab guru dan sistem yang abai terhadap nilai. K.H. Ahmad Dahlan mempraktikkan pendidikan
yang menyatu dengan amal dan akhlak.
Saat keteladanan guru dan integritas
moral lembaga pendidikan memudar, maka yang tersisa hanyalah bangunan ilmu yang
rapuh tanpa fondasi adab. Hal ini mengharuskan kita melakukan evaluasi jujur
terhadap sistem pendidikan kita. Guru tidak boleh hanya sekadar operator
kurikulum, melainkan uswatun hasanah (teladan yang baik) dan melakukan ta’dib
atau proses usaha membangun adab. Jika sistem hanya menuntut penyelesaian
materi tanpa memberikan ruang bagi internalisasi nilai, maka sekolah tak
ubahnya pabrik yang memproduksi mesin-mesin cerdas namun tak berjiwa. Minimnya
keteladanan dari orang dewasa di sekitar murid memperparah situasi ini,
menciptakan kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dengan
kenyataan di lapangan.
Urgensi
Adab Sebelum Ilmu dalam Perspektif Pendidikan
Prinsip ini adalah warisan agung
peradaban dalam pendidikan, pembelajaran, dan menuntut ilmu. Melalui tradisi
dan sejarah para Salafus Shalih telah memberikan panduan baku bahwa adab
sebelum ilmu. Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, “Belajarlah
kalian adab sebelum mempelajari ilmu,” menjadi pedoman utama. Imam Malik rahimahullah
pernah berpesan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu
ilmu." Mengapa? Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan
kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu adalah kelemahan. Imam al-Ghazali
menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang
kotor. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan karya-karyanya menunjukkan betapa
ketulusan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada guru menjadi kunci
keberkahan ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan,
“Siapa yang tidak beradab, niscaya tidak berilmu.” Beliau secara khusus
menulis bahwa kegagalan murid dalam meraih manfaat ilmu bukan karena kurangnya
kecerdasan, melainkan karena hilangnya adab terhadap ilmu dan ahlinya. KH.
Hasyim Asy’ari melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim mengingatkan
bahwa integritas seorang pelajar terletak pada keseimbangan antara olah rasa,
olah karsa, dan olah pikir. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata
penghancur di tangan orang yang salah. Syed Muhammad Naquib al-Attas
mendefinisikan Pendidikan sebagai ta’dib—proses penanaman adab
dalam diri manusia. Adablah yang mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan, mencegah
penyalahgunaan, dan menjadikan pemiliknya rendah hati (tawadhu’). Dalam konteks
kebangsaan, Ki Hajar Dewantara dengan konsep "Budi Pekerti". Mohammad
Natsir juga kerap menekankan bahwa ilmu tanpa iman dan adab adalah petaka. Adab
melahirkan keberkahan, dan keberkahan adalah ruh peradaban. Tanpa adab, ilmu
justru dapat menjadi alat penindasan dan kerusakan.
Integrasi
Konsep Ta'dib, Tahdzib, Tarbiyah, Ta'lim, dan Tadris dalam Membentuk Insan
Kamil
Pendidikan yang utuh harus
mengintegrasikan lima konsep utama: ta’dib (penanaman adab), tahdzib
(penyucian dan pembinaan akhlak), tarbiyah (pengembangan potensi secara
bertahap), ta’lim (transfer ilmu), dan tadris (proses pengajaran sistematis). Syed
Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis pendidikan modern berakar pada
hilangnya konsep ta’dib. Pendidikan seharusnya menghasilkan insan
adabi, manusia yang mengetahui tempat segala sesuatu secara proporsional.
Konsep insan kamil bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang
spiritual dan luhur akhlak. K.H. Ahmad Dahlan melalui praksis pendidikan
Muhammadiyah dan Mohammad Natsir melalui pemikiran dakwah dan pendidikannya
sama-sama menekankan integrasi iman, ilmu, dan amal. Pendidikan tidak boleh
tercerabut dari nilai tauhid dan tanggung jawab peradaban.
Strategi
Membangun Adab untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa yang Luhur dan Berkemajuan
Membangun kembali adab murid
membutuhkan ikhtiar kolektif dan sistemik. Pertama, keluarga harus menjadi
madrasah pertama dan utama adab dan keteladanan. Kedua, sekolah harus berani
menjadikan penilaian adab sebagai komponen utama, mengembalikan otoritas dan
martabat guru, serta mengintegrasikan nilai-nilai adab dalam semua mata
pelajaran. Ketiga, masyarakat perlu menghidupkan budaya menghormati dan
menghargai guru serta menciptakan ekosistem sosial yang menghargai adab, tata
krama, etika, dan keilmuan. Keempat, pemerintah harus merancang kebijakan
pendidikan yang memprioritaskan pembangunan karakter, melindungi guru, dan
mendukung praktik-praktik pendidikan berbasis adab.
Rabu, 10 Desember 2025
Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia
Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia
Saya ini tidak paham HAM atau Hak Asasi Manusia. Hak asasi kita sebagai manusia apa? Hak asasi kita yang mana? Benarkah kita ini punya hak asasi?
Yang saya mengerti, kita ini seharusnya benar-benar menyadari dan fokus berpikir pada menjalankan kewajiban asasi ketimbang (merasa memiliki dan menuntut) hak asasi.
Lupakan saja itu Hari HAM (Hak Asasi Manusia). Tidak ada itu yang namanya hak asasi manusia. Yang ada itu sebenarnya kewajiban asasi manusia. Hari-hari kita semestinya kita isi dengan kewajiban asasi manusia. Urusan kita ini, wajibnya ya menjalankan atau mengamalkan kewajiban asasi manusia. Mengenai urusan hak asasi manusia serahpasrahkan saja kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.

.png)
).png)

