Halaman

Kamis, 18 Mei 2017

Naskah Sambutan dari Perwakilan Peserta Didik Kelas 7 dan 8 dalam rangka Pisah Kenang Peserta Didik Kelas IX UPTD SMP Negeri 2 Kunjang Tahun Pelajaran 2016/2017



Segala puji hanya bagi Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, Rabb yang menguasai alam semesta. Kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan, dan meminta ampunan. Kita berlindung kepada-Nya dari keburukan-keburukan jiwa kita, dan kejelekan-kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allâh, niscaya tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk padanya. Saya bersaksi bahwa tiada illah yang haq untuk diibadahi melainkan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan rasul-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan atas beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta ummat yang setia meniti jalannya hingga hari kiamat.
Amma ba’du,

Kepada para ‘alim ‘ulama’, tokoh masyarakat, tokoh pendidik, dan tokoh pemuda yang kami hormati;
Kepada Bapak dan Ibu Muspika Kecamatan Kunjang yang kami hormati;
Kepada Bapak Kepala Desa Kuwik yang kami hormati;
Kepada Kepala UPTD SD dan Kepala MI di Kecamatan Kunjang yang kami hormati;
Yang kami hormati Bapak Marsito, S.Pd., selaku Kepala UPTD SMP Negeri 2 Kunjang;
Yang kami hormati Bapak dan Ibu Pengurus Komite SMP Negeri 2 Kunjang;
Yang kami hormati, segenap Dewan Guru dan Staff Tata Usaha serta para karyawan UPTD SMP Negeri 2 Kunjang;
Yang kami hormati, seluruh orangtua dan wali murid Kelas IX;
Dan, semua tamu undangan yang kami hormati pula.
Serta yang tak dapat kami lupakan, sahabat-sahabat saya peserta didik kelas VII dan VIII serta khususnya kakak-kakak kami peserta didik kelas IX yang sama-sama kita cintai dan banggakan.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara hadirin semua yang berbahagia dan in sya'a Allâh dimuliakan Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ,

Dalam kesempatan, tempat, dan kegiatan yang baik ini izinkanlah saya berdiri di sini, mewakili sahabat-sahabat kami peserta didik kelas VII dan VIII untuk menyampaikan sambutan.
Dan sambutan kami ini kali, kami beri judul: “BERANI MELAKUKAN USAHA YANG BESAR UNTUK MIMPI YANG BESAR.”


Mendahului sambutan kami, kami bacakan satu kalimah hikmah dari Ibnu Atha’illah al-Iskandari, sebagai berikut:

”Jika kau ingin dibukakan pintu asa, lihatlah karunia-Nya kepadamu. Namun, jika kau ingin dibukakan pintu takut, lihatlah amal yang kau persembahkan untuk-Nya.”

Bapak dan Ibu, sahabat-sahabat kelas VII dan VIII, kakak-kakakku peserta didik kelas IX serta seluruh hadirin yang dirahmati Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ,

        Dalam waktu yang tidak lama lagi, in sya’a Allâh, masa-masa belajar menuntut ilmu kakak-kakak kelas IX di SMP Negeri 2 Kunjang akan segera sampai pada penghujung masa-masa studi. Itu artinya sebentar lagi kakak-kakak akan meninggalkan almamater yang sama-sama kita cintai ini. Dan nantinya, tidak seperti hari-hari sebelumnya, kami adik-adikmu ini akan sangat jarang bertemu, bercanda, saling mencurahkan isi hati, saling mengisi dan memberi, melakukan berbagai kegiatan, mengembangkan potensi diri, berdiskusi, belajar, dan aktivitas-aktivitas lainnya bersama-sama kakak-kakakku kelas IX yang adik-adikmu cintai. Oleh karenanya, saya mewakili adik-adikmu yang masih berjihad menimba ilmu di kelas VII dan VIII bermaksud menyampaikan ucapan selamat, permohonan ma’af, ucapan terima kasih, curahan isi hati, kesan dan pesan, serta do’a dan harapan.

Bapak dan Ibu, sahabat-sahabat kelas VII dan VIII, kakak-kakakku peserta didik kelas IX serta seluruh hadirin yang dimuliakan Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ,

        Saya mewakili peserta didik kelas VII dan VIII sebenarnya berat untuk menyampaikan kata sambutan pisah kenang untuk kakak kelas IX, sebab kakak-kakak kelas IX yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri, sebentar lagi akan meninggalkan kami semua dan sekolah ini. Namun bagaimana lagi, keadaan yang bergulir ini sudah merupakan ‘sunatullah’ tahapan yang musti kita jalani dan lalui sebagai proses pembelajaran dari jenjang ke jenjang sepanjang hidup kita sebagai upaya dalam mewujudkan cita-cita besar kita dalam bingkai dan gelembung kehidupan.
        Kakak-kakak kami kelas IX SMP Negeri 2 Kunjang yang kami banggakan, pada kesempatan yang penuh berkah ini adik-adikmu ingin mengungkapkan apresiasi dan mengucapkan selamat. Kami sebagai adik kelas dari kakak-kakak bermaksud memberikan penghargaan atas berbagai-bagai prestasi yang telah ditorehkan oleh sebagian dari kakak-kakak bagi sekolah kita yang tercinta ini. Semoga kami adik-adikmu dapat mempertahankan bahkan mudah-mudahan mampu meningkatkannya. Dan, kami akan berusaha meneruskan perjuangan kakak-kakak demi kemajuan, kejayaan, dan kemuliaan SMP Negeri 2 Kunjang tercinta. Kami juga ingin mengucapkan selamat dan sukses bahwa dengan kinerja belajar dan etos menuntut ilmu yang penuh komitmen dan integritas serta usaha ikhlas, cerdas, dan keras, dengan kesadaran dan kesabaran, penuh tanggung jawab, dengan kejujuran, amanah, dengan senang dan tenang dalam proses belajar dan ujian, in sya’a Allâh, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ menganugerahkan hasil yang terbaik, mumtaz, dan lulus dengan penuh keberkahan, serta ilmunya sarat manfa’at. Dan selanjutnya kami do’akan kakak-kakak semua dapat diterima di jenjang sekolah lebih tinggi yang diidam-idamkan sebagai jembatan menggapai impian berikutnya dan selanjutnya.
        Kakak-kakakku yang kami kasihi dan sayangi, selama kita bersama-sama menjalani proses pembelajaran dan pendidikan di SMP Negeri 2 Kunjang tercinta ini, sebagai insan lemah tempat salah dan lupa, disengaja ataupun tidak disengaja, baik dhohir maupun batin, kita pernah, kadang bahkan sering kita saling melakukan kekhilafan, kesalahan, dan dosa. Karena itu di kesempatan yang ditaburi rahmat maghfirah ini, saya atas nama adik-adikmu kelas VII dan VIII dengan tulus memohon ma’af dan berharap diberikan ma’af. Marilah kita saling berma’afan, saling mema’afkan, sehingga Allâh berkenan menghapuskan kesalahan dan dosa-dosa kita. Dan, akhirnya jiwa kita menjadi lega dan jalan kita terasa lapang.
     
        Kakak-kakak kelas IX yang saya cintai dan saya banggakan, saya mewakili kelas VII dan VIII tidak lupa mengucapkan terima kasih atas inspirasi, motivasi, kerja samanya, sumbang sarannya, bimbingan dan bantuan yang selama ini telah kakak-kakak berikan kepada kami. Ketulusan kakak in sya’a Allâh akan bermanfaat kelak. Saya tidak dapat membalas apa-apa, melainkan permohon atau do’a kepada Allâh mudah-mudahan apa yang telah kakak lakukan dan berikan itu merupakan amal kebaikan dan semoga di balas oleh Allâh dengan kebaikan yang lebih besar lagi. Âmïn.

Bapak dan Ibu, sahabat-sahabat kelas VII dan VIII, kakak-kakakku peserta didik kelas IX serta seluruh hadirin yang berbahagia,

        Kakak-kakakku tercinta, mohon ma’af, sebagai sebentuk rasa sayangku kepada kakak-kakak, perbolehkanlah kami menitipkan sedikit kesan dan pesan kepadamu.
        Untuk kata perpisahan, rasanya memberat hati saya untuk mengucapkannya. Sungguh, kali ini tidak diperlukan kata selamat berpisah atau selamat tinggal, meskipun pada kenyataannya terkadang perpisahan tidak mampu kita elakkan. Karena meskipun secara jasad mungkin kita akan berpisah namun bukankah hati-hati kita masih tetap bisa menyatu. Walau raga terpisah, jiwa akan selalu bersama dalam untaian do’a. Pun, tak usah pisah ini membuat sepasang mata kita menjadi basah. Ini sudah menjadi hukum alam. Jadikan pisah ini, pisah yang indah. Perpisahan ini bukan untuk bercerai-berai tetapi untuk menghadirkan kerinduan. Mari senantiasa kita jaga harmoni ikatan persahabatan dan persaudaraan kita sepanjang masa.
        Janganlah kakak-kakak sampai melupakan guru-guru terkasih kita bagaimanapun keadaannya. Janganlah lupakan jasa-jasanya. Dan, sesungguhnya, apapun bentuknya yang diberikan kepada kita niatnya mencintai, mengasihi, dan menyayangi kita semata. Hanya terkadang akal kita dangkal dan hati kita sempit untuk memahaminya. Ingat, guru merupakan perwujudan cinta kasih sayang yang mampu menembus ruang dan waktu. 
        Dan setelah kakak-kakak meninggalkan sekolah ini, semoga kakak-kakakku tidak bakal melupakan kami adik-adik kelasmu serta almamater kita tercinta. Kalian bukan berarti telah sepenuhnya meninggalkan sekolah kita semua. Ingatlah, sekolah kita bukanlah tempat tebar pesona dan menampilkan gaya, bukan ajang bermain-main, bukan ruang tempat bermalas-malasan, bersenda gurau, kongkow-kongkow, dan berpacaran, juga bukan tempat memamerkan kekayaan duniawi orangtua kita, bukan hanya wadah untuk mengisi lembaran-lembaran biru setiap semesternya. Sekolah kita adalah lembaga terhormat untuk melahirkan generasi anak bangsa berakhlaq mulia, berpendidikan, medan untuk berjuang, mendalami ilmu pengetahuan dalam bingkai iman dan taqwa. Di hidup kalian bukan lagi bekas, bukan lagi kenangan, tetapi sekolah di sini merupakan riwayat hidup yang kalian harus ambil pelajaran dan dijadikan bekal merebut masa depan gilang-gemilang. Berdo’alah selalu bagi kejayaan dan dan kemuliaannya.

        Berikutnya, saya mencoba menjadi penyambung lidah untuk mengantarkan pesan dari para ‘alim, orangtua, dan guru kita. Begini pesan itu bagi kita semua: Nanti sebagai murid dan alumni, bagaikan spora yang menyebar kemana-mana, maka berhati-hatilah, beradab dan berakhlaqlah yang karimah, benar, lurus, dan indah serta selalu jagalah keharuman nama dan citra baik sekolah kita di manapun saja kakak-kakak berada. Tetapkanlah hati dan pikiran kakak dalam kejujuran dan kebenaran, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang sukses dan berhasil di masa depan. Lantas, hormatilah, hargailah, berbaktilah kepada orangtua dan guru-guru kita dan buatlah perasaan dan hati mereka tersenyum bahagia serta berusahalah mendapatkan keridhoannya. Hati-hati, kalau sampai beliau tidak ridho, urusannya bukan saja dengan mereka. Urusannya sudah dengan Allâh 'Azza wa Jallâ, dengan para malaikat dan aparat-Nya. Kalau orangtua dan guru tidak ridho, Allâh pun tidak akan pernah ridho, dan pasti kita mendapat murka-Nya. Sungguh, nasib kita dunia akhirat juga sangat ditentukan oleh apakah kita membuat bahagia atau sakit hati orangtua dan guru-guru kita. Sekali lagi, tanpa doa dan ridha mereka, ridha Allâh pun akan jauh dari setiap langkah di jalan kebaikan kehidupan kita.
        Kakak-kakak kami kelas IX yang kami cintai dan banggakan, di akhir sambutan ini, kami adik-adikmu ingin menyampaikan harapan dan do’a. Setiap waktu harus kita jadikan momentum bagi kita untuk melangkah menuju tangga-tangga berikutnya demi kesuksesan yang lebih baik dan lebih berkah lagi kedepannnya. Adik-adikmu berharap, tetaplah, teruslah bersemangat, berjuang, dan berbahagia menempuh jalan menuntut ilmu. Jalan menuntut ilmu adalah jalan cahaya. Besarkan usahamu dengan sunguh-sungguh, agar cita-cita besarmu itu dapat kau rengkuh. Jangan pernah mengeluh. Keluhan merupakan benalu yang menjadi perangkap penyebab kita tidak dapat melangkah maju. Tembus batas yang membatasi dan dobrak tembok-tembok penghalang menuju pencapaian cita-citamu. Bersungguh-sungguhlah disetiap usahamu. Man jadda wajada. Barangsiapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Bersabarlah dalam berjuang. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung. Dan, kesabaran menjadi energi besar meraih keberhasilan. Libatkanlah Allâh di dalam setiap langkah usahamu dan selalu iringi do’a-do’a kepada-Nya. Lâ haula wal quwwata ill billhil ‘aliyyil ‘adhïm. Anugerah yang masih menjadi rahasia akan diulurkan-Nya; mimpi dan cita-cita akan mampu kita tembus dan termewahkan berkat keistiqomahan usaha dan ketulusan berdo’a.
        Akhirnya, selamat jalan dan selamat berjuang kakak-kakakku. Semoga, kelak, kakak-kakak menjadi manusia seutuhnya. Mampu memahat peradaban dan membawa manfa’at dengan keberadaan yang ada. Ridholah dengan kehendak taqdir-Nya. In sya’a Allâh berakhir sukses, bahagia, mulia, mendapatkan ridho dan cinta, kasih, sayang-Nya.
        Demikian sambutan yang dapat saya sampaikan, apabila ada tutur kata dan perilaku yang kurang berkenan, segala kesalahan dan khilaf dalam menyampaikan sambutan ini mohon dimaafkan. Mudah-mudahan dapat mendatangkan manfa’at kepada kita semua. Dan in sya’a Allâh silaturrahim kita ini ditaburi keberkahan dan Allâh 'Azza wa Jallâ meridhoi niat dan langkah kita. Âmïn, âmïn ya Rabb al ‘alamïn….

Akhirrul kalam, billâhittaufiq wal hidayah wa ridho wal inayah, üshikum wa nafsiy bitaqwallâh.



Rabu, 11 Mei 2016

Ibu Guru Siti Rahmani Rauf, Penulis Buku Belajar Membaca dan Menulis “Ini Budi” Tutup Usia

Obituari: Ibu Guru Siti Rahmani Rauf, Penulis Buku Belajar Membaca dan Menulis 'Ini Budi' Tutup Usia

Photo: http://wijayalabs.com/

Innâ liLlâhi wainnâ ilaiHi râji’ün.... do’a dan duka cita atas kepergian Ibu Guru Hj. Siti Rahmani Rauf. –ghafaraLlâhu lahu wa rahimah–, Penulis sekaligus ilustrator buku pelajaran wajib bahasa Indonesia khususnya kelas 1 s.d 3 SD pada kurun waktu tahun 70’an hingga 90’an, yakni buku ‘Belajar Membaca dan Menulis dengan System Analisa Sintesa (SAS) metode 'Ini Budi, ini ibu Budi ini bapak Budi, ini Wati, Wati kakak Budi' yang sangat fenomenal dan melegenda. Beliau wafat Selasa, 10 Mei 2016 pukul 21.20 WIB dalam usia 97 tahun di kediamannya di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Walau kini Sang Pendidik Siti Rahmani Rauf, pendidik tiga zaman itu telah tiada, jasa beliau dalam turut mencerdaskan anak-anak bangsa tak akan dapat dilupakan. Berkat buku beliau yang mengenalkan bacaan yang amat apik untuk anak Indonesia jutaan anak-anak Indonesia belajar dengan metode membaca dan menulis yang lebih mudah. Meskipun sedikit saja orang yang tahu dan menghargai kontribusi beliau bagi dunia pendidikan Indonesia selama puluhan tahun lamanya namun sejarah tetap akan mencatat dengan tinta emasnya dalam-dalam.

Ilustrasi: http://www.penjualbuku.com/ 

Buku ini digunakan sebagai pegangan belajar membaca di tingkat SD era tahun 1970-an hingga 1900-an. Tak dipungkiri jika kala itu, buku belajar membaca dan menulis 'Ini Budi' begitu melegenda. Hingga kini bila mendengar nama ‘Budi’ orang yang masa-masa SD-nya di kurun tahun tersebut akan teringat dengan buku pelajaran bahasa Indonesia 'ini budi' karangan Allâhyarham Siti Rahmani Rauf. Buku fenomenal yang beliau susun tersebut, kala itu sangat digemari oleh para guru dan murid-murid. Budi sebagai tokoh sentral dalam buku bacaan itu, saat itu mampu menghipnotis para murid untuk rajin belajar dan membaca tanpa bimbingan les tambahan dan dibawah pengawasan orangtua. Dengan wasilah (perantara) buku karya beliau dan tentu dengan kesabaran mendidik guru-guru kita yang hebat, kita jutaan anak bangsa -bi idznillah- telah terbebas dari buta aksara dan tercerahkan wawasan kita. Semua yang belajar membaca dan menulis frase "ini budi" sungguh berhutang budi pada beliau. Semoga karya dan jasamu itu merupakan ilmu yang bermafa’at dan menjadi amal jariyah. Semoga Allâh membalas kebaikan beliau dengan sebaik-baik balasan. Dan, in sya’a Allâh, setiap benih kebaikan yang beliau semai dan tanam menjadi akar yang kuat bagi kehidupan selanjutnya.

Allâhummaghfir lahâ warhamhâ wa'âfihâ wa'fu 'anhâ wa akrim nuzülahâ wawasai' madkhalahâ waj'alil jannata matswâhâ. In sya’a Allâh, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ menerima amal-amal sholih beliau dan mengampuni dosa kesalahan beliau; semoga almarhum wafat dalam keadaan husnul khotimah dan ditempatkan dalam al jannah serta dimuliakan di sisi-Nya.. Âmïn, âmïn ya Rabb al ‘alamïn....

Selasa, 11 Agustus 2015

Mewujudkan Kerukunan

Uraian Amanat Pembina Upacara Bendera hari Senin, 10 Agustus 2015

Assalâmu'alaykum warahmatuLlâhi wabarakâtuh,

InnalhamdaliLlâh nahmaduhu wanasta’ïnuhu wanastaghfiruh wana’uudzu biLlâhi min syuruuri anfusinâ wa min sayyiâti a’mâlinâ man yahdiLlâhu falâ mudhilla lahu wa man yudhlil falâ hâdiya lahu, wa asyhadu anlâ ilâha illaLlâh wahdahu lâ syarïka lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluuhu, ammâ ba’du.

Mengawali amanat saya dalam upacara bendera hari Senin ini kali, marilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ atas rahmat dan berkah yang dicurahlimpahkan kepada kita semua.

Shalawat dan salam, marilah kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat, serta para pengikut-pengikut beliau hingga akhir zaman.

Rabbisy rahli shadrï wayassirly amrï wahlul 'uqdatam millisânïyafqahuu qauly.

Yang terhormat Bapak Kepala SMP Negeri 2 Kunjang, Bapak Sunaryo, S.Pd., M.Pd., yang terhormat Wakil Kepala Sekolah dan Staf, yang terhormat Ibu dan Bapak Guru, yang terhormat Tenaga Kependidikan (Tata Usaha beserta Staf), Yang terhormat para Karyawan, serta anak-anak didik kami sekalian yang saya hormati, hargai, cintai, kasihi, dan sayangi.

P
ada kesempatan yang baik ini, saya diberi mandat sebagai pembina upacara dan mendapat bagian menyampaikan materi amanat pembina upacara dengan tajuk: “Mewujudkan Kerukunan”.



Tetapi, sebelum saya memaparkan uraian tentang bagaimana menjadikan wujud kerukunan benar-benar ada; baiklah, mari kita evaluasi jalannya pelaksanaan upacara sejauh ini.
Pelaksanaan Upacara Bendera pada setiap hari Senin hendaknya jangan hanya sebagai seremonial belaka dan rutinitas yang kurang bermakna. Tapi marilah setiap kegiatan upacara kita gunakan sebagai wahana memupuk jiwa patriotisme dan kedisiplinan. Seluruh petugas upacara dan segenap peserta hendaknya menjalankannya dengan bahagia, sepenuh hati, sungguh-sungguh, hikmad dan tertib. Sehingga upacara dapat berdampak pada peningkatan kualitas ruhiyyah, fikriyyah, dan jasmaniah kita sekalian. Jalani proses mempersiapkan diri dengan baik. Siapa yang naik panggung tanpa persiapan yang baik, bersiaplah menanggung rasa malu ketika turun panggung.

Segenap civitas akademika dan stake holder SMP Negeri 2 Kunjang tercinta yang dimuliakan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, sekarang, izinkanlah orang bodoh yang tak kunjung pintar ini berbicara. Perkenankanlah hamba berlumuran dosa yang taubatnya masih sebatas wacana ini berkaca. Mohon ikhlas, mohon bersabar. Sehingga kita dianugerahi ilmu Allâh dan masuk dalam file akal fikiran dan hati kita dengan baik dan berujung pada pemahaman dan pengamalan.

A‘uudzu biLlâhi minasy-syaythânirrajïm, bismiLlâhirrahmânirrahïm,

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allâh ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sungguh, Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (Q.S. al-Hujurât [49]: 13)

Tidaklah seseorang di antara kalian dikatakan beriman, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Pendahuluan

Kemajemukan masyarakat di Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Sudah merupakan sunatuLlâh. Ia telah menjadi bagian yang telah terintegrasi sejak mula bersamaan dengan lahirnya bangsa ini. Kemajemukan yang ada harus dikelola dengan baik. Jikalau tidak, kemajemukan ini akan menjadi kontra-produktif. Kemajemukan memang seperti pisau bermata dua. Dia bisa menjadi sesuatu yang mendukung berkembangnya masyarakat, tetapi juga bisa menghambat. Mendukung ketika kemajemukan itu menjadi kekuatan supportif untuk mendukung berbagai-bagai cita-cita masyarakat; dan menghambat bila kemajemukan malah menjadi sumber konflik primordial yang menghabiskan energi hanya untuk mengatasinya.

Kebhinnekaan, sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia sudah menjadi kesadaran kolektif the founding fathers bangsa ini. Karenanya mereka membingkai keberagaman masyarakat dan bangsa majemuk ini dengan Pancasila dan UUD 1945. Kehidupan masyarakat yang hiterogen memberikan warna dalam beraktivitas bagi manusia yang ditakdirkan Allâh sebagai makhluk sosial. Kehidupan diisi oleh banyak manusia yang memiliki berbagai karakter, pemikiran, pendapat, pandangan, sifat, visi dan misi. Individu satu dengan yang lain tidak lah sama. Tidak bisa dipungkiri, kehidupan hiterogen telah menghiasi kehidupan di masyarakat. Oleh karena itu, kehidupan yang majemuk tersebut akan mempengaruhi aspek sosial dalam hal kerukunan. Kerukunan tersebut akan sangat mempengaruhi aspek sosial. Manakala kerukunan  terjalin dengan baik maka kesatuan dan persatuan akan tercipta. Sebaliknya, manakala masyarakat tidak menjalin kerukunan, maka akan menyebabkan perselisihan, pertengkaran, pertentangan, dan kerusuhan antar sesama di suatu wilayah tertentu. Thus, kerukunan dapat dikatakan sebagai suatu situasi atau kondisi dimana kenyamanan, ketentraman, kedamaian yang tercipta dalam aktivitas kontak interaksi sosial.

Pengertian Kerukunan

Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dasar kerukunan adalah rukun yang artinya baik dan damai, hubungan persahabatan, bersatu hati, bersepakat, tidak saling berselisih, dan tidak bertengkar.

“Rukun” dari bahasa Arab “ruknun” artinya asas-asas atau dasar, seperti rukun Islam. Rukun iman dalam arti adjektiva adalah baik atau damai. Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”. Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 2015: 850). Bila pemaknaan tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia.

Kerukunan adalah adanya perasaan bersatu, sependapat, sekepentingan, sepenanggungan, sepertujuan, sevisi, seperjuangan yang dibingkai dalam ikatan persaudaraan, persahabatan, kesetiakawanan, saling menghargai, saling menghormati dan saling menyayangi/mencintai, menyejahterakan, menyelamatkan serta menjauhi permusuhan, menghindari perselisihan, meninggalkan pertengkaran.Kerukunan dapat dinyatakan dengan istilah “tasamuh” atau toleransi. Dan yang di maksud dengan toleransi ialah kerukunan sosial kemasyarakatan, bukan dalam bidang aqidah (keimanan), karena aqidah telah digariskan secara jelas dan tegas dalam ad-dien.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kerukunan antar sesama di masyarakat adalah asas-asas atau dasar yang dijadikan untuk menciptakan suasana damai, tenteram, harmonis dalam masyarakat yang dilandasi sikap toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaram agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.

Kembali Kepada “Toleransi”

Menyikapi perbedaan-perbedaan, hiterogenitas, multikultural, dan kemajemukan atau kebhinnekaan yang ada nyata di masyarakat, kita bisa menerapkan teori toleransi dengan pendekatannya. Dengan pendekatan “toleransi” yang sudah dipraktikkan selama ratusan tahun sepanjang sejarah kemasyarakatan manusia bahwa kerukunan di dalam masyarakat dan kohesi sosial dapat diwujudkan dengan baik tanpa kecurigaan dari pihak manapun. Dengan toleransi tersebut diharapkan terwujud ketenangan, saling menghormati dan saling menghargai. Hal itu akan mewujudkan perikehidupan yang rukun, tertib dan damai, sehingga dengan keadaan yang demikian itu dapat terlaksana pembangunan masyarakat dan bangsa.

Urgensi Kerukunan

Kerukunan merupakan perhimpunan yang damai atau persatuan yang menumbuhkan sikap saling menghargai dalam komunitas yang beragam atau masyarakat yang berbeda-beda. Ciri kerukunan adalah hidup damai tanpa konflik. Ibaratnya seperti es campur yang bahannya berbeda (gula, air, santan, es, alpukat, kelapa muda, nangka, melon, semangka, sawo, nanas, susu, coklat, puding, rumput laut, cincau, dlsb.) namun menciptakan cita rasa yang nikmat.

Persatuan dan kerukunan umat merupakan pilar awal dan pondasi hakiki terjalinnya ukhuwah (persaudaraan) dalam masyarakat. Dengan kata lain tanpa adanya persatuan dan kerukunan dalam masyarakat, akan sulit terwujudnya suatu masyarakat yang berukhuwwah. Tanpa ukhuwwah kita tidak dapat mengolah dan mengubah daulah yang berkah.

Kerukunan dan persatuan merupakan aspek penting dalam membangun kehidupan. Termasuk dalam membangun, mengembangkan dan memajukan pendidikan, pengajaran, kebudayaan dan persekolahan dengan segala aspek dan kompleksitasnya.

Memperkukuh persatuan dan kerukunan menjadi syarat mutlak untuk mencapai cita-cita mulia dan visi yang tinggi. Ia menjadi inti dari kedamaian, ketentraman, kenyamanan, dan keharmonisan dalam masyarakat yang memudahkan kita untuk bekerja mengais rezeki, belajar menuntut ilmu, mengamalkan ajaran agama, melaksanakan pembangunan, dan lain sebagaianya. Menimbulkan ketentraman dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Menjadi pilar utama untuk memberdayakan potensi dan membangun masyarakat ke arah yang lebih maju dan berperadaban. Menjadi tolak ukur solidaritas kemanusiaan yang akan mengantarkan ke arah keadilan sosial dan kesejehteraan bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Memiliki dampak bagi terciptanya masyarakat yang beradab dan sebagai sarana mendapat rahmat Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ. Di titik-titik simpul inilah letak betapa sangat pentingnya kerukunan.

Sikap dan Usaha untuk Mewujudkan Kerukunan

Untuk mewujudkan pranata sosial kemasyarakatan yang dinuansai kerukunan, kita dapat mengambil sikap dan melakukan usaha serta berkomitmen dengan penuh integritas untuk tidak melakukan perbuatan yang menjadi sumber penyebab runtuhnya persatuan dan kerukunan, antara lain dengan tindakan nyata, sebagai berikut:

a.   Benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran agama secara menyeluruh dengan baik dan benar; jangan berperilaku yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama;
b.   Saling cinta, kasih, dan sayang antar sesama dengan tulus ikhlas, sesuai hukum Allâh dan karena Allâh;
c.   Adanya cita-cita bersama untuk mengembangkan semangat kerukunan dan persatuan kebangsaan yang sama;
d.   Kita harus menjadi manusia yang bersaudara dan harus mengukuhkan persaudaraan, tidak boleh menganiaya dan menyakiti sesamanya, tidak berdusta, tidak melecehkan dan menghinakannya;
e.    Tidak mendholimi satu sama lain;
f.     Tidak saling merusak dan mengganggu;
g.    Tidak berbuat curang;
h.    Tidak saling memperolok-olok orang lain baik laki-laki maupun perempuan;
i.     Tidak mencaci orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan;
j.     Tidak memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang tidak disukai;
k.    Tidak menggunjing, ghibah, dan memfitnah;
l.   Tidak merendahkan harga diri kehormatan orang lain, (merendahkan harga diri dan kehormatan orang lain sama dengan meninggikan kehormatan dan harga diri orang yang direndahkan dan memerosotkan kehormatan dan harga diri orang yang merendahkan kehormatan dan harga diri orang lain itu sendiri);
m.   Saling hormat menghormati, menjaga harta, jiwa dan raganya;
n.    Saling pengertian dan haga menghargai serta mempererat silaturrahim;
o.    Dibutuhkan komunikasi dan dialog yang baik, toleransi dan tenggang rasa;
p.  Selalu menjaga nama baik saudaranya, tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain (Lihatlah kelebihan saudara kita dan koreksi kesalahan diri sendiri);
q.  Gotong royong atau tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong untuk berbuat dosa dan pelanggaran;
r.    Bersikap ikhlas bila membantu orang yang membutuhkan;
s.   Mengamalkan sikap saling peduli, solidaritas dan kesetiakawanan sosial;
t.    Mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab, bersikap arif dan bijak, serta keadilan sosial;
u.  Selalu bertutur kata yang santun, baik, benar, dan bermanfa’at serta menghindari perkataan yang kotor dan melukai hati orang lain;
v.  Menebarkan senyuman, salam, sapa, sopan, santun karena hal tersebut termasuk sedekah dan ibadah serta dapat melembutkan hati dan menyenangkan orang lain;
w.  Menjadikan segala perbedaan warna kulit dan keturunan serta ras dan suku bangsa untuk saling ta’aruf, mengadakan hubungan timbal balik secara baik;
x.    Tidak membeda-bedakan pergaulan atas dasar status sosial ekonomi, pangkat jabatan, akan tetapi bergaul dengan orang yang sholih dan bertaqwa, memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, luas, dan dalam;
y.  Tidak suka berburuk sangka atau menuduh orang lain karena akan menimbulkan perasaan sakit hati. Akan tetapi apabila terjadi sebaliknya terhadap diri kita, maka ma’afkanlah dan do’akan agar mereka menyadari kesalahannya;
z.    Jangan menghasut atau menjadi provokator dan mengadu domba yang menimbulkan kebencian dan permusuhan;
aa.  Tidak suka membuka aib orang lain dan selalu berusaha mendamaikan pertengkaran dan persengketaan;
bb. Tidak boleh berprasangka buruk, saling curiga mencurigai, harus selalu ditumbuh kembangkan sikap bertabayyun dan husnuddhan;
cc. Mencari dan sepakat dalam persamaan serta menghargai dan menghormati setiap perbedaan;
dd.  Dan lain sebagainya.

Penutup

Masyarakat kita memiliki keunikan dan keberagamannya tersendiri di dalam membangun, memelihara, membina, mempertahankan, dan memberdayakan kerukunannya. Upaya-upaya berkaitan dengan kerukunan tersebut merupakan sebuah proses tahap demi tahap yang harus dilalui secara seksama agar perwujudan kerukuanan benar-benar dapat tercapai. Di samping itu, ia juga merupakan upaya terus-menerus tanpa henti dan hasilnya tidak diperoleh secara instan.

Dan seandainya kondisi ideal kerukunan tersebut sudah tercapai bukan berarti sudah tidak diperlukan lagi upaya untuk memelihara dan mempertahankannya. Justru harus ditingkatkan kewaspadaan agar pihak-pihak yang secara sengaja ingin merusak keharmonisan kerukunan hidup. Karena itu kerukunan umat beragama sangat tergantung dan erat kaitannya dengan stabilitas ketahanan dan kondisi dinamis masyarakat.

Perlunya diperkuat empat pilar pokok yang sudah disepakati bersama berserta pengamalannya oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai nilai-nilai perekat bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat nilai tersebut merupakan kristalisasi nilai-nilai yang digali dari budaya asli bangsa Indonesia. Kerukunan dan keharmonisan hidup seluruh masyarakat akan senantiasa terpelihara dan terjamin selama nilai-nilai tersebut dipegang teguh secara konsekwen oleh masing-masing warga negara.

Perdamaian dan kerukunan yang didambakan, bukankah yang bersifat semu, tetapi yang memberi rasa aman pada jiwa setiap insan. Karena itu, langkah pertama yang dilakukannya adalah mewujudkannya dalam jiwa setiap pribadi. Setelah itu ia melangkah kepada unit terkecil dalam masyarakat yakni keluarga. Dari sini ia beralih ke masyarakat luas, seterusnya kepada seluruh bangsa di permukaan bumi ini, dan dengan demikian dapat tercipta perdamaian dunia, dan dapat terwujud hubungan harmonis serta toleransi dengan semua pihak.

Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah; Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh; Friendship, brotherhood, tolerance, peace, and love. Satu musuh sudah terlalu banyak, sejuta sahabat masih kurang. Dan, hidup rukun itu indah.

Rasanya
Belum terlalu lamaTernyata sudah 70 tahun kita dinyatakan merdeka(Ingin rasanya bertanya kepada kita semua)
Sudahkan kita benar-benar merdeka?
Ingin rasanya aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang menggema perkasa: Merdeka!

Wallâhu a’lamu bi al-shawwâb,
Alhaqqu min rabbika falatakuunanna mina almumtariina.


Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga ada bermanfa’at dan berkah.

Billahi fii sabilil haq, fastabiqul khairat,
Wallahul muwafiq Ila aqwamith thoriq,
Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalâmu'alaykum warahmatuLlâhi wabarakâtuh.