Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa
Mokh.
Ngisom Musurur
Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (ta’lim), melainkan
upaya sistematis dan proses penanaman nilai dan pembangunan akhlak dan adab (tahdzib/ta’dib).
Dalam konteks Indonesia yang berketuhanan dan berbudaya luhur, esensi
pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya —insan kamil— yang di
dalamnya memiliki husnul khuluq (akhlak baik), matinul khuluq
(akhlak kokoh), akhlaqul karimah (akhlak mulia), serta ketinggian dan
keluhuran adab semakin mendesak untuk dibangun. Namun, realitas hari ini
menunjukkan fenomena mengkhawatirkan dan tantangan besar: krisis nilai dan
darurat adab di kalangan murid. Tulisan ini berangkat dari kerisauan bahwa
pudarnya adab murid bukan sekadar dekadensi moral dan rapuhnya adab di sekolah,
melainkan ancaman bagi fondasi peradaban bangsa. Menyelamatkan adab sebagai ruh
utama pendidikan murid merupakan prasyarat strategis menyelamatkan generasi
yang akan memegang tongkat estafet pembangunan peradaban bangsa yang luhur dan
berkemajuan kini dan di masa depan.
Fenomena
Degradasi Adab Murid dalam Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Degradasi
adab murid tampak nyata dalam tiga lingkaran dan ruang utama pendidikan. Di
lingkungan keluarga, relasi anak dan orang tua kerap kehilangan nilai takzim,
hormat, dan bakti. Di sekolah, kita menyaksikan fenomena ketidakhormatan dan
tiadanya penghargaan murid kepada guru. Mereka mengabaikan adab sebagai pintu
masuknya ilmu yang bermanfaat dan berkah. Guru sering diposisikan semata-mata
sebagai penyampai materi, bukan figur teladan yang dimuliakan. Di masyarakat, budaya
tata krama, sopan dan santun berinteraksi kian memudar, digantikan oleh kenekatan
tanpa moral dan etika. Sebagian murid menunjukkan sikap arogan, menyepelekan,
malas, dan tidak peduli. Ini bukan semata kesalahan individu murid, melainkan
kegagalan kolektif dalam menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Hal ini
bertentangan dengan tradisi keilmuan klasik, di mana para ulama Salafus Shalih
menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu. Abdullah bin al-Mubarak
berkata, “Kami belajar adab sebelum belajar ilmu.” Fenomena ini adalah
alarm tanda bahaya. Ketika seorang murid tidak lagi memiliki "rasa
malu", "rasa hormat", beban mora, maka ilmu yang mereka serap
hanya akan menjadi sarana untuk memuaskan syahwat intelektual tanpa panduan nurani
dan tindakan destruktif. Ini adalah awal dari hilangnya keberkahan dalam
kehidupan berbangsa.
Evaluasi
Sistem Pendidikan: Pengabaikan Adab dan Keteladanan Akhlak Mulia
Sistem pendidikan kita kerap terjebak
pada paradigma materialistik-instrumental, yang mengukur keberhasilan hanya
dari angka-angka ujian dan capaian kognitif semata. Mengedepankan formalitas
daripada integritas, mementingkan eksistensi dibanding esensi, menonjolkan
semunya prestasi daripada substansi. Muatan adab dan akhlak sering kali hanya
menjadi "pelengkap" dalam buku teks, bukan sebagai ruh yang
menghidupi seluruh proses pembelajaran. Nilai-nilai akhlak dan keteladanan
sering kali sekedar menjadi slogan normatif dan lemah dalam proses
internalisasi yang mendalam. Padahal, para pendiri bangsa kita seperti Ki Hadjar
Dewantara menekankan among system: pendidikan sebagai proses
memimpin dengan keteladanan, kasih sayang, dan pengabdian serta menuntun
kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. K.H. Hasyim Asy’ari dalam
Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim secara khusus merumuskan etika guru
dan murid. Beliau menegaskan bahwa rusaknya adab murid berawal dari hilangnya
adab guru dan sistem yang abai terhadap nilai. K.H. Ahmad Dahlan mempraktikkan pendidikan
yang menyatu dengan amal dan akhlak.
Saat keteladanan guru dan integritas
moral lembaga pendidikan memudar, maka yang tersisa hanyalah bangunan ilmu yang
rapuh tanpa fondasi adab. Hal ini mengharuskan kita melakukan evaluasi jujur
terhadap sistem pendidikan kita. Guru tidak boleh hanya sekadar operator
kurikulum, melainkan uswatun hasanah (teladan yang baik) dan melakukan ta’dib
atau proses usaha membangun adab. Jika sistem hanya menuntut penyelesaian
materi tanpa memberikan ruang bagi internalisasi nilai, maka sekolah tak
ubahnya pabrik yang memproduksi mesin-mesin cerdas namun tak berjiwa. Minimnya
keteladanan dari orang dewasa di sekitar murid memperparah situasi ini,
menciptakan kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dengan
kenyataan di lapangan.
Urgensi
Adab Sebelum Ilmu dalam Perspektif Pendidikan
Prinsip ini adalah warisan agung
peradaban dalam pendidikan, pembelajaran, dan menuntut ilmu. Melalui tradisi
dan sejarah para Salafus Shalih telah memberikan panduan baku bahwa adab
sebelum ilmu. Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, “Belajarlah
kalian adab sebelum mempelajari ilmu,” menjadi pedoman utama. Imam Malik rahimahullah
pernah berpesan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu
ilmu." Mengapa? Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan
kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu adalah kelemahan. Imam al-Ghazali
menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang
kotor. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan karya-karyanya menunjukkan betapa
ketulusan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada guru menjadi kunci
keberkahan ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan,
“Siapa yang tidak beradab, niscaya tidak berilmu.” Beliau secara khusus
menulis bahwa kegagalan murid dalam meraih manfaat ilmu bukan karena kurangnya
kecerdasan, melainkan karena hilangnya adab terhadap ilmu dan ahlinya. KH.
Hasyim Asy’ari melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim mengingatkan
bahwa integritas seorang pelajar terletak pada keseimbangan antara olah rasa,
olah karsa, dan olah pikir. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata
penghancur di tangan orang yang salah. Syed Muhammad Naquib al-Attas
mendefinisikan Pendidikan sebagai ta’dib—proses penanaman adab
dalam diri manusia. Adablah yang mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan, mencegah
penyalahgunaan, dan menjadikan pemiliknya rendah hati (tawadhu’). Dalam konteks
kebangsaan, Ki Hajar Dewantara dengan konsep "Budi Pekerti". Mohammad
Natsir juga kerap menekankan bahwa ilmu tanpa iman dan adab adalah petaka. Adab
melahirkan keberkahan, dan keberkahan adalah ruh peradaban. Tanpa adab, ilmu
justru dapat menjadi alat penindasan dan kerusakan.
Integrasi
Konsep Ta'dib, Tahdzib, Tarbiyah, Ta'lim, dan Tadris dalam Membentuk Insan
Kamil
Pendidikan yang utuh harus
mengintegrasikan lima konsep utama: ta’dib (penanaman adab), tahdzib
(penyucian dan pembinaan akhlak), tarbiyah (pengembangan potensi secara
bertahap), ta’lim (transfer ilmu), dan tadris (proses pengajaran sistematis). Syed
Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis pendidikan modern berakar pada
hilangnya konsep ta’dib. Pendidikan seharusnya menghasilkan insan
adabi, manusia yang mengetahui tempat segala sesuatu secara proporsional.
Konsep insan kamil bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang
spiritual dan luhur akhlak. K.H. Ahmad Dahlan melalui praksis pendidikan
Muhammadiyah dan Mohammad Natsir melalui pemikiran dakwah dan pendidikannya
sama-sama menekankan integrasi iman, ilmu, dan amal. Pendidikan tidak boleh
tercerabut dari nilai tauhid dan tanggung jawab peradaban.
Strategi
Membangun Adab untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa yang Luhur dan Berkemajuan
Membangun kembali adab murid
membutuhkan ikhtiar kolektif dan sistemik. Pertama, keluarga harus menjadi
madrasah pertama dan utama adab dan keteladanan. Kedua, sekolah harus berani
menjadikan penilaian adab sebagai komponen utama, mengembalikan otoritas dan
martabat guru, serta mengintegrasikan nilai-nilai adab dalam semua mata
pelajaran. Ketiga, masyarakat perlu menghidupkan budaya menghormati dan
menghargai guru serta menciptakan ekosistem sosial yang menghargai adab, tata
krama, etika, dan keilmuan. Keempat, pemerintah harus merancang kebijakan
pendidikan yang memprioritaskan pembangunan karakter, melindungi guru, dan
mendukung praktik-praktik pendidikan berbasis adab.