Oleh: Mokh. Ngisom Musurur
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Alhamdulillah,
tamu agung nan mulia itu benar-benar sudah mengunjungi kita. Kita dipertemukan
kembali dengannya, yakni Sayyidus Syuhur Ramadhan karim. Bulan yang secara
literal menjadi bulan pembeda dengan bulan lain. Mari kita terima anugerah
bulan Ramadhan ini dengan penuh kesyukuran dan kebahagiaan.
Hanya di bulan ini, berbagai keistemewaan membuncah
ruah. Mengapa Ramadan Begitu Istimewa? Karena di bulan ini, ada
ampunan Allah yang sangat luar biasa. Kebaikan tak pernah bernilai
biasa. Setiap amal dilipatgandakan pahalanya. Setiap doa punya ruang lebih
dekat untuk dikabulkan. Bahkan godaan pun dipersempit, agar kita lebih mudah
menjaga diri. Ramadhan menjadi istimewa karena terdapat peluang untuk
menjauhkan diri dari setan. Di samping itu, karena di bulan ramadhan semua
waktu siang dan malam mempercepat terkabulnya doa. Keistimewaan ini
dijelaskan dalam Al Qur’ân dari surah Al-Baqarah ayat 186, yang
berada dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa, yaitu dari ayat 183 hingga 187.
Ayat ini secara khusus menegaskan bahwa do'a di bulan Ramadhan memiliki peluang
besar untuk dikabulkan. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat
186: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad)
tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdo'a apabila dia berdo'a kepada-Ku."
Ya, hanya di bulan ini segala sesuatunya teramat istimewa dan penuh berkah. Dan, sangat beralasan jika Ramadhan dikatakan bulan yang teramat istimewa dan penuh berkah. Di bulan inilah Al Qur’ân diturunkan (QS. Al-Baqarah [2]: 185), pada bulan inilah terdapat malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar (QS. Al-Qadr [97]: 1–5). Bulan yang digunakan untuk menjalankan salah satu Rukun Islam, yakni shiyam (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Bulan yang jika mengerjakan amal-amal baik, seperti puasa dan shalat tarawih, maka akan menghapuskan dosa-dosa (kecil) yang telah lalu (HR. Bukhari). Bulan yang dibuka pintu surga, dibuka pintu rahmat, ditutup pintu neraka, dan setan dibelenggu (HR. Muslim). Bulan yang amalan sunnah akan diganjar pahala layaknya amalan wajib (HR. Muslim). Bulan yang berlipat pahala menjadi 70 kali bagi amalan wajib (HR. Muslim), bahkan hingga 700 kali lipat (HR. Muttafaqun 'Alaih).
Maasyaa Allah, tabaaraka Allah. Di antara yang sangat khas dengan Ramadhan adalah semangat berbagi. Semangat menjadikan tangan berbagi, tangan-tangan filantropi. Seperti dalam rekam sejarah seorang sahabat Abdullah Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu. Beliau memiliki kebiasaan berbuka puasa bersama anak yatim dan orang miskin. Bahkan, terkadang putra tercinta sahabat mulia, Umar bin Khatab radhiyallaahu ‘anhu ini tidak berbuka meski sudah memasuki waktu Maghrib ketika keluarganya belum menghadirkan mereka para fakir miskin di rumahnya.
Ayub bin Wail ar-Rasibi pernah menyaksikan kejadian menakjubkan tentang beliau. Suatu hari Ibnu Umar mendapatkan kiriman harta senilai 4.000 dirham (sekitar Rp 180 juta) dan satu baju yang ada bulunya.
Keesokan harinya, Ayub bin Wail ini melihat Ibnu Umar di pasar membeli pakan kudanya dengan utang. Ayub pun keheranan. Karena, baru kemarin Ibnu Umar baru mendapat 4.000 dirham, tapi untuk membeli pakan kuda saja pakai utang.
Karena penasaran, Ayub kemudian datang menemui keluarga Ibnu Umar. Cerita keluarganya, “Uang itu belum sempat menginap semalam, namun sudah dibagikansemuanya kepada fakir miskin. Lalu, beliau mengambil baju yang ada bulunya, beliau pakai keluar rumah, dan Ketika pulang, baju itu sudah tidak ada. Ketika kami tanyakan, beliau sudah berikan baju itu kepada fakir miskin.”
Adakah sekarang di bulan mulia yang baru dua hari ini, tergerak dengan menjadikan tangan kita tangan berbagi, tangan Abdullah bin Umar. Bersuanya kita dengan Ramadhan, karena bersuanya kita dalam menyemangati diri untuk selalu berbagi. Insyaa Allah.
.png)
).png)



