Halaman

Rabu, 01 Juli 2015

Dampak Puasa Terhadap Pembentukan Struktur Otak Baru dan Kesehatan Otak

DAMPAK PUASA TERHADAP PEMBENTUKAN STRUKTUR OTAK BARU

DAN KESEHATAN OTAK



Oleh: Taruna Ikrar
*)

Struktur Otak

Otak adalah bagian yang paling kompleks dari tubuh manusia. Organ ini memiliki fungsi utama, yaitu: sebagai pusat kemampuan berpikir, intelijen, mengingat, inovasi; demikian pula sebagai pusat penafsiran terhadap fungsi panca indra, inisiator gerakan tubuh, dan pengendali perilaku. Otak terletak di dalam tempurung kepala, yang memiliki cairan pelindung. Otak juga merupakan sumber dari semua kualitas yang mendefinisikan kemanusiaan kita. Sehingga otak adalah permata dari mahkota tubuh manusia.

Selama berabad-abad, ilmuwan dan filsuf telah terpesona oleh otak, tetapi sampai saat ini, otak tetap memiliki misteri yang sangat kompleks, dan masih sangat banyak yang belum terungkap dari rahasia besar tersebut. Untuk mengungkap berbagai misteri didalam otak, para ilmuwan telah belajar lebih banyak tentang otak dalam 10 tahun terakhir dibanding dekade sebelumnya, karena laju percepatan penelitian dalam ilmu saraf dan perilaku, yang didukung oleh pengembangan teknik penelitian baru.

(Gambar 1: Ilustrasi Struktur Otak Manusia)

Secara prinsip otak melayani fungsi penting dalam kehidupan. Sebagai contoh, kita memiliki panca indera: penglihatan, penciuman, pendengaran, sentuhan dan rasa. Melalui indera ini, otak kita menerima pesan. Dengan menggunakan panca indera: penglihatan, penciuman, sentuhan, rasa, dan pendengaran, otak menerima banyak pesan pada waktu bersamaan. Otak kita mengontrol pikiran kita, memori, gerakan tangan dan kaki dan fungsi semua organ dalam tubuh kita. Otak juga menentukan bagaimana kita menanggapi situasi stres dengan mengatur irama jantung dan pernapasan.

Otak adalah struktur yang sangat terorganisir, yang terdiri dari beberapa bagian penting yang menjalankan fungsi otak terhadap seluruh organ tubuh. Struktur tersebut, terdiri atas bagian utama, yaitu: otak besar (hemisphera), otak belakang (cerebellum), batang otak (brain stem), sumsum tulang belakang (spina spinalis), serta sistem saraf perifer (autonomy nervuses system). Sebagai mana diketahui, bahwa otak terdiri dari 100 milyaran sel saraf (neuron) yang saling berhubungan, dengan jumlah networking 1000 triliunan synapses. Hubungan antara sel-sel saraf ini disebut synapses. Pada hubungan sel saraf terjadi melalui impuls listrik (electrical synapses) dan kimiawi yang berupa neurotransmittersebagai bahan perantaranya. Neurotransmitter berperan dalam pengaturan sistem kerja antar neuron, sehingga apabila terjadi gangguan pada neurotransmitter, maka neuron-neuron akan bereaksi abnormal.

Ada 2 golongan jenis sel-sel saraf yaitu: excitatory dengan neurotransmitter kimiawinya (glutamat) dan yang kedua adalah inhibitory dengan neurotransmitter yang berperan GABA (Gamma Aminobutyric Acid). Kedua jenis sel saraf diatas berfungsi secara harmoni atau seimbang untuk melaksanakan fungsi otak dengan baik.

(Gambar 2: Kerumitan dan kompleksitas dari networking atau jaringan antara sel-sel saraf di dalam otak).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fungsi Otak

Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi fungsi otak, antara lain: faktor genetik, psikologi/kejiwaan, lingkungan, temperatur, makanan, dan minuman. Secara khusus dalam ilmu saraf, dikenal istilah plastisitas otak. Plastisitas otak mengacu pada kapasitas dari sistem saraf untuk mengubah struktur dan fungsinya, sebagai reaksi terhadap keragaman lingkungan. Perubahan tersebut terjadi dalam berbagai tingkatan pada sistem saraf mulai dari peristiwa molekuler, seperti perubahan dalam ekspresi gen, sampai panda tingkatan perilaku.

Tiga bentuk utama dari plastisitas jaringan otak yang dapat dijelaskan sebagai berikut: plastisitas sinaptik, neurogenesis dan fungsional kompensasi.

1). Synaptik plastisitas; ketika otak terlibat dalam pembelajaran dan pengalaman baru, akan terjadi interaksi dan networking baru pada hubungan sel-sel saraf (synapses) di otak. Secara prinsip, sistem atau sirkuit saraf memilik banyak rute yang terbentuk antar sel-sel saraf (neuron). Rute ini terbentuk dalam otak melalui pembelajaran dan praktek. Sel-sel saraf (neuron) berkomunikasi satu sama lain pada titik pertemuan yang disebut (synaps). Setiap kali pengetahuan baru yang diperoleh melalui komunikasi atau transmisi synaptik antara neuron yang terlibat, akan dibarengi pula interaksi neuron dalam berkomunikasi dengan sesama neuron melalui sinyal listrik. Bukti ini, akan menunjukkan plastisitas sinaptik sistem saraf; yang merupakan pilar menakjubkan akan kelenturan otak.

2). Neurogenesis; merupakan proses kelahiran dan proliferasi neuron baru di dalam otak. Para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir telah menemukan, bahwa sel induk yang terletak di dentate gyrus hipokampus dan di korteks pre-frontal, dapat mengalami proliferasi dan berkembang menjadi sel pyramidal dan sel yang akan berkembang menjadi sel-sel dewasa yang memiliki akson dan dentrites. Sel-sel saraf yang baru ini akan bermigrasi ke berbagai daerah di dalam otak dimana mereka dibutuhkan untuk merehabilitasi atau menggantikan sel-sel yang rusak atau mati.

(Gambar 3: Regenerasi sel-sel saraf)

3). Fungsional kompensasi; pada saat seseorang mengalami penuaan, maka plastisitas otak akan mengalami penurunan. Tetapi, sesuatu yang merupakan keanehan, karena tidak semua orang dewasa yang lebih tua menunjukkan kinerja yang lebih rendah, bahkan beberapa orang mengalami pencapaian kinerja yang lebih baik, bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lebih muda. Hal ini merupakan keuntungan bagi perkembangan otak tersebut, yang dalam istilah neurosains, disebut fungsional kompensasi. Dengan fungsional kompensasi ini, sehingga pada saat seseorang mengalami ketuaan dan defisit serta penurunan plastisitas sinaptik yang menyertai penuaan, otak tetap bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Studi terbaru menunjukkan bahwa otak mencapai solusi fungsional melalui aktivasi jalur saraf alternatif, yang paling sering mengaktifkan daerah di kedua belahan otak.

Kondisi Psikologis dan Biologis Manusia Pada Saat Berpuasa

Berdasarkan faktor yang mempengaruhi fungsi otak di atas, muncul pertanyaan, bagaimana kondisi biologis, psikologis dan fungsional otak pada saat berpuasa. Berpuasa pada bulan Ramadhan bagi kaum muslim, secara hakekat bukan hanya menahan dahaga dan lapar mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi lebih dari itu adalah suatu latihan psikis, mental dan tentu saja fisik biologis.

Secara psikis, orang yang menjalankan puasa tersebut akan semakin memiliki jiwa dan perilaku sehat, dan tentunya menjauhkan pikiran dan perbuatan dari hal-hal yang bisa mencederai hakikat berpuasa, sehingga kedepan bisa menjadi manusia yang berakhlaq mulia.

Secara biologis, tentunya diharapkan bisa bermanfaat bagi kesehatan. Pelaksanaan puasa dilaksanakan dengan cara menahan dahaga dan lapar mulai dari subuh hingga terbenamnya matahari di ufuk timur; (dibutuhkkan waktu sekitar 14 jam). Berarti selama melaksanakan puasa tubuh mengalami proses metabolisme atau makanan didaur ulang dalam sistem pencernaan sekitar 8 jam, dengan perincian 4 jam makanan disiapkan dengan keasaman tertentu dengan bantuan asam lambung, untuk selanjutnya dikirim ke usus, 4 jam kemudian makanan diubah wujudnya menjadi sari-sari makanan di usus kecil kemudian diabsorbsi oleh pembuluh darah dan dikirim keseluruh tubuh. Waktu sisa 6 jam merupakan waktu yang ideal bagi sistem percernaan untuk istirahat.

Selama melaksanakan puasa Ramadhan tersebut, menjadi hal yang penting untuk memahami manfaatnya. Apalagi jika dilakukan secara ikhlas dan disertai keyakinan dan pengetahuan yang memadai tentang manfaat pelaksanaan puasa bagi kesehatan tubuh, khususnya yang berhubungan dengan metabolisme, sistem endokrim, dan kesehatan organ yang sangat penting, seperti otak.

Manfaat Puasa Pada Fungsi Otak

Dengan menjalankan puasa, berarti suatu aktivitas fisik dan biologis sebagai usaha untuk mengatur dan memperbaiki metabolisme tubuh. Hal ini dapat dimengerti, karena pelaksanaan puasa mengajarkan dan melatih tubuh secara disiplin untuk makan dan minum secara tidak berlebihan dan mengatur kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Dengan demikian maka puasa akan memberi manfaat kesehatan bagi orang yang menjalankannya.

Berpuasa akan melatih seseorang untuk hidup teratur dan disiplin, serta mencegah kelebihan makan. Menurut penelitian, puasa dapat menyehatkan tubuh, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh. Saat berpuasa karena ada fase istirahat setelah fase pencernaan normal, yang diperkirakan sekitar 6 sampai 8 jam, maka pada fase tersebut terjadi degradasi dari lemak dan glukosa darah. Demikian pula ternyata terjadi peningkatan HDL (High Density Lipoprotein) dan apoprotein alfa 1, dan penurunan LDL (Low Density Lipoprotein) dimana hal ini sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, karena HDL berefek baik bagi kardiovaskuler sedangkan LDL berefek negatif bagi kesehatan pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah. Bagi penyakit kardiovaskuler, tidak ada penanggulangan yang lebih baik selain mencegahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki gaya hidup sehat, melaksanakan pola makanan yang sehat (memperbanyak makan makanan berserat dan bersayur, serta tidak makan berlebihan makanan yang mengandung lemak dan kolesterol tinggi), serta dilanjutkan dengan olah raga atau aktivitas yang teratur.

Demikian pula secara psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Sebab saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

Dalam penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam akumulasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan seperti amylase, pangkrease, dan insulin dalam jumlah besar, sehingga akan meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan tubuh. Dengan demikian, puasa bermanfaat menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan hipertensi.

Demikian pula, manfaat puasa terhadap fungsi dan kesehatan otak, dapat dijelaskan secara ilmiah (scientific experiment). Berdasarkan penelitian plastisitas dan neurogenesis, yaitu tentang kelenturan dan perkembangan otak. Dijelaskan bahwa pada dasarnya synapsis (jaringan/koneksi otak) dapat berkembang berdasarkan, faktor lingkungan, kejiwaan, dan makanan yang dikomsumsi oleh seseorang. Bahkan, Dr. Johansen-Berg, et al. (Neuron Journal, 2012) mejelaskan bahwa synapsis diotak dapat mengalami perubahan selama 24 jam yang terekpos oleh pembelajaran dan latihan.

Sehingga pada saat seseorang melaksanakan puasa Ramadhan, selama sebulan penuh (30x24 jam). Dengan berupaya secara maksimal mengatur cara makan, serta senantiasa berpikir positif, berpikir optimis, serta tawadhu dan berbuat secara ikhlas. Maka berdasarkan plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi jaringan otak akan diperbaharui. Sehingga struktur otak akan terbentuk networking atau rute jaringan baru didalam otak, yang tentunya akan membentuk pribadi dan manusia yang berpikiran sempurna sesuai anjuran dan latihan Ramadhan, yang telah dijalankan selama sebulan penuh.

Sehingga setelah bulan Ramadhan, maka umat muslim tersebut akan menjadi orang-orang yang secara biologis, psikologis, fungsional, menjadi orang yang baru. Yaitu manusia senantiasa berpikiran yang lebih baik, yang digambarkan dengan perubahan struktur atau networking (synapses) otak yang baru: yang senantiasa berpikiran positif, optimisme, tawadhu, serta berserah diri kepada Allah. Demikian pula akan bermanfaat meningkatkan daya ingat, mengurangi kematian sel-sel saraf, bahkan dalam tingkatan tertentu mempermuda regenerasi sel-sel saraf yang baru. Demikian pula karena terjadi penurunan zat-zat lemak seperti cholesterol, trigliserida, LDL dan terjadi peningkatan HDL, menyebabkan suasana kesehatan otak akan terhindar dari berbagai penyakit degenerative, seperti stroke, jantung koroner, dan hipertensi otak serta menjadikan manusia dengan pikiran lebih baik.

*) Taruna Ikrar, Ph.D. (Kardiolog, Farmakolog, Neuroscientist, Division of Interdisciplinary of Neurosciences University of California, School of Medicine, Irvine, USA)

Ditulis oleh Taruna Ikrar, Ph.D. dan diposting kembali oleh http://mutiara-edukasi.blogspot.com/.

Senin, 29 Juni 2015

Manfa‘at Puasa Menurut Para Ilmuwan


MANFA‘AT PUASA MENURUT PARA ILMUWAN

BismiLlâhirrahmânirrahïm...,


Imagehttp://kiosmoslembrothers.blogspot.com/

Puasa merupakan ibadah yang sarat makna keikhlasan bagi seorang hamba kepada Tuhannya. Ibadah puasa juga sebagai tanda keimanan dan ketaqwaan kita kepada Sang Pencipta.

Puasa (shaum) yang merupakan salah satu dari lima Rukun Islam, menurut syari'at artinya menahan diri dari makan dan minum serta berbagai hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga tenggelam matahari dengan syarat tertentu yang berpedomankan pada  Al-Qur’an dan Al-Hadist guna meningkatkan ketaqwaan seorang muslim. Puasa yang benar dan baik serta sesuai dengan ketentuan syari'at merupakan salah satu amal ibadah yang dapat mendatangkan keridhaan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, seperti yang dinukilkan dalam hadist berikut:

Abu Said Al-Khudri radhiyallâhu ‘anhu berkata: Aku telah mendengar Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah (fi sabilillâh), niscaya Allâh akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun.“ (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kemudian akan disediakan pintu khusus di surga kelak, hanya bagi orang- orang yang berpuasa:

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallâhu ‘anhu, dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “Ar-Rayyan”. Orang orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.” (H.R. Bukhari No. 1896 dan Muslim No. 1152).

Demikian, beberapa dari sekian banyak manfaat berpuasa yang akan kita peroleh untuk kehidupan akhirat kita. Namun tahu kah anda? Selain memiliki manfaat untuk kehidupan akhirat, puasa juga memiliki manfaat yang tidak sedikit bagi kesehatan kita di dunia. Manfaat yang ada bukan hanya merupakan mitos belaka, akan tetapi telah terbuktikan oleh penelitian ilmiah para ilmuwan. Dan itu semua tentu sulit untuk terbantahkan.

Puasa memiliki banyak hikmah dan manfaat untuk tubuh, ketenangan jiwa, dan kecantikan. Saat berpuasa, organ-organ tubuh dapat beristirahat dan miliaran sel dalam tubuh bisa menghimpun diri untuk bertahan hidup. Puasa berfungsi sebagai detoksifikasi untuk mengeluarkan kotoran, toksin/racun dari dalam tubuh, meremajakan sel-sel tubuh dan mengganti sel-sel tubuh yang sudah rusak dengan yang baru serta untuk memperbaiki fungsi hormon, menjadikan kulit sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh karena manusia mempunyai kemampuan terapi alamiah (auto service).

Puasa dapat membuat kulit menjadi segar, sehat, lembut, dan berseri. Karena, setiap saat tubuh mengalami metabolisme energi, yaitu peristiwa perubahan dari energi yang terkandung dalam zat gizi menjadi energi potensial dalam tubuh. Sisanya akan disimpan di dalam tubuh, sel ginjal, sel kulit, dan pelupuk mata serta dalam bentuk lemak dan glikogen.

Manusia mempunyai cadangan energi yang disebut glikogen. Cadangan energi tersebut dapat bertahan selama 25 jam. Cadangan gizi inilah yang sewaktu-waktu akan dibakar menjadi energi, jika tubuh tidak mendapat suplai pangan dari luar. Ketika berpuasa, cadangan energi yang tersimpan dalam organ-organ tubuh dikeluarkan sehingga melegakan pernapasan organ-organ tubuh serta sel-sel penyimpanannya. Peristiwa ini disebut peremajaan sel. Dengan meremajakan sel-sel tubuh, akan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan dan kesehatan tubuh serta kulit kita. Oleh karena itu, orang yang sering berpuasa kulitnya akan terlihat lebih segar, sehat, lembut, dan berseri karena proses peremajaan sel dalam tubuhnya berjalan dengan baik.

Puasa sudah diakui menjadi penyembuh terhebat dalam menanggulagi penyakit, bahkan di amerika ada pusat puasa yang diberi nama ”Fasting Center International, Inc.”, Director Dennis Paulson yang berdiri sudah sejak 35 tahun yang lalu, dengan pasien dari 220 negara. Yang merekomendasikan puasa sebagai: (1) program penurunan berat badan, (2) mengeluarkan toksin tubuh, (3) puasa dapat memperbaiki energi, kesehatan mental, kesehatan fisik dan yang paling terpenting meningkatkan kualitas hidup.



Berikut beberapa manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari berpuasa berdasarkan hasil penelitian tentang puasa oleh para ilmuwan yang di ungkapkan secara ringkas berikut ini:


1. Allan Cott, M.D.
Seorang Orthomolecular Psychiatrists dari Amerika ini telah menghimpun hasil pengamatan dan penelitian para ilmuwan berbagai negara, lalu menghimpunnya dalam sebuah buku “Why Fast” yang memaparkan berbagai hikmah puasa, antara lain: a) To feel better physically and mentally (merasa lebih baik secara fisik dan mental); b) To look and feel younger (terlihat dan merasa lebih muda); c) To clean out the body (membersihkan badan); d) To lower blood pressure and cholesterol levels (menurunkan tekanan darah dan kadar lemak; e) To get more out of sex (lebih mampu mengendalikan seks); f) To let the body health itself (membuat tubuh sehat dengan sendirinya); g) To relieve tension (mengendorkan ketegangan jiwa/melepaskan ketegangan jiwa/stres); h) To sharp the senses (menajamkan fungsi indrawi); i) To gain control of oneself (memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri); j) To slow the aging process (memperlambat proses penuaan).

2. Dr. Yuri Nikolayev
Direktur bagian diet pada Rumah Sakit Jiwa Moskow ini menilai kemampuan untuk berpuasa yang mengakibatkan orang yang bersangkutan menjadi awet muda, sebagai suatu penemuan (ilmu) terbesar abad ini. Beliau mengatakan: What do you think is the most important discovery in our time? The radioactive watches? Exocet bombs? In my opinion, the bigest discovery of our time is the ability to make onself younger phisically, mentally and spiritually through rational fasting. (Menurut pendapat Anda, apa penemuan terpenting pada abad ini? Jam radioaktif? Bom exoset? Menurut pendapat saya, penemuan terbesar dalam abad ini ialah kemampuan seseorang membuat dirinya tetap awet muda secara fisik, mental, dan spiritual, melalui puasa yang rasional).

3. Alvenia M. Fulton
Direktur Lembaga Makanan Sehat “Fultonia” di Amerika Serikat tersebut menyatakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik wanita secara alami. Puasa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Puasa menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh (fasting is the ladies best beautifier, it brings grace charm and poice, it normalizes female functions and reshapes the body contour).

4. Riyad Albiby and Ahmed Elkadi
Riyad Albiby yang merupakan seorang spesialis dalam bidang gastroenterology dan Ahmed Elkadi, doktor ahli geotechnical and tunnelling engineering mengatakan bahwa puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh atau imun system terhadap berbagai penyakit. Ditunjukkan dengan peningkatan fungsi sel limfa yang memproduksi sel limfosit T yang secara signifikan bertambah setelah puasa.

5. Sulimami
Ahli kesehatan ini mengatakan bahwa untuk penyakit seperti diabetes sekalipun puasa Ramadhan tidak akan berbahaya, malah memberikan banyak manfaat. (Sulimami, dll., 1988: 549-552).

6. Jalal Saour
Beliau berpendapat bahwa berkurangnya cairan pada puasa akan menurunkan heart rate atau kerja jantung, pencegahan terhadap penggumpalan darah yang termasuk penyebab serius panyakit jantung. (Jalal, Riyad, 1990).

7. Muzam MG., Ali M.N. dan Husain
Experts ahli bidang kesehatan ini berpendapat  bahwa puasa juga aman untuk pasien yang mempunyai gangguan ulcer pada lambung. Penelitian dilakukan oleh Muzam MG., Ali M.N., dan Husain dalam observasi terhadap efek puasa Ramadhan terhadap asam lambung.

8. Elson M. Haas, M.D.
Direktur Medical Centre of Marin (sejak 1984) ini mengatakan dalam puasa (cleansing dan detoksifikasi) merupakan bagian dari trilogy nutrisi, balancing, building (toning). Elson percaya bahwa puasa adalah bagian yang hilang “missing link” dalam diet di dunia barat. Kebanyakan orang di barat over eating atau terlalu banyak makan, makan dengan protein yang berlebihan, lemak yang berlebihan pula. Sehingga ia menyarankan agar orang lain mulai mengatur makanannya agar lebih seimbang dan mulai berpuasa, karena puasa bermanfaat sebagai: purifikasi, peremajaan, istirahat pada organ pencernaan, anti aging, mengurangi alergi, mengurangi berat badan, detoksikasi, relaxasi mental dan emosi, perubahan kebiasaan dari kebiasaan makan yang buruk menjadi lebih seimbang dan lebih terkontrol, meningkatkan imunitas tubuh. Puasa dapat mengobati penyakit seperti Influeza, bronkitis, diare, konstipasi, alergi makanan, astma, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, obesitas, kanker, epilepsi, sakit pada punggung, sakit mental, angina pectoris (nyeri dada karena jantung), panas dan insomnia.

9. Dr. Sabah al-Baqir
Beliau dan kawan-kawan di Falkutas Kedokteran Universitas King Saud mengatakan bahwa puasa dapat mengurangi jumlah hormon pemicu stress. Dia bersama tim dari Falkutas Kedokteran Universitas King Saud melakukan studi terhadap hormon prolaktin, insulin dan kortisol, pada tujuh orang laki-laki yang berpuasa sebagai sampel. Hasilnya bahwa tidak ada perubahan signifikan pada level kortisol, prolaktin, dan insulin. Ini menunjukkan bahwa puasa bulan Ramadhan bukanlah pekerjaan yang memberatkan dan tidak mengakibatkan tekanan mental maupun syaraf. Percobaan ini menunjukan peningkatannya terjadi pada perbedaan waktu saja, bila pada hari tidak puasa prolaktin mengalami kenaikan tertinggi pada jam 16.00. sementara pada bulan Ramadhan mengalami puncaknya pada pukul 21.00 dan menurun lagi sampai batas terendahnya pukul 04.00. Sementara insulin meningkat pada pukul 16.00, sedang pada bulan Ramadhan pukul 21.00, menurun sampai batas terendah pukul 16.00. Sedangkan kortisol pada hari biasa mencapai puncaknya pukul 09.00, menurun pada pukul 21.00, sementara pada bulan Ramadhan tidak ada perubahan berarti.

10. Dr. Ahmad al-Qadhi dan Dr. Riyadh al-Bibabi
Beliau bersama rekannya di Amerika melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah sukarelawan yang berpuasa selama bulan Ramadhan. Hasil penelitian ini menunjukan pengaruh positif puasa yang cukup signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh. Indikator fungsional sel-sel getah (lymfocytes) membaik hingga sepuluh kali lipat, walaupun jumlah keseluruhan sel-sel getah bening tidak berubah, namun prosentase jenis getah bening yang bertanggung jawab melindungi tubuh dan melawan berbagai penyakit yaitu sel T mengalami kenaikan yang pesat.

11. Dr. Riyadh Sulaiman
Beliau dan kawan-kawan pada tahun 1990 di RS Universitas King Khalid, Riyadh Saudi melakukan penelitian terhadap pengaruh puasa Ramadhan terhadap 47 penderita diabetes jenis kedua (pasien yang tidak tergantung insulin). Dan sejumlah orang sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa bulan Ramadhan tidak menimbulkan penurunan berat badan yang signifikan. Tidak ada pengaruh apapun yang berarti pada kontrol penyakit diabetes diabetes dikalangan penderita ini. Sejauh ini puasa Ramadhan aman saja bagi penderita diabetes sejauh dilakukan dengan kesadaran dan kontrol makanan serta obat-obatan.

12. Dr. Muhammad Munib
Beliau dan kawan-kawan dari Turki juga melakukan sebuah penelitian terhadap seratus responden muslim. Sampel darah mereka diambil sebelum dan diakhir bulan Ramadhan, untuk dilakukan analisis dan pengukuran terhadap kandungan protein, total lemak (total lipid), lemak fosfat, asam lemak bebas, kolesterol, albumin, globulin, gula darah, tryglycerol, dan unsur-unsur pembentuk darah lainnya, dan didapat, antara lain bahwa terjadi penurunan umum pada kadar gula (glukosa) dan tryacyglicerol orang yang berpuasa, terjadinya penurunan parsial dan ringan pada berat badan, tidak terlihat adanya aseton dalam urin, baik dalam awal maupun akhir puasa, sebab sebelum puasa Ramadhan, kenyataan ini menegaskan tidak adanya pembentukan zat-zat keton yang berbahaya bagi tubuh selama bulan puasa. Dengan keutamaan puasa, glikogen dalam tubuh mengalami peremajaan, memompa gerakan lemak yang tersimpan, sehingga menghasilkan energi yang lebih meningkat.

Sejak zaman dulu puasa dipakai sebagai pengobatan yang terbaik seperti kata Plato bahwa puasa adalah untuk mengobati sakit fisik dan mental. Philippus Paracelsus mengatakan bahwa Fasting is the greatest remedy the physician within!”

Demikian beberapa fakta-fakta ilmiah mengenai manfaat berpuasa bagi kesehatan. Kesimpulan yang dapat kita ambil di sini adalah ternyata dengan berpuasa, kita tidak hanya mendapatkan manfa'at untuk kehidupan akhirat kita, tetapi juga bermanfaat untuk kehidupan didunia kita, salah satunya dibidang kesehatan.

Semoga ini semua dapat membuat kita menjadi termotivasi untuk senantiasa berpuasa (puasa wajib maupun sunnah) dan yang paling penting adalah berpuasalah dengan ikhlas hanya demi, untuk, dan karena Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ semata. Karena sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah sebagai alat kita untuk mengabdi kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dan kehidupan akhiratlah yang akan menjadi kehidupan kita yang sebenar/benarnya karena kita akan kekal didalamnya.

Diringkas dari berbagai sumber oleh dr. Abu Hana El-Firdan dan diposting kembali di http://mutiara-edukasi.blogspot.com/.

Senin, 28 Juli 2014

Kohesi Sosial dan Urgensi Saling Memaafkan

KOHESI SOSIAL DAN URGENSI SALING MEMAAFKAN
Oleh: Mokh. Ngisom Musurur


Momentum yaumul haflah 'Id al-Fitr (hari raya Idul Fitri) 1435 H tahun ini kebetulan bertepatan dengan tahapan hajatan Pemilu Presiden 2014. Dalam rangkaian tahapan kegiatan Pilpres tersebut, kita sama-sama menyaksikan adanya kompetisi dan kontestasi yang hebat, kohesi sosial dan persaingan politik head to head yang dahsyat, perbedaan dan pertentangan yang sengit sangat. Di sinilah terbuka peluang di antara kita melakukan kesembronoan (kecerobohan) dalam pergaulan hidup dengan sesama hamba Allah. Bisa jadi telah terjadi perang opini yang tidak kesemuanya sehat dan bermanfaat. Diskusi yang tidak keseluruhannya akademik dan ilmiah. Perdebatan yang tidak seutuhnya matang dan dewasa. Pikiran dan pemikiran yang saling menegasi. Masing-masing pihak di antara kita merasa lebih baik, merasa lebih benar. Masing-masing pihak di antara kita merasa dilukai dan diciderai. Masing-masing pihak di antara kita merasa disakiti dan didholimi. Sangat dimungkinkan disengaja atau tidak disengaja terjadinya aksi saling mencaci maki, saling menghina, saling ber-su’udzon, saling melempar kata-kata kotor dan kasar, saling hasud dan hasad, saling menebar rumor dan kabar kabur. Bahkan yang lebih ekstrem menggunakan cara-cara yang tidak halal dalam merebut kemenangan, saling menjegal lawan, hingga mengumbar berita-berita bohong, black campaign, sampai ketegaan memakan daging saudaranya sendiri dengan fitnah-fitnah keji yang dihembuskan.... Sudah jelas hal tersebut diduga kuat mengandung kekeliruan, kekhilafan, kesalahan, dan perbuatan dosa.

Halalbihalal dan Makna Penghapusan Dosa

Menyangkut dosa-dosa kita kepada Allah, kita dapat mengirimkan proposal dan menyelenggarakan permohonan ampun langsung secara vertikal dan secara pribadi dalam kerangka habl min Allah (hubungan dengan Allah). Kalau dosa-dosa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, asalkan kita memiliki niat yang kuat untuk memohon ampun kepada-Nya, untuk ber-taubatan nasuha, Allah Al-Ghafuur, Allah Al-Ghaffaar, Allah Al-‘Afwu, Allah Yang Maha Pengampun, niscaya pasti mengampuni dosa-dosa para hamba-Nya. Salah satu firman-Nya dalam Al Qur’an Surah Az-Zumar (39) ayat 53 Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang menyeru kepada hamba-hamba-Nya yang berdosa dan suka melampaui batas agar tidak berputus harapan akan rahmat dan pengampunan-Nya. Bahkan Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa sesugguhnya Dia mengampuni dosa-dosa semuanya, kecuali dosa syirik.
Kita juga mengerti dan memahami adanya begitu banyak “lembaga pengampunan” Allah yang dapat menghapuskan dosa. Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan banyak amalan sebagai wasilah penghapus dosa. Amalan tersebut, antara lain: istighfar, taubat, sholat, puasa, hingga berbuat baik dan amal sholeh lainnya, semuanya dapat menghapus dosa.
Manusia –setidaknya kebanyakan dari mereka– dari satu sisi mudah dan suka berbuat dosa kesalahan, di sisi lain gampang tersinggung, sempit dada, dan sangat sulit memaafkan dosa kesalahan. Perangai makhluq, hamba dan khalifah di muka bumi yang namanya manusia yang sedemikian itu paradoxal atau sangat kontras sekali dengan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang suka, mudah, dan ringan sekali mengampuni dosa-dosa hamba-hamba-Nya yang memiliki azzam kukuh untuk memohon ampun kepada-Nya, seperti dikabarkan di atas.
Terdapat ushul fiqh yang perlu dimafhumi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa kesalahan orang yang mempunyai dosa kesalahan kepada saudaranya sesama manusia sebelum saudaranya itu memaafkan. Di titik simpul ini kita harus menyadari perlunya dan memahami urgensinya halalbihalal dan saling memaafkan dalam kerangka habl min al-nas (hubungan dengan sesama manusia) dan lingkungan alam yang lebih luas. Berpijak pada dalil di atas tentu selaku mukmin yang sehat hati dan akal fikirannya pasti tidak akan pernah memelihara dendam serta merta membuang gengsi dan bersegera meminta halal dari orang yang pernah didholimi. Di antara kita yang melakukan kesalahan akan tidak menunda-nunda dalam melakukan prosesi halalbihalal. Halalbihalal artinya saling mema’afkan. Kita akan mendahului meminta maaf bila melakukan kesalahan dan mudah sekali memberi ketulusan permaafan untuk saudara-saudara kita yang memohon maaf atas kesalahan.
Dengan memohon ampun kepada Allah dan saling memaafkan di antara sesama manusia, semoga dapat menghapuskan dosa kita. Penghapusan dosa itu sendiri berdasarkan ijtihad yang saya lakukan, menurut saya maknanya bahwa kita karena ilmu dari Allah yang kita berjuang mencarinya, karena hidayah taufiq-Nya, karena doa-doa dan mujahadah kita di dalam hidup dan kehidupan ini kita senantiasa dibimbing untuk selalu berada di jalan lurus-Nya, kita selalu berada dalam tuntunan Rasul-Nya dalam menjalankan ibadah demi, untuk, dan karena Allah semata. Amal baik serta amal sholeh kita jauh melampaui amal buruk serta amal syaiyi’ah kita. Kita dihindarkan oleh Allah untuk tidak melakukan dosa-dosa besar. Kalaupun kita melakukan perbuatan dosa-dosa kecil karena kita memang manusia biasa yang tidak ma’sum kita disadarkan-Nya untuk langsung istighfar memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla dan mengubur perbuatan dosa tersebut dengan amal kebaikan yang jauh lebih besar dari dosa yang kita lakukan. Kita gampang dan dengan keikhlasan mudah sekali memaafkan dosa kesalahan sesama manusia; kita jauh dan terhindar dari penyakit iri dengki dendam. Dan apabila kita melakukan dosa kesalahan, kita dengan ketulusan bersegera, bergegas, dan tidak menunda-nunda untuk memohon maaf kepada sesama kita dengan segala konsekwensi logisnya. Begitu seterusnya, demikian selanjutnya hingga kita mampu mencapai maqom keadaan bebas ma’af. Keadaan dimana maaf tidak lagi diperlukan, karena relatif tidak kita lakukan hal-hal yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan. Jadi sebenarnya tidak terhapus dosa dan kesalahan yang kita adakan dahulu, melainkan kita berusaha tidak melakukan dosa dan kesalahan berbarengan dengan kita melakukan amal-amal kebaikan dan amal-amal kebenaran. Dan hal tersebut dengan istiqomah, dengan komitmen kita jaga dan lakukan disepanjang hayat kita.

Silaturrahim dan Persaudaraan Kebangsaan

Selaku manusia yang merupakan makhluk sosial dan sebagai warga bangsa kita harus meneguhkan komitmen kita untuk membangun silaturrahim dan akhlaq pergaulannya. Watak bangsa kita yang konon katanya sulit mengakui kesalahan dan tidak gampang memaafkan –sehingga diperlukan special timing untuk saling meminta dan memberi maaf seusai Ramadhan dan pada momentum Idul Fitri Syawal– harus kita kikis habis. Kita perkuat ukhuwwah islamiyah (silaturrahim dengan cara kaifiyah islamiyah) dan kita perkokoh ukhuwwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan). Jangan biarkan kapal besar bernama Indonesia ini retak, apalagi sampai pecah. Terlalu mahal harga dan nilainya kalau sampai silaturrahim antara warga bangsa dan persaudaraan kebangsaan kita sampai retak apalagi pecah berantakan.
Dan setelah hiruk pikuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, dimana kita sebagai warga bangsa Indonesia sempat terbelah harus kembali bersatu pada momentum hari raya Idul Fitri ini. Jika hingga detik ini masih ada amarah yang membuncah di dalam hati, segeralah untuk dibuang jauh dan ditinggalkan. Bangunkan keyakinan dalam hati bahwa caci maki, iri dengki, permusuhan, kemarahan, balas dendam, dan sejenisnya itu akan menghancurkan pilar-pilar pembangunan yang dengan susah payah kita usahategakkan dengan harta, darah, dan nyawa serta melumpuhkan perjuangan meraih cita-cita kemerdekaan. Kemauan untuk merenda silaturrahim, membangun akhlaq pergaulan, dan persaudaraan kebangsaan serta kemampuan untuk saling memaafkan merupakan aspek-aspek penting yang dapat mendukung kita dalam melaksanakan pembangunan dalam rangka mencapai cita-cita kemerdekaan dan meraih kebahagiaan. The short, momentum ber-shilat al-rahim, memperkuat hubungan dan tali kasih sayang di hari raya Idul Fitri ini jangan sampai kita lewatkan tanpa kita manfaatkan untuk ber-halalbihalal, saling menghalalkan, saling memaafkan. Sehingga, di hari Lebaran ini, lapanglah dada kita dan leburlah dosa-dosa kita. Insya Allah.
Taqabalallahu minna waminkum. selamat hari raya Idul Fitri 1435 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.
Wallaahu a'lam bish-shawab.

Sabtu, 01 Februari 2014

Tentang Kiat Mengubah Dunia

KIAT MENGUBAH DUNIA
Oleh: Cak Ngisom (@mokh_ngisom_msr)

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (Q.S. Ar-Raad : 11)

Image: https://www.facebook.com/GAwakening/photos_albums 

Berubah mulai dari diri sendiri —sudah barang tentu perubahan ke arah yang lebih benar dan baik walaupun terkadang terasa sulit untuk dijalankan. Berubah semacam itu jelas adalah tindakan yang sangat berarti dan harus kita lakukan untuk memaknai hidup dan kehidupan. Ada pelajaran yang baik dari satu tulisan mengharukan yang terpahat di atas sebuah makam di Westminster Abbey, Inggris dengan catatan tahun 1100 Masehi (Jemy V. Confindo, Wisdom in The Air – Rahasia Untuk Mengubah Dunia, LIONMAG  The Inflight Magazine of Lion Air, Edisi Januari 2014, hlm. 24 (http://lion-mag.com/rahasia-untuk-mengubah-dunia/)). 
Pesan itu sungguh mengharukan dan dapat kita jadikan bahan refleksi dan referensi untuk intropeksi serta inspirasi bagi yang berniat memberi arti dalam hidup ini. Isi pesan tersebut kurang lebih sebagai berikut:
Ketika aku masih muda dan bebas berimajinasi tanpa batas, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia, kedewasaan dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itupun kusederhanakan wawasannya, kupersempit jangkauannya; lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku saja. Tetapi tampaknya ini terlampau berat dan hasrat itupun tiada hasilnya. Ketika aku mulai memasuki usia senja, dengan semangatku yang masih tersisa dan dalam upayaku yang terakhir, aku bertekad untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Namun sayangnya, sedikitpun mereka tidak mau berubah! Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba aku menyadari: “Andaikan dahulu yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi, semangat, dorongan, dan kegigihan mereka, bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku; kemudian siapa tahu, aku pun bahkan bisa mengubah dunia!”
Thus, let’s change ourselves if we want to change the world now. Just right now. Once again, mari berubah mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil dan sederhana, dan mulailah mulai saat ini juga tanpa menunda-nunda. Begitulah harusnya diri kita apabila kita berharap keluarga, masyarakat, bangsa kita dan dunia ini berubah lebih baik. Insya Allah, Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah taufiq dan kekuatan untuk suatu niat yang baik. Aamiin.

Kamis, 08 Agustus 2013

Catatan Kecil di Momentum 'Idul Fitri Syawwal 1434 H

Syawwal, Hari Raya, 'Idul Fitri, Tradisi Lebaran, dan IlaiHi Raji'ün
Oleh: Cak Ngisom (@mokh_ngisom_msr)

“... Walitukmilü al-‘iddata wa litukabbiruLlãha ‘alã mã hadãkum wa la’allakum tasykurüna.” [QS. al-Baqarah/2: 185]
“... Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadhan) dan supaya kamu mengagungkan Allãh (dengan takbir dan tahmid) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” [QS. al-Baqarah/2: 185]

“Zayyanü a’yãdakum bittakbïra.” [HR. ath-Thabrani dari Abu Hurairah r.a.]
“Perhiasilah hari-hari raya kamu dengan takbir.” [HR. ath-Thabrani dari Abu Hurairah r.a.]

Ahlan wa sahlan syahru Syawwal, selamat ‘Idul  Fitri

 
Ilustrasi: http://rohis-facebook.blogspot.com/


Waktu dengan keistiqamahannya terus berjalan. Setelah sebulan kita berada dalam ‘madrasah’ dan ‘tarbiyyah’ Ramadhan, melaksanakan ’the real game’ (tidak sekedar ‘training’/latihan), yakni: ibadah shaum dan amaliyah ibadah lainnya, hari ini kita telah memasuki bulan Syawwal, bulan peningkatan. Taqabbalallãhu minnã wa minkum, semoga Allãh menerima amal ibadah (puasa) kita. Selamat ‘Idul Fitri, mohon ma’af lahir bathin. Selamat datang kembali di hari-hari penuh tantangan sekaligus perjuangan.  

Mengawali momentum Syawwal dan sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allãh (muraqabatuLlãh), tidak sekedar berhitung pahala, serta untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan kita, melalui tulisan ini saya mengingatkan diri saya sendiri dan kita sekalian untuk menguatkan niat melaksanakan amalan puasa sunnah mu’akkadah yakni puasa enam hari bulan Syawwal.
RasuluLlãh saw. bersabda: “Barangsiapa telah berpuasa Ramadhan (penuh) dan kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari dalam bulan Syawwal, maka (pahalanya) seperti berpuasa selama satu tahun.” [HR. Muslim]

Antara Ber-‘Idul Fitri, Berhari Raya, dan Tradisi Lebaran yang Islami

Ber-‘yaumul haflah’ atau berhari raya atau merayakan sebuah hari raya ada kemungkinan kita semua bisa melaksanakan dan mengalaminya. Akan tetapi tidak semua  kita mampu ber-‘Idul Fitri. ‘Idul Fitri adalah cara bersyukur kita kepada Allãh Subhanahu wa Ta’alã dengan mengagungkan asma-Nya dan meneguhkan keta’atan kita kepada-Nya. ‘Idul Fitri mempunyai makna kembalinya kaum muslimin kepada fitrah kemanusiaan dirinya dengan menempuh jalan berhenti atau tidak lagi melakukan perbuatan dosa, karena telah ber-taubatan nasuha dan berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi melakukan perbuatan dosa yang pernah dialami. Dan karena setelah berpuasa dengan didasari iman, ikhlas dan semata-mata mengharap ridho Allãh serta dengan penuh kesungguhan memohon ampun kepada-Nya, dosa-dosa kita pun diampuni oleh-Nya; atau dengan kata lain dengan penuh keinsyafan kita berhenti atau mengurangi secara drastis mencetak dosa sehingga berat dosanya terkalahkan seiring dengan berat kebaikan-kebaikan yang dilakukan, serta memang sudah memohon ma’af kepada semua orang yang terhadapnya seseorang pernah berbuat salah dan dosa. Jelas, untuk ber-I’dul Fitri itu sulit (siapa bilang gampang) dan butuh perjuangan. Jadi tidak semudah yang dibayangkan bahwa begitu keluar dari Ramadhan sudah serta merta kita mengalami yang namanya ‘Idul Fitri. Dalam sebuah haditsnya yang mulia Rasulullãh saw. bersabda: “Alangkah banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan haus dahaga belaka.” [HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah]

Kaitannya dengan ‘Idul Fitri, dalam merayakannya kita memiliki tradisi ‘Lebaran’, yakni tradisi ‘melebur dosa’. Sebuah tradisi yang menunjukkan kearifan karena didalamnya terdapat amalan silaturrahim dan saling mema’afkan sebagai syarat dihapuskankannya dosa antar manusia, setelah dosa terhadap Allãh diampuni oleh-Nya. Di dalamnya juga ada shodaqoh dan ikram (menghormati dan memuliakan) terhadap tamu yang bernilai ibadah. Tetapi yang sedemikian itu akan dikabulkan oleh Allãh kalau memang didasari niat yang benar, sesuai sya’riat, dan tulus ikhlas. Dan hendaknya silaturrahim dan memohon ma’af dilakukan tidak hanya dan jangan nanti menunggu hari raya ‘Idul Fitri atau ’Idul Adha.

Dan kaum muslimin memang berhak bergembira pada hari berbuka dan lebaran ini, di hari raya ‘Idul Fitri ini. Namun, sebagai orang mukmin yang kaffah dalam ber-Islam, ‘Idul Fitri kita sudah seharusnya dibingkai dalam nilai-nilai dan syari’at Islam. Harus islami. Lantas, berhari raya yang islami itu yang bagaimana?

Beberapa ciri dan cara berhari raya ‘Idul Fitri yang islami, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, tetap dalam kesederhanaan, tidak menunjukkan kemewahan dan memboros-boroskan materi dan harta. Karena hal tersebut dilarang oleh Allah swt., sebagaimana firmannya : ”... Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” [al-Isrã’/17: 26–27].
Kedua, mempererat silaturrahim dan ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan dengan cara-cara syari’at Islam), saling kunjung-mengunjungi dan tulus ikhlas mema’afkan sesama muslim. Hal ini amat dicintai oleh Allãh sebagaimana firman-Nya: “... Dan bertaqwalah kepada Allãh yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan  [peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allãh, selalu menjaga dan mengawasimu.”  [an-Nisã’/4: 1].
Dan Rasulullah saw. pun bersabda: “Barangsiapa yang ingin rizqinya diperbanyak dan umurnya diperpanjang, hendaklah ia menghubungkan silaturrahim.” [HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.].
Ketiga, menghindari segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran, apalagi hakikat ‘Idul Fitri merupakan kemenangan melawan iblis. Oleh karena itu sangat disayangkan jika suasana ‘Idul Fitri dinodai dengan hal-hal yang berbau maksiat dan kemungkaran. Dan kalau kemaksiatan dan kemungkaran ini kita biarkan berlangsung terus akan mempengaruhi nasib kita nanti dihadapan Allãh saat kita kembali kepada-Nya (Ilaihi Raji’ün).

‘Idul Fitri dan Ilaihi Raji’ün

Dengan memaknai dan menjalani ‘Idul Fitri secara islami, paling tidak seperti paparan di atas, semoga Allãh memberikan hidayah taufiq kepada kita kembali dan senantiasa lurus berada di jalan-Nya. Dan memang sesungguhnya segala sesuatu termasuk kita ini milik Allãh dan hanya kepada-Nya segala sesuatu akan kembali (Innã liLlãhi wa innã ilaiHi roji'ün) [al-Baqarah/2: 156]. Untuk kembali keharibaan Allãh swt. dan diterima oleh-Nya kita harus dalam keadaan fitrah atau suci, bersih dari kesyirikan dan kotoran-kotoran/najis hati serta noda dosa [QS. as-Syu’ara/26: 88–89 dan ash-Shaffat/37: 84]. Dan orang-orang mukmin yang masih belum suci, belum bersih, masih ada najis hati atau masih berdosa dan belum kembali kepada kesucian (‘Idul Fitri) ketika masih diberi kesempatan hidup di dunia fana ini; maka sebelum diterima kembali oleh Allãh di akhirat kelak, akan disucikan di dalam neraka terlebih dahulu [Ighatsah al-Lahfan, hlm. 5–6].

Mestinya dengan ‘Idul Fitri kita bisa mulai memikirkaan, merenungkan, dan menentukan sikap langkah hidup kita menjadi langkah-langkah menuju Allãh, satu-satunya Dzat tempat kita kembali.

Oleh karena itu, harus kita menyadari bahwa kita harus senantiasa menjaga kefitrian kita dengan cara mengistiqomahkan (menjaga dan teguh melestarikan) kebaikan dan amal sholih yang kita lakukan pada bulan Ramadhan dan Syawwal dalam kehidupan kita pada bulan-bulan lain di sepanjang hayat kita. Spirit Ramadhan dan Syawwal harus kita bawa dan mewarnai pula pada waktu di bulan-bulan berikutnya.

Bertitik tolak dari sikap semacam itu, mulai bulan Syawwal yang artinya peningkatan inilah kita memulai hidup baru dengan kehidupan yang lebih islami, kehidupan sesuai syari’at Islam, kehidupan yang diridhoi oleh Allãh ‘Azza wa Jallã.

Dan mari kita kembali bergiat dalam amal-amal shalih seraya memanjatkan do’a: semoga Allãh Subhanahu wa Ta’alã berkenan menerima amal ibadah kita dan masih mentaqdirkan kita untuk dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya. Ãmïn, ãmïn ya Rabb al ‘alamïn.

Wallãhu a’lam bish shawab.