Halaman

Kamis, 25 Desember 2025

Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa

 Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa

 

Mokh. Ngisom Musurur

 

Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (ta’lim), melainkan upaya sistematis dan proses penanaman nilai dan pembangunan akhlak dan adab (tahdzib/ta’dib). Dalam konteks Indonesia yang berketuhanan dan berbudaya luhur, esensi pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya —insan kamil— yang di dalamnya memiliki husnul khuluq (akhlak baik), matinul khuluq (akhlak kokoh), akhlaqul karimah (akhlak mulia), serta ketinggian dan keluhuran adab semakin mendesak untuk dibangun. Namun, realitas hari ini menunjukkan fenomena mengkhawatirkan dan tantangan besar: krisis nilai dan darurat adab di kalangan murid. Tulisan ini berangkat dari kerisauan bahwa pudarnya adab murid bukan sekadar dekadensi moral dan rapuhnya adab di sekolah, melainkan ancaman bagi fondasi peradaban bangsa. Menyelamatkan adab sebagai ruh utama pendidikan murid merupakan prasyarat strategis menyelamatkan generasi yang akan memegang tongkat estafet pembangunan peradaban bangsa yang luhur dan berkemajuan kini dan di masa depan.

 

Fenomena Degradasi Adab Murid dalam Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

         Degradasi adab murid tampak nyata dalam tiga lingkaran dan ruang utama pendidikan. Di lingkungan keluarga, relasi anak dan orang tua kerap kehilangan nilai takzim, hormat, dan bakti. Di sekolah, kita menyaksikan fenomena ketidakhormatan dan tiadanya penghargaan murid kepada guru. Mereka mengabaikan adab sebagai pintu masuknya ilmu yang bermanfaat dan berkah. Guru sering diposisikan semata-mata sebagai penyampai materi, bukan figur teladan yang dimuliakan. Di masyarakat, budaya tata krama, sopan dan santun berinteraksi kian memudar, digantikan oleh kenekatan tanpa moral dan etika. Sebagian murid menunjukkan sikap arogan, menyepelekan, malas, dan tidak peduli. Ini bukan semata kesalahan individu murid, melainkan kegagalan kolektif dalam menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Hal ini bertentangan dengan tradisi keilmuan klasik, di mana para ulama Salafus Shalih menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu. Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Kami belajar adab sebelum belajar ilmu.” Fenomena ini adalah alarm tanda bahaya. Ketika seorang murid tidak lagi memiliki "rasa malu", "rasa hormat", beban mora, maka ilmu yang mereka serap hanya akan menjadi sarana untuk memuaskan syahwat intelektual tanpa panduan nurani dan tindakan destruktif. Ini adalah awal dari hilangnya keberkahan dalam kehidupan berbangsa.

 

Evaluasi Sistem Pendidikan: Pengabaikan Adab dan Keteladanan Akhlak Mulia

         Sistem pendidikan kita kerap terjebak pada paradigma materialistik-instrumental, yang mengukur keberhasilan hanya dari angka-angka ujian dan capaian kognitif semata. Mengedepankan formalitas daripada integritas, mementingkan eksistensi dibanding esensi, menonjolkan semunya prestasi daripada substansi. Muatan adab dan akhlak sering kali hanya menjadi "pelengkap" dalam buku teks, bukan sebagai ruh yang menghidupi seluruh proses pembelajaran. Nilai-nilai akhlak dan keteladanan sering kali sekedar menjadi slogan normatif dan lemah dalam proses internalisasi yang mendalam. Padahal, para pendiri bangsa kita seperti Ki Hadjar Dewantara menekankan among system: pendidikan sebagai proses memimpin dengan keteladanan, kasih sayang, dan pengabdian serta menuntun kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim secara khusus merumuskan etika guru dan murid. Beliau menegaskan bahwa rusaknya adab murid berawal dari hilangnya adab guru dan sistem yang abai terhadap nilai. K.H. Ahmad Dahlan mempraktikkan pendidikan yang menyatu dengan amal dan akhlak.

         Saat keteladanan guru dan integritas moral lembaga pendidikan memudar, maka yang tersisa hanyalah bangunan ilmu yang rapuh tanpa fondasi adab. Hal ini mengharuskan kita melakukan evaluasi jujur terhadap sistem pendidikan kita. Guru tidak boleh hanya sekadar operator kurikulum, melainkan uswatun hasanah (teladan yang baik) dan melakukan ta’dib atau proses usaha membangun adab. Jika sistem hanya menuntut penyelesaian materi tanpa memberikan ruang bagi internalisasi nilai, maka sekolah tak ubahnya pabrik yang memproduksi mesin-mesin cerdas namun tak berjiwa. Minimnya keteladanan dari orang dewasa di sekitar murid memperparah situasi ini, menciptakan kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dengan kenyataan di lapangan.

 

Urgensi Adab Sebelum Ilmu dalam Perspektif Pendidikan

         Prinsip ini adalah warisan agung peradaban dalam pendidikan, pembelajaran, dan menuntut ilmu. Melalui tradisi dan sejarah para Salafus Shalih telah memberikan panduan baku bahwa adab sebelum ilmu. Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, “Belajarlah kalian adab sebelum mempelajari ilmu,” menjadi pedoman utama. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu ilmu." Mengapa? Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu adalah kelemahan. Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang kotor. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan karya-karyanya menunjukkan betapa ketulusan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada guru menjadi kunci keberkahan ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan, “Siapa yang tidak beradab, niscaya tidak berilmu.” Beliau secara khusus menulis bahwa kegagalan murid dalam meraih manfaat ilmu bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena hilangnya adab terhadap ilmu dan ahlinya. KH. Hasyim Asy’ari melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim mengingatkan bahwa integritas seorang pelajar terletak pada keseimbangan antara olah rasa, olah karsa, dan olah pikir. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata penghancur di tangan orang yang salah. Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan Pendidikan sebagai ta’dib—proses penanaman adab dalam diri manusia. Adablah yang mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan, mencegah penyalahgunaan, dan menjadikan pemiliknya rendah hati (tawadhu’). Dalam konteks kebangsaan, Ki Hajar Dewantara dengan konsep "Budi Pekerti". Mohammad Natsir juga kerap menekankan bahwa ilmu tanpa iman dan adab adalah petaka. Adab melahirkan keberkahan, dan keberkahan adalah ruh peradaban. Tanpa adab, ilmu justru dapat menjadi alat penindasan dan kerusakan.

 

Integrasi Konsep Ta'dib, Tahdzib, Tarbiyah, Ta'lim, dan Tadris dalam Membentuk Insan Kamil

         Pendidikan yang utuh harus mengintegrasikan lima konsep utama: ta’dib (penanaman adab), tahdzib (penyucian dan pembinaan akhlak), tarbiyah (pengembangan potensi secara bertahap), ta’lim (transfer ilmu), dan tadris (proses pengajaran sistematis). Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis pendidikan modern berakar pada hilangnya konsep ta’dib. Pendidikan seharusnya menghasilkan insan adabi, manusia yang mengetahui tempat segala sesuatu secara proporsional. Konsep insan kamil bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang spiritual dan luhur akhlak. K.H. Ahmad Dahlan melalui praksis pendidikan Muhammadiyah dan Mohammad Natsir melalui pemikiran dakwah dan pendidikannya sama-sama menekankan integrasi iman, ilmu, dan amal. Pendidikan tidak boleh tercerabut dari nilai tauhid dan tanggung jawab peradaban.

 

Strategi Membangun Adab untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa yang Luhur dan Berkemajuan

         Membangun kembali adab murid membutuhkan ikhtiar kolektif dan sistemik. Pertama, keluarga harus menjadi madrasah pertama dan utama adab dan keteladanan. Kedua, sekolah harus berani menjadikan penilaian adab sebagai komponen utama, mengembalikan otoritas dan martabat guru, serta mengintegrasikan nilai-nilai adab dalam semua mata pelajaran. Ketiga, masyarakat perlu menghidupkan budaya menghormati dan menghargai guru serta menciptakan ekosistem sosial yang menghargai adab, tata krama, etika, dan keilmuan. Keempat, pemerintah harus merancang kebijakan pendidikan yang memprioritaskan pembangunan karakter, melindungi guru, dan mendukung praktik-praktik pendidikan berbasis adab.

              Membangun adab murid yang memudar adalah pekerjaan besar yang menentukan wajah peradaban bangsa di masa depan. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang cerdas namun korup, pintar namun tidak bijak, dan maju teknologinya namun miskin jiwanya. Dengan kembali kepada khazanah pemikiran para ulama, pendiri bangsa, dan tokoh pendidikan dunia, tekad mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, serta menerapkannya secara kontekstual, kita dapat menata ulang pendidikan kita. Tujuan akhirnya bukan sekadar mencetak pekerja yang terampil, tetapi membangun manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, beradab—yang dengan adabnya itu, ilmu yang dimiliki akan menjadi cahaya yang membimbing dirinya dan bangsanya menuju lahirnya peradaban luhur, bermartabat, dan berkemajuan sejati. Maka, mari kita mulai dari hal sederhana: memuliakan guru, menghormati proses, dan menempatkan adab sebelum ilmu dalam setiap kegiatan pendidikan dan langkah pembelajaran.

Rabu, 10 Desember 2025

Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia

Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia

Saya ini tidak paham HAM atau Hak Asasi Manusia. Hak asasi kita sebagai manusia apa? Hak asasi kita yang mana? Benarkah kita ini punya hak asasi?

Yang saya mengerti, kita ini seharusnya benar-benar menyadari dan fokus berpikir pada menjalankan kewajiban asasi ketimbang (merasa memiliki dan menuntut) hak asasi.

Lupakan saja itu Hari HAM (Hak Asasi Manusia). Tidak ada itu yang namanya hak asasi manusia. Yang ada itu sebenarnya kewajiban asasi manusia. Hari-hari kita semestinya kita isi dengan kewajiban asasi manusia. Urusan kita ini, wajibnya ya menjalankan atau mengamalkan kewajiban asasi manusia. Mengenai urusan hak asasi manusia serahpasrahkan saja kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.