Halaman

Kamis, 01 Januari 2026

Buang Rencana Tahunan Anda

Buang Rencana Tahunan Anda

✦ Mengapa sering kali sebagian resolusi tahunan kita tidak berhasil kita eksekusi dan tidak berjalan secara efektif?
📙 Saya pikir perlu dan ada baiknya kita simak ulang postingan video #AniesBacaBuku dalam pembahasan buku: "The 12 Week Year", karya: Brian P. Moran dan Michael Lennington berikut ini. Mumpung masih di awal tahun.
✦ Jangan bikin resolusi tahunan, tapi bikin rencana 12 mingguan.
🔻Buang Rencana Tahunan Anda

✽ “Terima kasih Ya Allah, Engkau memberi kesempatan kepada kami menapaki Tahun Baru 2026. Ya Rabb, bimbing dan pimpin langkah kami, berikan kami taufiq, hidayah dan inayah dalam menjalani hidup dan kehidupan kami ini.”
❀ “Yaa Allah, jauhkanlah, hindarkanlah, dan selamatkanlah Negara kami Indonesia dari segala balak, musibah, dan bencana, gantikan dengan limpahan rahmat dan rizki dari-Mu yang penuh keberkahan.”
✿ Aamiin, aamiin, Ya Rabb al 'Aalamiin...

#PesanAwalTahun:

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.”
✿ Semoga tahun ini dan tahun-tahun ke depan kita mengalami perbaikan, bisa menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Bukan ingin menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi berazzam menjadi lebih baik dari diriku sendiri yang kemarin. Aamiin...

Kamis, 25 Desember 2025

Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa

 Membangun Adab Murid yang Memudar dan Masa Depan Peradaban Bangsa

 

Mokh. Ngisom Musurur

 

Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (ta’lim), melainkan upaya sistematis dan proses penanaman nilai dan pembangunan akhlak dan adab (tahdzib/ta’dib). Dalam konteks Indonesia yang berketuhanan dan berbudaya luhur, esensi pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya —insan kamil— yang di dalamnya memiliki husnul khuluq (akhlak baik), matinul khuluq (akhlak kokoh), akhlaqul karimah (akhlak mulia), serta ketinggian dan keluhuran adab semakin mendesak untuk dibangun. Namun, realitas hari ini menunjukkan fenomena mengkhawatirkan dan tantangan besar: krisis nilai dan darurat adab di kalangan murid. Tulisan ini berangkat dari kerisauan bahwa pudarnya adab murid bukan sekadar dekadensi moral dan rapuhnya adab di sekolah, melainkan ancaman bagi fondasi peradaban bangsa. Menyelamatkan adab sebagai ruh utama pendidikan murid merupakan prasyarat strategis menyelamatkan generasi yang akan memegang tongkat estafet pembangunan peradaban bangsa yang luhur dan berkemajuan kini dan di masa depan.

 

Fenomena Degradasi Adab Murid dalam Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

         Degradasi adab murid tampak nyata dalam tiga lingkaran dan ruang utama pendidikan. Di lingkungan keluarga, relasi anak dan orang tua kerap kehilangan nilai takzim, hormat, dan bakti. Di sekolah, kita menyaksikan fenomena ketidakhormatan dan tiadanya penghargaan murid kepada guru. Mereka mengabaikan adab sebagai pintu masuknya ilmu yang bermanfaat dan berkah. Guru sering diposisikan semata-mata sebagai penyampai materi, bukan figur teladan yang dimuliakan. Di masyarakat, budaya tata krama, sopan dan santun berinteraksi kian memudar, digantikan oleh kenekatan tanpa moral dan etika. Sebagian murid menunjukkan sikap arogan, menyepelekan, malas, dan tidak peduli. Ini bukan semata kesalahan individu murid, melainkan kegagalan kolektif dalam menanamkan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Hal ini bertentangan dengan tradisi keilmuan klasik, di mana para ulama Salafus Shalih menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu. Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Kami belajar adab sebelum belajar ilmu.” Fenomena ini adalah alarm tanda bahaya. Ketika seorang murid tidak lagi memiliki "rasa malu", "rasa hormat", beban mora, maka ilmu yang mereka serap hanya akan menjadi sarana untuk memuaskan syahwat intelektual tanpa panduan nurani dan tindakan destruktif. Ini adalah awal dari hilangnya keberkahan dalam kehidupan berbangsa.

 

Evaluasi Sistem Pendidikan: Pengabaikan Adab dan Keteladanan Akhlak Mulia

         Sistem pendidikan kita kerap terjebak pada paradigma materialistik-instrumental, yang mengukur keberhasilan hanya dari angka-angka ujian dan capaian kognitif semata. Mengedepankan formalitas daripada integritas, mementingkan eksistensi dibanding esensi, menonjolkan semunya prestasi daripada substansi. Muatan adab dan akhlak sering kali hanya menjadi "pelengkap" dalam buku teks, bukan sebagai ruh yang menghidupi seluruh proses pembelajaran. Nilai-nilai akhlak dan keteladanan sering kali sekedar menjadi slogan normatif dan lemah dalam proses internalisasi yang mendalam. Padahal, para pendiri bangsa kita seperti Ki Hadjar Dewantara menekankan among system: pendidikan sebagai proses memimpin dengan keteladanan, kasih sayang, dan pengabdian serta menuntun kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim secara khusus merumuskan etika guru dan murid. Beliau menegaskan bahwa rusaknya adab murid berawal dari hilangnya adab guru dan sistem yang abai terhadap nilai. K.H. Ahmad Dahlan mempraktikkan pendidikan yang menyatu dengan amal dan akhlak.

         Saat keteladanan guru dan integritas moral lembaga pendidikan memudar, maka yang tersisa hanyalah bangunan ilmu yang rapuh tanpa fondasi adab. Hal ini mengharuskan kita melakukan evaluasi jujur terhadap sistem pendidikan kita. Guru tidak boleh hanya sekadar operator kurikulum, melainkan uswatun hasanah (teladan yang baik) dan melakukan ta’dib atau proses usaha membangun adab. Jika sistem hanya menuntut penyelesaian materi tanpa memberikan ruang bagi internalisasi nilai, maka sekolah tak ubahnya pabrik yang memproduksi mesin-mesin cerdas namun tak berjiwa. Minimnya keteladanan dari orang dewasa di sekitar murid memperparah situasi ini, menciptakan kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dengan kenyataan di lapangan.

 

Urgensi Adab Sebelum Ilmu dalam Perspektif Pendidikan

         Prinsip ini adalah warisan agung peradaban dalam pendidikan, pembelajaran, dan menuntut ilmu. Melalui tradisi dan sejarah para Salafus Shalih telah memberikan panduan baku bahwa adab sebelum ilmu. Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, “Belajarlah kalian adab sebelum mempelajari ilmu,” menjadi pedoman utama. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu ilmu." Mengapa? Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu adalah kelemahan. Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang kotor. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan karya-karyanya menunjukkan betapa ketulusan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada guru menjadi kunci keberkahan ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan, “Siapa yang tidak beradab, niscaya tidak berilmu.” Beliau secara khusus menulis bahwa kegagalan murid dalam meraih manfaat ilmu bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena hilangnya adab terhadap ilmu dan ahlinya. KH. Hasyim Asy’ari melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim mengingatkan bahwa integritas seorang pelajar terletak pada keseimbangan antara olah rasa, olah karsa, dan olah pikir. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata penghancur di tangan orang yang salah. Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan Pendidikan sebagai ta’dib—proses penanaman adab dalam diri manusia. Adablah yang mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan, mencegah penyalahgunaan, dan menjadikan pemiliknya rendah hati (tawadhu’). Dalam konteks kebangsaan, Ki Hajar Dewantara dengan konsep "Budi Pekerti". Mohammad Natsir juga kerap menekankan bahwa ilmu tanpa iman dan adab adalah petaka. Adab melahirkan keberkahan, dan keberkahan adalah ruh peradaban. Tanpa adab, ilmu justru dapat menjadi alat penindasan dan kerusakan.

 

Integrasi Konsep Ta'dib, Tahdzib, Tarbiyah, Ta'lim, dan Tadris dalam Membentuk Insan Kamil

         Pendidikan yang utuh harus mengintegrasikan lima konsep utama: ta’dib (penanaman adab), tahdzib (penyucian dan pembinaan akhlak), tarbiyah (pengembangan potensi secara bertahap), ta’lim (transfer ilmu), dan tadris (proses pengajaran sistematis). Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis pendidikan modern berakar pada hilangnya konsep ta’dib. Pendidikan seharusnya menghasilkan insan adabi, manusia yang mengetahui tempat segala sesuatu secara proporsional. Konsep insan kamil bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang spiritual dan luhur akhlak. K.H. Ahmad Dahlan melalui praksis pendidikan Muhammadiyah dan Mohammad Natsir melalui pemikiran dakwah dan pendidikannya sama-sama menekankan integrasi iman, ilmu, dan amal. Pendidikan tidak boleh tercerabut dari nilai tauhid dan tanggung jawab peradaban.

 

Strategi Membangun Adab untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa yang Luhur dan Berkemajuan

         Membangun kembali adab murid membutuhkan ikhtiar kolektif dan sistemik. Pertama, keluarga harus menjadi madrasah pertama dan utama adab dan keteladanan. Kedua, sekolah harus berani menjadikan penilaian adab sebagai komponen utama, mengembalikan otoritas dan martabat guru, serta mengintegrasikan nilai-nilai adab dalam semua mata pelajaran. Ketiga, masyarakat perlu menghidupkan budaya menghormati dan menghargai guru serta menciptakan ekosistem sosial yang menghargai adab, tata krama, etika, dan keilmuan. Keempat, pemerintah harus merancang kebijakan pendidikan yang memprioritaskan pembangunan karakter, melindungi guru, dan mendukung praktik-praktik pendidikan berbasis adab.

              Membangun adab murid yang memudar adalah pekerjaan besar yang menentukan wajah peradaban bangsa di masa depan. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang cerdas namun korup, pintar namun tidak bijak, dan maju teknologinya namun miskin jiwanya. Dengan kembali kepada khazanah pemikiran para ulama, pendiri bangsa, dan tokoh pendidikan dunia, tekad mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, serta menerapkannya secara kontekstual, kita dapat menata ulang pendidikan kita. Tujuan akhirnya bukan sekadar mencetak pekerja yang terampil, tetapi membangun manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, beradab—yang dengan adabnya itu, ilmu yang dimiliki akan menjadi cahaya yang membimbing dirinya dan bangsanya menuju lahirnya peradaban luhur, bermartabat, dan berkemajuan sejati. Maka, mari kita mulai dari hal sederhana: memuliakan guru, menghormati proses, dan menempatkan adab sebelum ilmu dalam setiap kegiatan pendidikan dan langkah pembelajaran.

Rabu, 10 Desember 2025

Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia

Tidak Ada Namanya Hak Asasi Manusia

Saya ini tidak paham HAM atau Hak Asasi Manusia. Hak asasi kita sebagai manusia apa? Hak asasi kita yang mana? Benarkah kita ini punya hak asasi?

Yang saya mengerti, kita ini seharusnya benar-benar menyadari dan fokus berpikir pada menjalankan kewajiban asasi ketimbang (merasa memiliki dan menuntut) hak asasi.

Lupakan saja itu Hari HAM (Hak Asasi Manusia). Tidak ada itu yang namanya hak asasi manusia. Yang ada itu sebenarnya kewajiban asasi manusia. Hari-hari kita semestinya kita isi dengan kewajiban asasi manusia. Urusan kita ini, wajibnya ya menjalankan atau mengamalkan kewajiban asasi manusia. Mengenai urusan hak asasi manusia serahpasrahkan saja kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.

Rabu, 02 Juli 2025

Ode dan Do’a untuk Bapak Kami Tercinta


Mokh. Ngisom Musurur

 

 

ODE DAN DO’A UNTUK BAPAK KAMI TERCINTA

Bapak kami yang tercinta, apa kabar engkau di alam barzakh sana?

Semoga engkau baik-baik saja tanpa menanggung beban beratnya dera

Di atas tanah ini, ingin kurangkaikan puisi untukmu serupa ode dan do'a

dengan tinta cinta dan kasih sayang yang begitu menenteramkan

Dan, kuungkapkan pula syukurku atas taqdir menjadi anak dari darah dagingmu

 

Bapak, selalu kusimpan kagum dan banggaku akan hebatnya perjuanganmu

akan sosokmu yang berbingkai keimanan dan ketaqwaan dikenanganku

akan siapakah jiwa kuat yang tangguh dalam ragamu

akan semangatmu yang tak kenal lelah dan keteguhanmu yang tak mau menyerah

aku kagum dan bangga dengan segala luka yang kau panggul tanpa mengeluh

 

Bapak, engkau seperti matahari yang selalu menjadikan gelap itu terang dan memberikan terang pada gelap

Pesanmu tak terucap melalui suara melainkan teladan nyata, kerja dan menderita

Meskipun cintamu tersamarkan oleh cinta Ibu, tapi cintamu utuh kurasakan

Kasih sayangmu tak mau dilihat, tapi ia tampak jelas dari apa yang kau perbuat

Bapak kami tercinta, sungguh engkau pahlawan sejati bagi keluarga kita yang bersahaja

 

Meskipun kau dan aku terpisah jarak dan waktu, namun dirimu tak pernah jauh dariku

Telah kau tempa aku dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang kau pasrahkan

Terima kasih atas iman taqwa dan akhlaq mulia yang kau hunjamkan

Terima kasih atas adab dan ilmu pengetahuan yang engkau tanamkan

Terima kasih atas pendidikan dan api perjuangan yang engkau wariskan

 

Ma’afkan anakmu Bapak, yang karena jauh di tanah rantau melanjutkan perjuangan yang dulu engkau tanam di pundakku

aku tak bisa mendampingimu di senja usiamu dan di kala terhuyung ragamu

tak sempat aku merawatmu di saat jiwamu lara dan sakit di tubuhmu merajam

tak dapat dengan kehangatan merengkuh lemah tubuhmu di ujung hayatmu

Namun, aku yakin engkau paham dan dengan senyum ikhlasmu engkau mema'afkan luput, salah dan dosa yang kusandang

 

Saat kudengar kabar duka atas kepergianmu di tanah rantau waktu itu, sungguh tubuhku terguncang

Sedihku begitu mendalam dan aku merasa sangat kehilangan

dan dalam gelisah yang menderu kutancapkan puring peneduh di dekat nisanmu

Lalu, kulantunkan dzikir dan kualirkan do’a-do’a untukmu di atas pusaramu

Bapak, wasiat dan petuah bijakmu aku tanam dalam sukmaku dan kuamalkan

Aku janji menjadi pribadi pencerah dan melanjutkan cita-cita dan sejarah yang kau pahat

 

Bapak, aku yakin kepulanghanmu ke rahmatullah membawa cukup bekal untuk kehidupan kekal

Benih kebaikan yang kau semai dan tanam menjadi akar yang kuat bagi kehidupan selanjutnya

Akan senantiasa aku persembahkan butir-butir dzikir bila aku terkoyak rindu

Aku akan selalu menemuimu melalui lantunan munajat dan do’a-do’a di nadiku

In syaa Allah, kehidupanmu bertaburan barakah dan kepulanganmu husnul khotimah

Semoga di alam barzakh sana engkau tenang, damai
dan senantiasa dalam dekapan kasih sayang-Nya

Aku yakin Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menerima amal-amal sholih, amal ibadahmu, diberikan kelapangan jalan menuju keharibaan-Nya, berlimpah ampunan, berbuncah kasih sayang, dianugerahi pahala kebaikan dari-Nya dan dimuliakan di sisi-Nya

In syaa Allah, dengan Rahman Rahim dan ridho-Nya, kelak kita dipertemukan dan dipersatukan kembali bersama keluarga, sejahtera dan bahagia di surga-Nya.

 

 

Kediri, 1 Juli 2025

Jumat, 27 Juni 2025

Kenapa Tahun Baru Islam Dimulai dari 1 Muharram?

Kenapa Tahun Baru Islam Dimulai dari 1 Muharram?


Tahun baru Islam ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dijadikan titik awal penanggalan Islam — meskipun hijrah terjadi di bulan Rabi'ul Awwal.

Lalu, mengapa 1 Muharram yang dipilih sebagai awal tahun? Karena Muharram adalah bulan pertama setelah Bai’at Aqabah II, momen penting yang membuka jalan bagi hijrah dan berdirinya negara Islam di Madinah.

Maka, 1 Muharram bukan sekadar awal kalender—tapi simbol kemenangan, hijrah menuju kebaikan, dan lahirnya peradaban Islam.

Minggu, 14 Juli 2024

Keutamaan Puasa Tasu'a dan ‘Asyura

Keutamaan Puasa Tasu'a dan ‘Asyura


Apa saja keutamaan puasa ‘Asyura? Puasa ‘Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan maupun hari kesebelasnya.




Berikut beberapa keutamaan puasa ‘Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut.


1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim, No. 1163).

Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa ‘Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50.

Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa ‘Asyura.


2- Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata, 

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, No. 1162).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau menerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46.

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa ‘Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501.


3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’a).

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, 

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim, No. 1134).

Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14.

Tahun ini (1446 H/2024 M), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari Senin dan Selasa (15 dan 16 Juli 2024). Puasa Tasu’a bisa dilaksanakan pada tanggal 15 Juli (9 Muharram) sedangkan puasa ‘Asyura pada tanggal 16 Juli (10 Muharram).

Fokuslah pada puasa ‘Asyura (10 Muharram) meskipun mungkin tidak berpuasa pada 9 Muharram. Karena keutamaan puasa Asyura yang luar biasa, yakni antara lain bisa menghapus dosa-dosa  kita setahun yang telah berlalu.

Lebih afdhal, jika berpuasa dengan menambah hari, 9 dan 10 Muharram. Dengan keutamaan untuk menyelisihi ahli kitab atau kaum al-maghduub dan adh-dhoolliin.

Jikalau ada udzur syar’i atau berhalangan puasa 9 Muharram, bisa diganti 10 dan 11 Muharram. Hal ini juga untuk menyelisihi ahli kitab atau kaum al-maghduub dan adh-dhoolliin.

Ulama Hanafiyah dan Syafi'iyah berpendapat sunnahnya berpuasa tanggal 11 bagi yang tidak sempat berpuasa tanggal sembilannya karena tujuannya sama, agar puasa 'Asyura tersebut tidak menyerupai puasa orang Yahudi. 

Tapi lebih baik lagi apabila bisa berpuasa 3 hari sekaligus 9, 10, dan 11 Muharram. Tujuannya agar puasa kita tidak menyerupai puasa ahli kitab atau kaum al-maghduub dan adh-dhoolliin dan in syaa Allah juga bisa meraih pahala puasa tiga hari setiap bulan.

Semoga kita dimampukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'aalaa dan sanggup menjalaninya.

Wallaahu a’lam bish-showaab.


Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm.

Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim (Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Wafa dan Dar Ibni Hazm.

Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Hafizh Abu ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam.


Minggu, 07 April 2024

📚 #ngaBukuRead hari ke-27 Ramadhan 2024 M

 

BUKU SYAMAIL MUHAMMAD (UMMUL QURA)


Salah satu bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam serta cara mengimplementasikan syahadat “wa ash-hadu anna Muhammadar Rasulullah” yaitu dengan mempelajari segala aspek yang berkaitan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Buku Syamail Muhammad ini merupakan salah satu cara mengenal pribadi agung Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Menghimpun 56 bab yang menggambarkan pribadi dan fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terperinci. Semoga menjadikan kita semakin mengenal dan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.