Halaman

Selasa, 21 April 2026

Mengapa Harus R.A. Kartini yang Diperingati?

Mengapa Harus R.A. Kartini yang Diperingati?

Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Selaku warga bangsa Indonesia, saya terkadang mempertanyakan hal ini secara serius dan riset kecil-kecilan melalui beberapa tulisan mengenai asal usul kesejarahannya. Mengapa bangsa ini harus memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Saya bukanlah orang pertama yang mempertanyakan hal ini. Tahun 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan Hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku 
Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini bukan untuk meragukan dan menggugat pribadi sosok Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, begitu kata Bung Karno. Al-Qur'an banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

Banyak pertanyaan juga yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan K.H. Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan 
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani sebagai jargon Pendidikan Nasional Indonesia?

Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Tidak semua orang mengerti atau ada sebagian (kecil) warga bangsa yang tidak paham makna slogan Pendidikan Nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan 
Iman, Ilmu, Amal, Adab dan Akhlak Mulia Sebelum Ilmu,  sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.

Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi 
Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sebelum era Kartini maupun sezamannyayang  juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Keumalahayati, perempuan pertama di dunia yang menyandang pangkat Laksamana yang setia menjaga kehormatan bangsanya dari penjajahan dan ketidakadilan. D
ewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.

Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. 
Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (Padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah dari Aceh, Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah tokoh pembaru pendidikan dan pejuang kemerdekaan asal Minangkabau, 
klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang memperjuangkan kemerdekaan, merintis, dan memajukan pendidikan bangsa. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama perempuan.

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut perempuan pertama, yakni Keualahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan perempuan) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Laksamana Keumalahayati? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa bukan Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah? Mengapa Abendanon memilih Kartini? — Apa karena Cut Nyak dibenci penjajah?— Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Laksamana Keumalahayati dan Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda dan penjajah-penjajah bangsa lain. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda dan bangsa lain atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan.

Referensi:

Tiar Anwar Bachtiar, https://www.nahimunkar.com/mengapa-belanda-lebih-memilih-kartini-bukan-cut-nyak-dien-dewi-sartika/

Mitos Kartini dan Manipulasi Sejarah. Kenapa Harus Kartini, http://www.kompasiana.com/aa_gun/mitos-kartini-dan-manipulasi-sejarah-kenapa-harus-kartini_5500b688813311681ffa7c76

Irene Handono: Mengapa Harus Kartini? https://semangkakuning.com/2015/04/21/irene-handono-mengapa-harus-kartini/

21 April, Mengapa Harus Kartini?, http://www.fiqhmenjawab.net/2016/04/21-april-mengapa-harus-kartini/


Minggu, 15 Maret 2026

Pre-Order Slow Step buku “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia”

Pre-Order Slow Step buku “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia”


❛❛ Pendidikan adalah perjalanan panjang peradaban manusia. Ia tidak pernah berdiri dalam satu masa saja, melainkan bergerak dari generasi ke generasi, dari tangan ke tangan, dari hati ke hati. Setiap generasi menerima cahaya pengetahuan, nilai, dan kebijaksanaan dari generasi sebelumnya, lalu meneruskannya kepada generasi setelahnya. Inilah estafet yang tidak pernah berhenti—estafet cahaya.
Buku “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia” ini hadir sebagai ikhtiar untuk merekam sekaligus merefleksikan perjalanan tersebut. Di dalamnya tersimpan berbagai catatan, pengalaman, pemikiran, dan kisah yang lahir dari dunia  pendidikan. Dunia yang menjadi ruang bertumbuhnya harapan bangsa. ... ❜❜

📝 “Nulis Bareng Pak Cah” melahirkan buku Antologi tema pendidikan berjudul “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia”. Ide-ide tulisan yang terkumpul seputar tantangan-tantangan dunia pendidikan kita dan bagaimana para penulis menyampaikan ide-ide mereka agar para pendidik dapat mendidik dan melahirkan generasi terbaik harapan ummat dan bangsa ini. 💫

📕 Pre Order Slow Step buku “Estafet Cahaya: Menjaga Nyala Generasi Indonesia” dibuka mulai tanggal 11 s.d. 18 Maret 2026. ✨

🔖 Dapatkan Harga Spesial jika order pada masa Pre-Order. Stay Tuned. 🫶🏼

Jumat, 20 Februari 2026

Bersua Kembali dengan Ramadhan

Bersua Kembali dengan Ramadhan

Oleh: Mokh. Ngisom Musurur

 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)




Alhamdulillâh, tamu agung nan mulia itu benar-benar sudah mengunjungi kita lagi. Kita bersua kembali dengannya, yakni Sayyidus Syuhur Ramadhan karim. Allâh  mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan. Bulan yang selalu dirindukan kedatangannya oleh mukminin. Bulan yang secara literal menjadi bulan pembeda dengan bulan lain. Mari kita terima anugerah datangnya bulan Ramadhan ini dengan penuh kesyukuran dan kebahagiaan.

Hanya di bulan ini, terdapat berbagai keutamaan membuncah ruah. Mengapa bulan Ramadhan memiliki begitu banyak keutamaan? Karena di bulan ini, ada ampunan Allâ yang sangat luar biasa. Kebaikan tak pernah bernilai biasa. Setiap amal dilipatgandakan pahalanya. Setiap do'a punya ruang lebih dekat untuk dikabulkan. Bahkan godaan pun dipersempit, agar kita lebih mudah menjaga diri. Ramadhan memiliki keutamaan karena terdapat peluang untuk menjauhkan diri dari syaithân atau syayâthïn. Di samping itu, karena di bulan Ramadhan semua waktu siang dan malam mempercepat terkabulnya do'a. Keutamaan ini dijelaskan dalam Al Qur’ân dari surah Al-Baqarah ayat 186, yang berada dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa, yaitu dari ayat 183 hingga 187. Ayat ini secara khusus menegaskan bahwa do'a di bulan Ramadhan memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Allâh ﷻ berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad ) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila dia berdo'a kepada-Ku.”

Ya, di bulan Ramadhan ini segala sesuatunya memiliki keutamaan dan penuh keberkahan. Dan, sangat beralasan jika Ramadhan dikatakan bulan yang utama dan penuh berkah. Di bulan inilah Al Qur’ân diturunkan (QS. Al-Baqarah [2]: 185), pada bulan inilah terdapat malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar (QS. Al-Qadr [97]: 1–5). Bulan yang digunakan untuk menjalankan salah satu Rukun Islam, yakni shiyam (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Bulan yang jika mengerjakan amal-amal baik, seperti puasa dan shalat tarawih, maka akan menghapuskan dosa-dosa (kecil) yang telah lalu (HR. Bukhari). Bulan yang dibuka pintu surga, dibuka pintu rahmat, ditutup pintu neraka, dan setan dibelenggu (HR. Muslim). Bulan yang amalan sunnah akan diganjar pahala layaknya amalan wajib (HR. Muslim). Bulan yang berlipat pahala menjadi 70 kali bagi amalan wajib (HR. Muslim), bahkan hingga 700 kali lipat (HR. Muttafaqun 'Alaih). Allâh ﷻ berfirman dalam Hadist Qudsi: Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allâh Ta'âlâ berfirman: 'Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya...' (HR. Bukhari, No. 1904 dan Muslim, No. 1151).

Mâsyâ Allâh, tabâraka Allâh. Di antara yang sangat khas dengan Ramadhan adalah semangat berbagi. Semangat menjadikan tangan berbagi, tangan-tangan filantropi, tangan-tangan yang ikhlas berzakat, berinfaq, bershadaqah, dan berwakaf. Seperti dalam rekam sejarah seorang sahabat Abdullah Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhu. Beliau memiliki kebiasaan berbuka puasa bersama anak yatim dan orang miskin. Bahkan, terkadang putra tercinta sahabat mulia, 'Umar bin Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu ini tidak berbuka meski sudah memasuki waktu Maghrib ketika keluarganya belum menghadirkan mereka para fakir miskin di rumahnya.

Adalah Ayub bin Wail ar-Rasibi, seorang tokoh tabi'in pernah menyaksikan kejadian menakjubkan tentang beliau. Suatu hari Abdullah Ibnu Umar mendapatkan kiriman harta senilai 4.000 dirham (sekitar Rp 180 juta) dan satu baju yang ada bulunya.

Keesokan harinya, Ayub bin Wail ar-Rasibi ini melihat Abdullah Ibnu Umar di pasar membeli pakan kudanya dengan utang. Ayub bin Wail ar-Rasibi pun keheranan. Karena, baru kemarin Abdullah Ibnu Umar baru mendapatkan 4.000 dirham, tapi untuk membeli pakan kuda saja pakai utang.

Karena penasaran, Ayub bin Wail ar-Rasibi kemudian datang menemui keluarga Abdullah Ibnu Umar. Cerita keluarganya, “Uang itu belum sempat menginap semalam, namun sudah dibagikan semuanya kepada fakir miskin. Lalu, beliau mengambil baju yang ada bulunya, beliau pakai keluar rumah, dan Ketika pulang, baju itu sudah tidak ada. Ketika kami tanyakan, beliau sudah berikan baju itu kepada fakir miskin.”
Adakah sekarang di bulan mulia yang baru dua hari ini, tergerak dengan menjadikan tangan kita tangan berbagi, seperti tangan Abdullah bin Umar. Bersuanya kita dengan Ramadhan, karena bersuanya kita dalam menyemangati diri untuk selalu berbagi. In syâ Allâh.
Mari manfa'atkan momentum Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya untuk meraih pahala maksimal sekaligus kesehatan lahir dan batin, memperoleh keberkahan, dan menggapai derajat muttaqin. Semoga Allâh menerima seluruh amal ibadah kita di bulan yang suci ini. Aamiin.
Wllâhu a’lam bish shawâb.

Minggu, 01 Februari 2026

Yaumul Milad Teruntuk Diriku

Yaumul Milad Teruntuk Diriku

Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Aku peluk diriku sendiri dan ingin kukatakan: Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh
Alhamdulillaah alladzii bi ni’matihi tatimmus shaalihaat
Hushuushaan ilaa ruuhi wajasadi diriku... Tahu-tahu hidup yang kujalani sudah menapaki usia 55
Bertambah dalam hitunganku, berkurang dalam hitungan-Mu
Ragaku pelan-pelan sudah menua, tapi perih lukanya masih terasa
Rambutku juga mulai memutih, namun duka citanya pun belum pulih

Terima kasih telah berqurban dan berjuang hingga saat ini
tetap bertahan dan tidak menyerah meski jatuh bangun berkali-kali
Walaupun badai datang silih berganti namun tetap dalam garis dan batasan syari'at
masih bisa bersabar dan bersyukur dalam segala keadaan
tetap semangat qadarullaah wamaasyaa'a fa'ala
ada Allah di dalam setiap langkah dan tarikan nafasmu

Ma'afkanlah jika dirimu sering mengabaikan
kebahagiaanmu, kenyamananmu, tubuhmu, perasaanmu
Dirimu kuat meski kadang tak mampu menyembunyikan lelah,
tak berdaya dan rebah

Kata orang diriku tak pernah menjadi hebat
Kata orang diriku tak tahu menempatkan diri
Kata orang diriku menjadi beban memberatkan
Kata orang keberadaanku tak begitu berguna

Tetapi diriku masih melangkah karena-Mu
Semua berkat uluran pertolongan-Mu
Karena orang-orang yang tulus menyayangiku
Lantaran mereka yang tak pergi, di saat robohku

Dan pada milad ini kali
Makin aku sadari bahwa memang hidup ini menjalani dari ujian ke ujian berikutnya
Benar kurasakan bahwa hidup dan ujian itu satu paket tak terpisahkan
Syukur alhamdulilah Ya Rabb, Engkau menguatkanku
Terima kasih kepada yang tetap tak beranjak diiringi sajak

Tetaplah melangkah di indahnya jalan sunyi sepi
Teguhlah bergerak bersandar syari'at dan norma yang benar
Meski dirimu kadang capek atas pihak yang enggan memahami ajakan
Meski terkadang dirimu terpeleset oleh kelemahan dan kekurangan
Usahlah gelisah oleh dhon-dhon tanpa tabayyun
Tak perlu risau walau kebutuhan menerangbenderangkan belum kesampaian
Tepis keresahanmu atas penilaian yang tak utuh bercampur kesalahanpahaman
Tetaplah memegang teguh komitmen dan integritas
Dan, yang penting niat amal ibadahmu lillah, billah, fillah
Biarlah Allah saja yang memberikan penilaian dan balasan
dan tulusnya penghargaan orang-orang sholih beriman

Wahai diriku...
Bertambah lagi usiaku tahun ini
Atau lebih tepatnya berkuranglah jatah usia kehidupanku di bumi fana
Jangan pernah berhenti menebar manfa'at dan kebaikan
Turutlah menegakkan kejujuran, kebenaran, dan keadilan
mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan kehidupan
membangun adab, akhlaq mulia, dan memahat peradaban
Semoga diriku dikaruniai kesehatan dan ke'afiatan dilimpahi rahmat, diberikan berkah usia dan umur panjang

Diriku...,
hanya ingin lebih baik dari diriku sendiri yang kemarin
Do'aku bukan lagi tentang semoga dan mudah-mudahan
melainkan keyakinan akan hidayah dan pertolongan
diampuni, diridhoi, dan disyafa'atkan
Ya Allah, anugerahkanlah yang terbaik dalam segala hal yang aku tunggu
Bawalah aku ke dalam dekapan-Mu, Ya Rabb
Dan jika saat ajalmu tiba, usahakan dirimu mati dalam Iman dan Islam
meninggal bersama kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kemuliaan

Syaiulillaahi lahu Al Faatihah teruntuk diriku

Kencong Barat, 1 Februari 2026

Kamis, 01 Januari 2026

Buang Rencana Tahunan Anda

Buang Rencana Tahunan Anda

✦ Mengapa sering kali sebagian resolusi tahunan kita tidak berhasil kita eksekusi dan tidak berjalan secara efektif?
📙 Saya pikir perlu dan ada baiknya kita simak ulang postingan video #AniesBacaBuku dalam pembahasan buku: "The 12 Week Year", karya: Brian P. Moran dan Michael Lennington berikut ini. Mumpung masih di awal tahun.
✦ Jangan bikin resolusi tahunan, tapi bikin rencana 12 mingguan.
🔻Buang Rencana Tahunan Anda

✽ “Terima kasih Ya Allah, Engkau memberi kesempatan kepada kami menapaki Tahun Baru 2026. Ya Rabb, bimbing dan pimpin langkah kami, berikan kami taufiq, hidayah dan inayah dalam menjalani hidup dan kehidupan kami ini.”
❀ “Yaa Allah, jauhkanlah, hindarkanlah, dan selamatkanlah Negara kami Indonesia dari segala balak, musibah, dan bencana, gantikan dengan limpahan rahmat dan rizki dari-Mu yang penuh keberkahan.”
✿ Aamiin, aamiin, Ya Rabb al 'Aalamiin...

#PesanAwalTahun:

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.”
✿ Semoga tahun ini dan tahun-tahun ke depan kita mengalami perbaikan, bisa menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Bukan ingin menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi berazzam menjadi lebih baik dari diriku sendiri yang kemarin. Aamiin...

Kamis, 25 Desember 2025

Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa

 Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa

 

Mokh. Ngisom Musurur

 

Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (ta’lim), melainkan upaya sistematis dan proses penanaman nilai dan pembangunan akhlak dan adab (tahdzib/ta’dib). Dalam konteks Indonesia yang berketuhanan dan berbudaya luhur, esensi pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya —insan kamil— yang di dalamnya memiliki husnul khuluq (akhlak baik), matinul khuluq (akhlak kokoh), akhlaqul karimah (akhlak mulia), serta ketinggian dan keluhuran adab semakin mendesak untuk dibangun. Namun, realitas hari ini menunjukkan fenomena mengkhawatirkan dan tantangan besar: krisis nilai dan darurat adab di kalangan murid. Tulisan ini berangkat dari kerisauan bahwa pudarnya adab murid bukan sekadar dekadensi moral dan rapuhnya adab di sekolah, melainkan ancaman bagi fondasi peradaban bangsa. Menyelamatkan adab sebagai ruh utama pendidikan murid merupakan prasyarat strategis menyelamatkan generasi yang akan memegang tongkat estafet pembangunan peradaban bangsa yang luhur dan berkemajuan kini dan di masa depan.

 

Fenomena Degradasi Adab Murid dalam Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

         Degradasi adab murid tampak nyata dalam tiga lingkaran dan ruang utama pendidikan. Di lingkungan keluarga, relasi anak dan orang tua kerap kehilangan nilai takzim, hormat, dan bakti. Di sekolah, kita menyaksikan fenomena ketidakhormatan dan tiadanya penghargaan murid kepada guru. Mereka mengabaikan adab sebagai pintu masuknya ilmu yang bermanfaat dan berkah. Guru sering diposisikan semata-mata sebagai penyampai materi, bukan figur teladan yang dimuliakan. Di masyarakat, budaya tata krama, sopan dan santun berinteraksi kian memudar, digantikan oleh kenekatan tanpa moral dan etika. Sebagian murid menunjukkan sikap arogan, menyepelekan, malas, dan tidak peduli. Ini bukan semata kesalahan individu murid, melainkan kegagalan kolektif dalam menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Hal ini bertentangan dengan tradisi keilmuan klasik, di mana para ulama Salafus Shalih menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu. Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Kami belajar adab sebelum belajar ilmu.” Fenomena ini adalah alarm tanda bahaya. Ketika seorang murid tidak lagi memiliki "rasa malu", "rasa hormat", beban mora, maka ilmu yang mereka serap hanya akan menjadi sarana untuk memuaskan syahwat intelektual tanpa panduan nurani dan tindakan destruktif. Ini adalah awal dari hilangnya keberkahan dalam kehidupan berbangsa.

 

Evaluasi Sistem Pendidikan: Pengabaikan Adab dan Keteladanan Akhlak Mulia

         Sistem pendidikan kita kerap terjebak pada paradigma materialistik-instrumental, yang mengukur keberhasilan hanya dari angka-angka ujian dan capaian kognitif semata. Mengedepankan formalitas daripada integritas, mementingkan eksistensi dibanding esensi, menonjolkan semunya prestasi daripada substansi. Muatan adab dan akhlak sering kali hanya menjadi "pelengkap" dalam buku teks, bukan sebagai ruh yang menghidupi seluruh proses pembelajaran. Nilai-nilai akhlak dan keteladanan sering kali sekedar menjadi slogan normatif dan lemah dalam proses internalisasi yang mendalam. Padahal, para pendiri bangsa kita seperti Ki Hadjar Dewantara menekankan among system: pendidikan sebagai proses memimpin dengan keteladanan, kasih sayang, dan pengabdian serta menuntun kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim secara khusus merumuskan etika guru dan murid. Beliau menegaskan bahwa rusaknya adab murid berawal dari hilangnya adab guru dan sistem yang abai terhadap nilai. K.H. Ahmad Dahlan mempraktikkan pendidikan yang menyatu dengan amal dan akhlak.

         Saat keteladanan guru dan integritas moral lembaga pendidikan memudar, maka yang tersisa hanyalah bangunan ilmu yang rapuh tanpa fondasi adab. Hal ini mengharuskan kita melakukan evaluasi jujur terhadap sistem pendidikan kita. Guru tidak boleh hanya sekadar operator kurikulum, melainkan uswatun hasanah (teladan yang baik) dan melakukan ta’dib atau proses usaha membangun adab. Jika sistem hanya menuntut penyelesaian materi tanpa memberikan ruang bagi internalisasi nilai, maka sekolah tak ubahnya pabrik yang memproduksi mesin-mesin cerdas namun tak berjiwa. Minimnya keteladanan dari orang dewasa di sekitar murid memperparah situasi ini, menciptakan kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dengan kenyataan di lapangan.

 

Urgensi Adab Sebelum Ilmu dalam Perspektif Pendidikan

         Prinsip ini adalah warisan agung peradaban dalam pendidikan, pembelajaran, dan menuntut ilmu. Melalui tradisi dan sejarah para Salafus Shalih telah memberikan panduan baku bahwa adab sebelum ilmu. Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, “Belajarlah kalian adab sebelum mempelajari ilmu,” menjadi pedoman utama. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu ilmu." Mengapa? Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu adalah kelemahan. Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang kotor. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan karya-karyanya menunjukkan betapa ketulusan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada guru menjadi kunci keberkahan ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan, “Siapa yang tidak beradab, niscaya tidak berilmu.” Beliau secara khusus menulis bahwa kegagalan murid dalam meraih manfaat ilmu bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena hilangnya adab terhadap ilmu dan ahlinya. KH. Hasyim Asy’ari melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim mengingatkan bahwa integritas seorang pelajar terletak pada keseimbangan antara olah rasa, olah karsa, dan olah pikir. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata penghancur di tangan orang yang salah. Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan Pendidikan sebagai ta’dib—proses penanaman adab dalam diri manusia. Adablah yang mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan, mencegah penyalahgunaan, dan menjadikan pemiliknya rendah hati (tawadhu’). Dalam konteks kebangsaan, Ki Hajar Dewantara dengan konsep "Budi Pekerti". Mohammad Natsir juga kerap menekankan bahwa ilmu tanpa iman dan adab adalah petaka. Adab melahirkan keberkahan, dan keberkahan adalah ruh peradaban. Tanpa adab, ilmu justru dapat menjadi alat penindasan dan kerusakan.

 

Integrasi Konsep Ta'dib, Tahdzib, Tarbiyah, Ta'lim, dan Tadris dalam Membentuk Insan Kamil

         Pendidikan yang utuh harus mengintegrasikan lima konsep utama: ta’dib (penanaman adab), tahdzib (penyucian dan pembinaan akhlak), tarbiyah (pengembangan potensi secara bertahap), ta’lim (transfer ilmu), dan tadris (proses pengajaran sistematis). Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis pendidikan modern berakar pada hilangnya konsep ta’dib. Pendidikan seharusnya menghasilkan insan adabi, manusia yang mengetahui tempat segala sesuatu secara proporsional. Konsep insan kamil bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang spiritual dan luhur akhlak. K.H. Ahmad Dahlan melalui praksis pendidikan Muhammadiyah dan Mohammad Natsir melalui pemikiran dakwah dan pendidikannya sama-sama menekankan integrasi iman, ilmu, dan amal. Pendidikan tidak boleh tercerabut dari nilai tauhid dan tanggung jawab peradaban.

 

Strategi Membangun Adab untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa yang Luhur dan Berkemajuan

         Membangun kembali adab murid membutuhkan ikhtiar kolektif dan sistemik. Pertama, keluarga harus menjadi madrasah pertama dan utama adab dan keteladanan. Kedua, sekolah harus berani menjadikan penilaian adab sebagai komponen utama, mengembalikan otoritas dan martabat guru, serta mengintegrasikan nilai-nilai adab dalam semua mata pelajaran. Ketiga, masyarakat perlu menghidupkan budaya menghormati dan menghargai guru serta menciptakan ekosistem sosial yang menghargai adab, tata krama, etika, dan keilmuan. Keempat, pemerintah harus merancang kebijakan pendidikan yang memprioritaskan pembangunan karakter, melindungi guru, dan mendukung praktik-praktik pendidikan berbasis adab.

              Membangun adab murid yang memudar adalah pekerjaan besar yang menentukan wajah peradaban bangsa di masa depan. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang cerdas namun korup, pintar namun tidak bijak, dan maju teknologinya namun miskin jiwanya. Dengan kembali kepada khazanah pemikiran para ulama, pendiri bangsa, dan tokoh pendidikan dunia, tekad mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, serta menerapkannya secara kontekstual, kita dapat menata ulang pendidikan kita. Tujuan akhirnya bukan sekadar mencetak pekerja yang terampil, tetapi membangun manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, beradab—yang dengan adabnya itu, ilmu yang dimiliki akan menjadi cahaya yang membimbing dirinya dan bangsanya menuju lahirnya peradaban luhur, bermartabat, dan berkemajuan sejati. Maka, mari kita mulai dari hal sederhana: memuliakan guru, menghormati proses, dan menempatkan adab sebelum ilmu dalam setiap kegiatan pendidikan dan langkah pembelajaran.

Rabu, 10 Desember 2025

Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia

Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia

Saya ini tidak paham HAM atau Hak Asasi Manusia. Hak asasi kita sebagai manusia apa? Hak asasi kita yang mana? Benarkah kita ini punya hak asasi?

Yang saya mengerti, kita ini seharusnya benar-benar menyadari dan fokus berpikir pada menjalankan kewajiban asasi ketimbang (merasa memiliki dan menuntut) hak asasi.

Lupakan saja itu Hari HAM (Hak Asasi Manusia). Tidak ada itu yang namanya hak asasi manusia. Yang ada itu sebenarnya kewajiban asasi manusia. Hari-hari kita semestinya kita isi dengan kewajiban asasi manusia. Urusan kita ini, wajibnya ya menjalankan atau mengamalkan kewajiban asasi manusia. Mengenai urusan hak asasi manusia serahpasrahkan saja kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.