Halaman

Minggu, 28 November 2021

PGRI DAN PERAN STRATEGIS MEMBANGUN GENERASI GEMILANG 2045 DI ERA MERDEKA BELAJAR


PGRI DAN PERAN STRATEGIS MEMBANGUN GENERASI GEMILANG 2045 DI ERA MERDEKA BELAJAR

Oeh: Mokh. Ngisom Musurur
(Guru UPTD SMP Negeri 2 Kunjang – PGRI Cabang Kecamatan Kunjang)



Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional 25 November merupakan momentum mengevaluasi peran strategis PGRI. Dalam melakukan evaluasi, PGRI, organisasi profesi, perjuangan, dan ketenagakerjaan tempat berhimpunnya segenap guru dan tenaga kependidikan lainnya (AD ART PGRI, 2019) bisa merujuk pada Pembukaan UUD 1945, UUD 1945 Pasal 31, UU No. 20 Tahun 2003, UU No. 14 Tahun 2005. Di dalamnya menjelaskan amanat konstitusional mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Bagaimana pun PGRI bersama guru adalah ujung tombak dalam mewujudkannya. Tetapi jalan dan prosesnya tidaklah mudah. Sarat permasalahan dan penuh tantangan seiring arus disrupsi teknologi dan inovasi serta gelombang perubahan zaman yang cepat, mengejutkan sekaligus memberikan peluang.

Permasalahan, tantangan dan apa yang harus diperjuangkan

Dengan memperhatikan tujuan pendidikan yang digariskan dalam konstitusi kita serta memperhatikan kenyataan empiris di bangsa kita, maka akan terdiagnosis adanya banyak masalah di bidang pendidikan bangsa ini. Ada gap (jurang pemisah) menganga di antara keduanya. Ini artinya terdapat permasalahan sekaligus tantangan yang membutuhkan perjuangan untuk menyelesaikannya.

Persoalan mendasar yang perlu dievaluasi dan dijadikan bahan refleksi salah satunya adalah sudahkah PGRI bersama guru benar-benar berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Seturut dengan itu, apakah PGRI bersama guru juga sudah nyata-nyata berjuang dengan sungguh-sungguh mewujudkan tujuan pendidikan, yakni: memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia. Fenomena yang teramati di lembaga-lembaga pendidikan kita, usaha meningkatkan iman, takwa, serta akhlak mulia masih lebih sekedar visi misi yang dalam implementasinya kurang kesungguhan dan kegigihan dalam mewujudkannya. Pendidikan kita orientasinya masih lebih menekankan bidang akademik atau ranah kognitif dan psikomotorik serta terjebak dalam urusan formalitas administratif belaka. Di lain sisi, telah terjadi kemerosotan akhlak pada bangsa kita, termasuk di kalangan pelajar atau peserta didik kita. Sedangkan persoalan akhlak dan adab mulia sangatlah penting karena ia menjadi pengantar sekaligus kunci meraih keberkahan ilmu (Imam Az-Zarnuji, 2020: 40). Dalam Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita (2020: 265), Fatih Madini mengemukakan bahwa realitasnya, iman, taqwa, dan akhlak mulai tidak lagi dijadikan tolak ukur dan standar kelulusan di setiap jenjang pendidikan.

Permasalahan lain di dunia pendidikan kita yang membutuhkan peran perjuangan PGRI dalam mencari solusinya antara lain adalah: kebiasaan mark-up atau katrol nilai. Borok di tubuh pendidikan yang bertajuk ‘katrol nilai’ ini kalau tidak segera dihentikan akan berdampak pada penurunan kualitas output dan outcome pendidikan kita.

Belum lagi masalah rendahnya kualitas SDM Indonesia sebagai hasil proses pendidikan. Beberapa lembaga survei internasional masih menempatkan kualitas pendidikan Indonesia di urutan bawah. Di dalam opini Emil Salim Tantangan Pendidikan Bangsa di Kompas (28/5/2021) dituliskan hasil penilaian Programme for International Students Assessment (PISA) yang menilai “kemampuan literasi membaca, matematika dan sains” yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. Selain itu, penilaian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) sebagai penilai internasional untuk pengetahuan matematika dan sains yang dilakukan oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan. Dalam kedua penilaian tersebut dari 79 negara yang dinilai, Indonesia masih berada di kelompok lima negara terbawah. Krisis pendidikan yang dialami Indonesia kini, makin diperparah oleh krisis akibat Pandemi Covid-19. Hal ini dikhawatirkan menyebabkan learning loss atau hilangnya pengetahuan dan keterampilan atau terjadinya kemunduran proses akademik karena faktor tertentu.

Yang juga menjadi masalah pelik pendidikan kita, yaitu: gaji guru honorer ‘murni’ di semua jenjang dan satuan pendidikan dari TK dan RA s.d. SMK dan MAK yang masih jauh dari layak, rencana pemungutan pajak pertambahan nilai (PPN) dari lembaga pendidikan yang kontra dengan amanat konstitusi dan pasti membebani masyarakat terutama warga miskin. Kemudian persoalan tidak lagi diangkatnya guru dalam skema ASN/PNS melainkan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ada lagi masalah pendidik atau guru yang belum sepenuhnya memahami substansi kurikulum dan penerapannya.

Selain itu, permasalahan yang harus diperhatikan serius pula oleh PGRI bersama guru adalah masalah penyalahgunaan ‘gadget’, narkoba, terpaparnya pornografi dan pornoaksi oleh peserta didik kita, serta pergaulan bebas berkedok ‘pacaran’ yang dilakukan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa; LGBT, useless dan hate speech di media sosial, tawuran antar pelajar, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya.

Masalah krusial tersebut di atas kalau tidak segera diupayakan jalan keluar yang tepat akan berdampak buruk bagi kecerdasan spiritual, sosial, emosional, serta intelektual, serta masa depan generasi kita. Apalagi jangan sampai terjadi lost generation yang sama-sama kita tidak inginkan. Oleh karena itu menurut penulis, sebagai langkah solutif, PGRI bersama guru dengan semangat merdeka belajar harus memperjuangkan dilakukannya reformasi sistem pendidikan berdasarkan konstitusi dan berbasis akhlak mulia untuk membangun generasi gemilang. Payung hukumnya sudah ada. Tinggal membutuhkan kebijakan, good will dan political will untuk bebar-benar mengamalkan secara nyata.

Era Merdeka Belajar dan Harapan Menuju Generasi Gemilang 2045

Pada tahun 2045 nanti, kemerdekaan bangsa Indonesia akan memasuki usia kemerdekaan 100 tahun. Para elite bangsa Indonesia harus memiliki kepemimpinan dan blue print atau grand design bagaimana Indonesia menjadi bangsa yang berkemajuan dan berperadaban luhur. Di era merdeka belajar kini, PGRI bersama para guru yang memiliki peran strategis dan bersinergi dengan seluruh stakeholder pendidikan mesti bergerak, berjuang memberi solusi bagi permasalahan pendidikan yang ada.

Dengan spirit merdeka belajar dan komitmen tinggi mempersiapkan generasi Indonesia 2045 di mana populasi usia produktif yang melimpah harus menjadi bonus demografi bukan bencana demografi. Kita semua dengan segala daya upaya berharap lahirnya generasi gemilang sebagai hadiah ulang tahun satu abad kemerdekaan Indonesia pada 2045 nanti dapat terwujud. Menjadi generasi emas jangan generasi cemas, generasi berprestasi bukan generasi frustasi. Generasi gemilang, tidak generasi pecundang.

Melalui reformasi sistem pendidikan yang benar serta peran PGRI dan para guru yang sholih, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, inovatif, belajar merdeka, dan memiliki spirit merdeka belajar serta ikhlas mengabdi untuk bangsanya akan sangat memberi kontribusi dan menjadi kunci mewujudkan generasi gemilang 2045. Generasi yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Generasi berprofil Pancasila dan berwawasan kebangsaan.
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dengan perjuangan serta doa, kita yakin bisa mewujudkannya.
Selamat HUT ke-76 PGRI dan Hari Guru Nasional 2021.
Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan.
Bangkit Guruku, Maju Negeriku.
Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Hidup Guru!, Hidup PGRI!, Solidaritas! Yes!

Senin, 30 Agustus 2021

Contoh Naskah Dialog dan Video Penugasan KD 4.1 (Kompetensi Keterampilan): Asking for and Giving Suggestion

The second assignment of Basic Competence 4.1
(Skills Competency): Writing a dialogue manuscript and making video in line with the topic "Asking for and giving suggestions"

Name                      :   Mokh. Ngisom Musurur and Kholisatul Adhiyah
School                     :   UPTD SMP Negeri 2 Kunjang
Grade                      :   VIII-I
Presence Number   :   17 and 27

A.  The Manuscript of Dialogue

Title : Asking for and giving suggestion when we are sleepy

Ngisom    :   Assalamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh. Good morning, Bu Adhiyah.

Adhiyah   :   Wa'alaykumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh. Good morning, Pak Ngisom. //
Please come in and sit down, Pak Ngisom.

Ngisom   :   Thank you, Bu Adhiyah. //
Anyway, how are thing with you?

Adhiyah   :   Just fine, thanks.

Ngisom    :   Um..., Bu Adhiyah, you look so tired. Did you get enough sleep last night?

Adhiyah   :   Not really; I only slept for four hours last night because I was staying up all night doing my homework. I’m so sleepy now. Do you know what I should do to not get sleepy when doing Work from Home?

Ngisom    :   According to me, you should try drinking a lot of water. I heard that it helps because it gives you the oxygen so you won’t get sleepy. On the other hand, you should take ablution water. You should also sit in a place where the air is fresh. That way, you won’t be able to sleep when you are Working from Home. 

Adhiyah   :   I think I will do your suggestions. Thank you for your suggestions. 

Ngisom   :   By the way, the purpose of my coming here is to bring back the book that I have borrowed two weeks ago. I will return this book. Here you are.

Adhiyah   :   All right, thank you. Hopefully, this book will be useful.

Ngisom    :   You're welcome. Allah willing. //
             Em..., I'm sorry, I have to go to school right now for joining Webinar via zoom meeting. 

Adhiyah   :   It's okay. Be careful, please.  

Ngisom   :   Alright, see you again then.

Adhiyah   :   See you later.

Ngisom   :   Good morning and assalamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Adhiyah   :   Good morning and wa'alaykumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.


Translation into Indonesian:

Ngisom    :   Semoga Allah melimpahkan keselamatan dan rahmat serta keberkahan-Nya untukmu. Selamat pagi, Bu Adhiyah.

Adhiyah   :   Dan, semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepadamu. Selamat pagi, Pak Ngisom. //
Silakan masuk dan duduk, Pak Ngisom.

Ngisom   :   Terima kasih, Bu Adhiyah. //
Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Anda?

Adhiyah   :   Baik-baik saja, terima kasih.

Ngisom    :   Em..., Bu Adhiyah, Anda kelihatan lelah sekali. Apakah Anda cukup tidur semalam?

Adhiyah   :   Tidak juga; saya hanya tidur selama empat jam semalam karena saya lembur mengerjakan tugas. Saya sangat mengantuk sekarang. Apakah Anda tahu apa yang sebaiknya saya lakukan untuk tidak mengantuk ketika melaksanakan Bekerja dari Rumah?

Ngisom    :   Menurut saya, Anda sebaiknya mencoba meminum banyak air. Saya dengar itu membantu karena memberikan oksigen agar Anda tidak mengantuk. Disamping itu, Anda seharusnya mengambil air wudhu. Anda juga sebaiknya duduk di tempat yang udaranya segar. Dengan begitu, Anda tidak akan mengantuk ketika Anda melaksanakan Bekerja dari Rumah.

Adhiyah    :   Saya pikir saya akan melakukan saran Anda. Terima kasih atas saran Anda.

Ngisom   :   Ngomong-ngomong, kedatangan saya ke sini ini bermaksud untuk mengembalikan buku yang telah saya pinjam dua minggu yang lalu. Ini bukunya saya kembalikan.

Adhiyah   :   Baik, terima kasih. Semoga bukunya memberikan manfa'at.

Ngisom   :   Terima kasih. Semoga Allah mengizinkan. //
Em..., mohon ma'af, saya harus pergi ke sekolah sekarang untuk mengikuti Webinar melalui zoom meeting.

Adhiyah    :   Iya, baik. Tolong hati-hati, ya.

Ngisom   :   Baik, sampai ketemu lagi nanti.

Adhiyah   :   Sampai berjumpa kembali nanti.

Ngisom   :   Selamat pagi dan semoga Allah melimpahkan keselamatan dan rahmat serta keberkahan-Nya untukmu.

Adhiyah    :   Selamat pagi dan semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepadamu.

B.  The Video of Dialogue

Title : Asking for and giving suggestion when we are sleepy


Selasa, 05 November 2019



DESCHOOLING vs DEISLAMISASI

Oleh: Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D MRINA (Guru Besar ITS dan Tokoh Pendidikan)




Semoga Pak Nadiem Makarim tidak benar-benar merusak ketenteraman beragama dan pendidikan RI, tidak melakukan sekularisasi dan deislamisasi pendidikan yang menyebabkan Indonesia menjadi negara sekuler, menjauhi nilai-nilai agama dan terjajah.

The rise of Nadim Makariem sebagai Mendikbud merupakan proyek sekulerisasi sebagai deislamisasi Indonesia tahap akhir. Melalui kepemimpinan baru Kemendikbud ini, dan UU Pesantren yang baru disahkan, syarat-syarat budaya bagi sebuah bangsa sekuler dan terjajah akan dilakukan secara terstruktur, sistemik dan masif. Setelah sistem persekolahan massal dijadikan instrumen teknokratik bagi masyarakat industri sekuler sejak Orde Baru, proses deislamisasi itu semakin memperoleh kekuatan dan momentumnya di bawah rezim ini. Sekulerisasi adalah deislamisasi karena dirancang untuk menjauhkan Islam dari kehidupan ekonomi dan politik untuk memfasilitasi penjajahan nekolimik.

Namun sesungguhnya sejak 1970an itu juga, Ivan Illich, seorang pastor khatolik di Mexico, justru menganjurkan deschooling. Illich yang pernah berkunjung ke pesantren Pabelan di Magelang, melihat konsep deschooling dalam praktek di lingkungan pedesaan Jawa. Anjuran deschooling itu oleh Illich mungkin memang bukan untuk mencegah deislamisasi, namun untuk mencegah pendunguan massal dalam rangka pembentukan masyarakat industri yang sekuler. Illich berhasil membedakan antara persekolahan dan pendidikan, serta melihat bahwa persekolahan justru merusak pendidikan. Pada saat elite Indonesia masih menilai radikalisme sebagai ancaman bagi investasi, di tangan Makariem, sistem persekolahan paksa massal ini tidak saja menjadi instrumen teknokratik menyiapkan masyarakat industri, tapi sekaligus instrumen deradikalisasi sebagai proxy deislamisasi.

Sudah sejak 10 tahun lalu, saya menganjurkan agar komunitas pendidikan mulai memikirkan kembali deschooling: mengurangi dominasi persekolahan dalam sistem pendidikan dengan memberi tugas-tugas pendidikan yang lebih besar pada keluarga sebagai satuan pendidikan yang sah, dan juga pada masyarakat, terutama masjid bagi komunitas muslim. Di samping persekolahan makin terbukti tidak efektif, pendidikan bagi semua hanya mungkin oleh semua. Pendidikan tidak mungkin dilaksanakan secara efektif dengan memperbesar persekolahan. Bahkan Ki Hadjar Dewantara menegaskan tri sentra pendidikan: keluarga, masyarakat, dan perguruan.

Perlu dicermati bahwa persekolahan diciptakan semula untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil sejak revolusi industri sekitar 200 tahun silam. Saat gereja Anglikan Inggris dan Katholik Roma bersikap ambiguous terhadap keluarga, maka memang pendidikan di Barat sangat mengandalkan persekolahan bagi regenerasi nilai-nilai Barat yang sekuler. Lalu sejarah menyaksikan secara lambat tapi pasti lembaga keluarga di Barat mengalami degradasi yang sangat serius. Bahkan saat ini pernikahan sesama jenis, dan LGBT sudah dinyatakan legal di banyak negara Barat.

Dalam konteks keluarga itulah kita mesti mencermati bahwa menyerahkan tugas-tugas pendidikan hanya pada persekolahan akan memperlemah keluarga dan masjid. Masjid bertugas melengkapi pendidikan dalam keluarga. Persekolahan boleh diberi tugas yang bersifat melengkapi seperti memberikan kecakapan-kecakapan teknis. Bagi muslim, pembentukan adab dan akhlaq hanya bisa dilakukan secara efektif di rumah dan di masjid.

Perlu dipahami bahwa keluarga, masjid dan pesantren, adalah benteng terakhir Islam di Indonesia. Persekolahan adalah ancaman laten bagi ketiga lembaga ini. Namun segera perlu dicatat bahwa sejak lama kantong-kantong Islam adalah kantong-kantong perlawanan terhadap penjajahan. Pembukaan dan UUD 1945 yang asli adalah rumusan perlawanan muslim menghadapi penjajahan itu. Penjajah tahu bahwa agar penjajahan baru nekolimik bisa berlangsung, instrumen penjajahan harus diubah wajahnya agar nampak lebih bersahabat dan mulia: persekolahan, bukan tank, bedil dan mesiu.

Oleh karena itulah ummat Islam Indonesia perlu segera meninggalkan paradigma schooling ini, lalu mengambil paradigma learning (belajar). Bagi ummat Islam, pendidikan tidak boleh lagi diwujudkan dalam pembesaran persekolahan hingga ke pesantren-pesantren, tapi justru mengurangi persekolahan dengan memperluas kesempatan belajar di rumah dan di masyarakat, terutama di masjid-masjid dengan kurikulum yang mandiri dengan lebih mengutamakan relevansi personal dan spasial/lokal, bukan mutu global mbelgedhes.

Gunung Anyar, 24/10/2019


Jumat, 31 Agustus 2018

Persembahan lagu dari Ebiet G. Ade (1)


Di Sudut Rumah-Mu - Ebiet G Ade


Berikut ini video dan lirik lagu Di Sudut Rumah-Mu dari Ebiet G Ade.
Selamat menikmati. Semoga menghikmahi dan menginspirasi kita semua.


Disudut rumah-Mu aku bersujud
Seusai berkeliling tujuh putaran
Tubuhku aku pasrahkan
Jiwaku aku ikhlaskan

Di Multazam aku rentangkan do’a
Memohon ampun dari timbunan dosa
Sujudku aku rekatkan
Airmataku tak tertahankan
Dan aku tumpahkan

Di sini,
aku merasa lkecil dan tak berarti
Ya Robbi tunjukkan
Kemana langkah mesti kubawa

Di sini,
aku merasa tak berdaya
Menunggu uluran tangan-Mu
Melepaskan aku dari kesombongan dan takabur

Tibalah saat aku harus pamit
Kukecup Hajar Aswad dengan hidmat
Dalam do’aku semoga seluruh ummat
Datang bersujud ke haribaan-Mu
Dan atas panggilan-Mu

Di sini,
aku merasa lkecil dan tak berarti
Ya Robbi tunjukkan
Kemana langkah mesti kubawa

Disini.
aku merasa tak berdaya
Menunggu uluran tangan-Mu
Melepaskan aku dari kesombongan dan takabur

Melepaskan aku dari kesombongan dan takabur


Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far atau lebih dikenal dengan nama Ebiet G. Ade (lahir di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954; umur 61 tahun) adalah seorang penyanyi dan penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam, duka derita kelompok tersisih, dan religi. Lewat lagu-lagunya yang ber-genre balada, pada awal kariernya, ia memotret suasana kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu Surat dari Desa yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Video lagu di-download dari: https://www.youtube.com/watch?v=K9sd-URD6ys


Minggu, 15 Juli 2018

Ingin Semakin Produktif?

INGIN SEMAKIN PRODUKTIF?


Usai liburan biasanya enggan untuk memulai pekerjaan. Dalam ilmu Fisika disebut dengan Hukum Kelembaman (Inersia), seseorang yang menikmati liburan cenderung ingin melanjutkan kenikmatan tersebut dan memerlukan energi yang besar untuk memulai yang baru. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bersemangat melakukan sesuatu dan menjadikan kita semakin produktif.

Salah satu cara yang sekarang sedang saya coba adalah Metode Ive Lee. Metode ini berawal dari seorang pengusaha baja dan perkapalan, Charles M Schwab. Lelaki yang pernah dijuluki “master hustler” oleh Thomas Alfa Edison karena terus-menerus ingin menjadi yang lebih unggul dalam setiap kompetisi ini merupakan orang terkaya pada tahun 1918.

Suatu hari, Schwab berusaha untuk meningkatkan efisiensi kerja timnya dengan meminta bantuan konsultan produktivitas pada saat itu, namanya Ive Lee. Lelaki terkaya ini membawa Ive Lee ke kantornya dan berkata “Tunjukan ke saya cara untuk menyelesaikan lebih banyak hal”. Sang konsultan menjawab “beri saya waktu 15 menit untuk ngobrol dengan semua eksekutifmu.”
“Berapa saya harus membayar?” Schwab bertanya. “Tidak perlu membayar, kecuali kalo nanti berhasil. Setelah 3 bulan, Anda bisa kirim saya cek dengan nilai yang menurut Anda sesuai dan layak”, jawab Ive Lee”.

Setelah tiga bulan, Schwab sangat senang dengan kemajuan yang telah dicapai oleh timnya di perusahaan miliknya. Lalu dia menghubungi Lee dan mengundangnya untuk datang ke kantor untuk menuliskan cek sebesar $25.000 (Cek senilai USD 25.000 yang ditulis pada tahun 1918 nilainya sama dengan cek yang bernilai kurang lebih USD 400.000). Apabila dirupiahkan setara dengan 5,6 milyar. Wow, kerja ringan selama 3 bulan menghasilkan milyaran.

Mengapa saya sebut kerja ringan? Karena yang dilakukan Ive Lee hanya empat langkah sederhana. Pertama, setiap kali kita menyelesaikan seluruh pekerjaan kita, di sore hari tulislah enam hal yang paling penting untuk diselesaikan besok. Tidak boleh lebih dari enam hal.

Kedua, buatlah skala prioritas dari keenam hal tersebut di atas. Ketiga, keesokan harinya kerjakan dulu tugas pertama hingga tuntas sebelum berpindah ke pekerjaan nomor dua, demikian seterusnya. Keempat, sore harinya buat lagi daftar enam hal penting yang dikerjakan keesokan harinya. Apabila ada pekerjaan yang belum tuntas masukan pekerjaan tersebut ke dalam daftar 6 hal tersebut. Lakukan terus menerus secara konsisten.

Orang terkaya di zamannya saja percaya dengan metode yang terlihat sederhana ini dan bersedia membayar mahal karena hasil yang didapatkan, sehingga sepertinya metode ini sangat layak kita coba. Mau? Saya pun sedang mempraktekkannya.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer

Kamis, 18 Mei 2017

Naskah Sambutan dari Perwakilan Peserta Didik Kelas 9 dalam rangka Pisah Kenang Peserta Didik Kelas IX UPTD SMP Negeri 2 Kunjang Tahun Pelajaran 2016/2017



Alhamdulillâhi rabbil ‘alamïn. Hanya kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ sajalah kita haturkan segala puji. Tiada putus-putusnya wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allâh 'Azza wa Jallâ, karena betapa maha besar cinta kasih sayang-Nya, atas taufiq dan hidayah-Nya, atas segala limpahan rahmat dan nikmat, kesehatan dan kesempatan, serta semua anugerah dan karunia-Nya yang tiada terhingga yang senantiasa menyertai perjalanan hidup kita tanpa jeda.
        Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada manusia pilihan, Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pimpinan, suri tauladan, dan Rasul yang diutus untuk menyempurnakan akhlaq, juga kepada keluarga dan para sahabat, serta kepada ummat beliau yang istiqomah di jalan Allâh dan Rasul-Nya hingga hari kiamat.
Amma ba’du,

Yang kami hormati, para ‘alim ‘ulama’, tokoh masyarakat, tokoh pendidik, dan tokoh pemuda;
Yang kami hormati, Bapak dan Ibu Muspika Kecamatan Kunjang;
Yang kami hormati, Bapak Kepala Desa Kuwik;
Yang kami hormati, Kepala UPTD SD dan Kepala MI di Kecamatan Kunjang;
Kepada Bapak Marsito, S.Pd., selaku Kepala UPTD SMP Negeri 2 Kunjang yang kami hormati;
Kepada Bapak dan Ibu Pengurus Komite SMP Negeri 2 Kunjang yang kami hormati;
Kepada segenap Bapak dan Ibu Guru, Staff Tata Usaha, beserta karyawan UPTD SMP Negeri 2 Kunjang yang kami hormati;
Kepada seluruh orangtua dan wali murid Kelas IX yang kami hormati;
Kepada semua tamu undangan yang kami hormati pula;
Serta yang tak dapat kami lupakan, adik-adik kami peserta didik kelas VII dan VIII serta sahabat-sahabat seperjuangan kami peserta didik kelas IX yang sama-sama kita cintai dan banggakan.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara hadirin semua yang berbahagia dan in sya'a Allâh dirahmati Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ,

Pada kesempatan, tempat, dan kegiatan yang baik ini, perkenankanlah saya berdiri di sini, mewakili sahabat-sahabat seperjuangan kami para peserta didik kelas IX untuk menyampaikan sambutan.
Dan sambutan kami kali ini, kami beri tajuk: “PERJALANAN PENDEK UNTUK CITA-CITA YANG PANJANG.”


Mengawali sambutan kami, kami bacakan satu ayat dari firman Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dalam Kitab Suci Al-Qur’an yang artinya:

“Janganlah kamu bersikap lemah (rendah diri), dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah itu sebenarnya orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 139)

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara hadirin semua yang berbahagia dan in sya'a Allâh dimuliakan Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ,

        Perjalanan waktu (time travel) bergerak begitu cepat, dan kini kami berada di hari, di mana, kami, berkat rahmat dan pertolongan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, serta didikan, asuhan, bimbingan, dukungan, usaha dan do’a segenap dewan guru dan orangtua kami, kami dapat menyelesaikan satu tahapan penting dalam perjalanan hidup kami, belajar di lembaga pendidikan formal. Selama 3 (tiga) tahun sudah, kami menimba ilmu di sini, di SMP Negeri 2 Kunjang tercinta, selama itu pulalah telah terjalin ikatan batin yang sehingga kami semua merasa sebagai putra puteri Bapak dan Ibu Guru sendiri. Begitu banyak ilmu pengetahuan, keterampilan, pelajaran dan pengalaman yang telah kami dapatkan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun tersebut. Perjalanan kami di SMP Negeri 2 Kunjang ini adalah mata rantai terpenting dari seluruh episode perjalanan hidup kami kemarin, kini, dan masa mendatang. Ia adalah tangga dalam perjalanan mewujudkan visi, obsesi, asa, dan cita-cita kami di dunia dan di akhirat. Kami yakin bahwa semua yang telah kami pelajari dan dapatkan selama menuntut ilmu di SMP yang mempunyai visi “Membangun Anak Bangsa yang Beriman dan Bertaqwa, Berbudaya, Berprestasi, Cinta Alam dan Lingkungan” ini, bermanfaat bagi kehidupan kami pada khususnya dan kehidupan masyarakat banyak pada umumnya.
        Dan kini, masa studi kami di sini akan segera bertemu penghujungnya. Saya selaku perwakilan sahabat-sahabat kami kelas IX, mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga dari hati kami yang tulus kepada seluruh Bapak dan Ibu guru kami terkasih, tersayang, dan tercinta, yang dengan ikhlas, sabar, telah mendedikasikan tenaga, pikiran, waktu, dan tanpa mengenal lelah dalam mendidik, mengajar, mengasuh, mengasah, membimbing, dan memberi nasihat dan hikmah kepada kami. Yang dengan penuh cinta kasih sayang telah bekerja keras dalam upaya bersama menjadikan kami anak-anak yang sholih sholihah, berakhlaq, berilmu, cerdas, dan terampil.
        Pada kesempatan yang bertaburan rahmat ini pula, meskipun kami belum mampu membuat engkau bangga dan bahagia, dari dalam qalbu, kami anak-anakmu menghaturkan ungkapan terima kasih kepada orangtua kami terkasih, tersayang, dan tercinta. Engkau selalu memberikan kasih sayang, berqurban dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada kami hingga kami menjadi anak-anakmu yang seperti sekarang ini, menjadi lebih baik dan lebih dewasa dari hari-hari kemarin.
        Betapa cinta kasih sayang tulus orangtua dan guru-guru kita kepada kita adalah hutang yang tak pernah mereka tagih, tetapi juga tak pernah bisa kita sanggup melunasinya. Kami yakin, kasih sayang dan semua ilmu bermanfa’at yang engkau berikan kepada kami menjadi amal jariyah. In sya’a Allâh, cinta kasih sayang dan pengorbananmu tercatat sebagai amal sholih di hadapan Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ. Dan kami do’akan orangtua dan guru-guru kami dianugerahi kesehatan dan keafi’atan, diberikan rizqi melimpah dan barakah, dikaruniai umur panjang penuh manfa’at, istiqomah dalam iman, islam, dan ihsan yang kokoh dan kukuh, serta senantiasa dalam lindungan Allâh 'Azza wa Jallâ.  

Bapak dan Ibu Guru dan juga orangtua kami tercinta, sahabat-sahabat kelas IX seperjuangan, adik-adik kami kelas VII dan kelas VIII serta hadirin yang berbahagia,

        Dalam kesempatan yang baik ini, kami atas nama perwakilan kelas IX menghaturkan permohonan ma’af yang sebesar-besarnya atas dosa-dosa, semua kesalahan, kekhilafan, kenakalan, kebengalan, kerewelan, yang pernah kami perbuat selama kami bersekolah di sini, dan karena tingkah laku kami yang menjengkelkan dan membuat hati perasaan Bapak dan Ibu Guru tidak berkenan dan terkadang membuat engkau marah karena kasih sayang kepada kami. Saya yakin, dengan ketulusan hati, Bapak dan Ibu Guru pasti membukakan pintu ma’af yang selebar-lebarnya bagi kami.
        Permohonan ma’af juga kami sampaikan kepada adik-adik kami kelas VIII dan VIII. Selama menjalani proses belajar di sekolah kita ini, kakak-kakakmu kerap melakukan kesalahan, kekhilafan, dan dosa. Kami kadang mengganggu, merusak kenyamanan, berbuat yang menyakiti hati dan perasaan, dan belum dapat memberi contoh yang baik bagi kalian semua. Maka pada kesempatan ini kakak-kakakmu sungguh-sungguh minta ma’af. Dan saya percaya adik-adikku semua dengan hati lapang sudi mema’afkannya.  

Teruntuk sahabat-sahabatku tercinta seangkatan dan seperjuangan,

        Izinkan saya mengekspresikan segumpal perasaan kita bersama. Sahabat-sahabatku, kebanyakan dari kita sudah berkawan dan bersahabat akrab sebelum dan saat bersekolah di sini. Alangkah indah dan bahagianya apabila pertemanan dan persahabatan yang telah kita jalin selama ini dapat bertahan sepanjang hayat dan bertahta selamanya; dan seakan tak tergantikan dan tak lekang oleh berjalannya waktu. Semua peristiwa yang kita alami di sekolah ini, dengan segala suka duka, sedih bahagia, gelap dan terang, indah dan muram, dinamika dan romantika, dapat kita petik hikmahnya dan getarnya akan selalu mengingatkan kita pada sekolah kita tercinta ini.
        Saya sisipkan secuil himbauan kepada kita semua. Jelang dan saat kelulusan nanti, janganlah selembar jilbab, kemeja, rok dan celana seragam kehormatan, simbol kaum berpendidikan dan saksi perjuangan kita itu kita hinakan dan kotori dengan coret-moret spidol dan pilok warna-warni. Kalau itu kita lakukan, di mana akal dan hati kita. Jangan sampai kita melakukan perilaku orang gila. Meskipun telah kusam dan usang, jangan sia-siakan. Hargai dia, hormati dia, biarkan dia tetap bersih, rapi, bersahaja, dan berwibawa. Bila engkau masih sayang simpanlah ia sebagai prasasti sejarah perjuangan dan indahnya kenangan. Tetapi jikalau engkau enggan, baiknya sumbangkan saja baju kebesaran kita itu kepada yang berhak dan mau menerimanya.
Setelah lulus, dari perjalanan kita yang pendek ini, kita pastikan diri kita selalu istiqomah beribadah, giat bekerja dan tekun belajar untuk menggapai cita-cita kita yang panjang. Dan di manapun kita bertebaran nanti, jangan lupakan guru-guru kita dan jasa-jasanya. Ingatlah selalu almamater kita. Setiap kenangan berharga yang telah kita alami, kita ukir selama bersekolah di sini, kenanglah, kenangkanlah. Semayamkanlah setiap kenangan indah itu di sisi hati terdalam kita semua. Dan, jadikan, kemarin adalah kenangan hari ini, dan esok adalah mimpi hari ini.
        Berbicara tentang kenangan..., sahabat-sahabat dan adik-adik kami  kelas VII dan VIII yang kami cintai; sebelum kita terlambat menyadari bahwa waktu tak dapat diputar kembali, dan sebelum kita menyesal karena telah menyia-nyiakan anugerah waktu dan kesempatan yang Allâh berikan. Maka buatlah kenangan indah sebanyak-banyaknya. Ukirlah sejarah indah dengan karya dan prestasi yang dapat kita wujudkan. Mari belajar dan berbakti. Mari kita katakan kepada guru-guru dan orangtua kita bahwa kita sangat mencintainya.  Mari kita bertekad untuk mewujudkan mimpi dan visi kita dan mari kita buat guru-guru dan orangtua kita tersenyum bahagia. Seiring berjalannya waktu, hanya kenangan berharga yang selalu tercatat dalam bingkai kenangan indah.
        Khusus buat adik-adik kami kelas VII dan VIII yang kami sayangi, teriring do’a kami semoga adik-adik dapat menjadi murid yang lebih baik dan berprestasi dari kami. Tak lupa untuk adik-adikku tersayang, kakak berpesan, ukiran-ukiran indah yang telah kakak-kakak pahatkan, buatlah ukiran itu lebih indah dan lebih indah lagi. Apabila ada ukiran-ukiran yang kurang indah atau ukiran yang rusak kalau bisa perbaharuilah, kalau tidak bisa buanglah dan jadikanlah itu sebuah pelajaran. Mari kita saling menghargai dan menyayangi sesama, menghormati dan berbakti kepada orangtua dan guru-guru kita. Ingat, ridho Allâh terletak pada ridhonya jua.
        Sahabat-sahabat seangkatan beserta adik-adik kami seperjuangan yang saya sayangi dan banggakan, perjalanan kita belum berakhir, perjalanan kita masih sangatlah panjang. Bahkan kita baru mulai berangkat; kita baru mulai melangkah. Kita harus bersabar dalam setiap langkah menggapai masa depan yang cerah. Kita tidak boleh pernah menyerah dan mudah puas atas apa yang telah kita dapatkan. Kita tidak harus menjadi yang nomor satu, tetapi kita tidak boleh kalah. Pantang kita menyerah dan berputus asa. Kita harus terus berjuang mengejar cita-cita dan membanggakan orang-orang yang kita cintai, guru-guru dan orangtua kita. Kita harus menjadi generasi emas. Kita wajib menjadi anak-anak yang bermanfa’at bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara.

Bapak dan Ibu Guru dan juga orangtua kami tercinta, sahabat-sahabat kelas IX seperjuangan, adik-adik kami kelas VII dan kelas VIII serta hadirin yang baik hati.

        Pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Tetapi lukisan kenangan dan getaran perasaan bisa bersemayam begitu lama dan tak terlupakan. Dan, kami harus menempuh perjalanan menuju terminal dan tujuan selanjutnya. The last but not least, kami pamit dan mohon dukungan serta do’a restu dari hadirin semuanya, khususnya dari para orangtua dan guru-guru kami untuk mengiringi langkah perjuangan kami dalam menuntut ilmu selanjutnya, dalam meraih mimpi dan menggapai cita-cita kami, serta supaya kami kuat dalam menaklukkan tahun-tahun penuh tantangan bert ke depan.
        Demikian sambutan dari kami, mewakili sahabat-sahabat kami kelas IX. Terima kasih atas segala perhatian dari semuanya dan mohon maaf atas segala kekurangan serta apabila ada salah-salah kata dan hal-hal yang membuat tidak berkenan
Salam penuh do'a dan cinta dari murid-murid dan anak-anakmu semua.
Akhirrul kalam, billâhittaufiq wal hidayah wa ridho wal inayah, billâhi fï sabilil haq, fastabiqul khairat,